Beranda
Jumat, 13 Maret 2009

BELAJAR DARI PEMULUNG SAMPAH

0 komentar

Oleh: Aminuddin Imam Muhayi. Email:amienuddin@telkom.net

Pagi buta, ia sudah siap dengan keranjang besar di punggungnya, tongkat penjepit dan magnet bundar di ujungnya. Ia datangi satu demi satu tong sampah di setiap rumah. Ia korek-korek, kadang ia mendapati botol plastik, kadang ia dapati kaleng bekas minuman bersoda, kadang ia dapati kardus dan Koran. Ia mulai memisahkan berdasarkan jenisnya.

Menjelang siang hari keranjang besar itu sudah penuh dengan sampah beraneka jenis. Ia datangi pengepul, ditukarnya sekeranjang sampah itu dengan beberapa lembar uang ribuan setelah sebelumnya ditimbang berdasarkan jenisnya. Pemulung memang mendapatkan uang tidak sebesar yang kita dapatkan, tapi ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Pertama, Bergegaslah dan jangan Malas!.

Kantuk adalah tanda kehidupan, tapi manakala kantuk itu menjadi alasan utama yang membuat kita berhenti beraktivitas wajib, maka itu adalah tanda "kematian". Kita harus mengalahkan kantuk dan kemalasan setiap hari. Bahkan Rasulullah mengajari kita untuk berlindung dari kelemahan dan kemalasan. Setiap hari pemulung harus berpacu dengan tukang sampah, ketika ia terlambat beberapa saat saja, ia akan kehilangan sampah yang seharusnya bisa pungut. Walau hanya dibalut dengan baju atau kaos lusuh plus celana seadanya, ia harus bergegas sembari bersusah payah membelalakkan kedua matanya untuk mengusir kantuk yang mendera. Ia akhirnya setiap hari berhasil mengalahkan kemalasan, sikap lemah dan berhasil menjemput rizkinya di balik tong-tong sampah. Bagaiman dengan kita?

Kedua, sambut pagi!.

Memulai aktifitas dari pagi hari. Rasulullah pernah besabda:

بورك أمتي في بكورهم, artinya: "Umat ku diberkahi pada pagi hari mereka". Seorang muslim setelah menjalankan shalat malam, dan kemudian istirahat sebentar lalu menjalankan shalat subuh di masjid, tibalah saatnya untuk mencari karunia Allah di muka bumi. Kita diwajibkan menyebar di segenap bumi untuk mencari maisyah, mencari sumber-sumber rezeki dari berbagai pintunya. Apapun profesi kita, apakah guru, pedagang, pebisnis, karyawan, pagi hari adalah waktu yang sangat baik untuk memulai aktivitas. Pagi adalah awal hari, saat fajar mulai menunjukkan kemerahannya, disusul mentari, kicauan burung dan kokokan ayam jantan. Udara pagi hari seberapapun kotornya nanti, adalah kondisi paling ideal untuk dihirup seluruh makhluq hidup termasuk kita. Saat itu pula badan kita telah kembali segar dan bergairah, setelah beberapa jam kita terlelap dan kita biarkan sel-sel tubuh kita meregenerasi dirinya. Saat itulah kuncup-kuncup bunga kembali bermekaran, setelah semalaman ia menguncupkan dirinya. Saat itulah bayi-bayi membuka matanya, tersenyum menebarkan kebahagiaan bagi setiap orang yang menatapnya. Saat itulah Malaikat mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Itulah pagi hari. Maka sebaik-baik aktivitas yang baik idealnya kita mulai saat pagi.

Ketiga, bawalah bekal walau itu berat!.

Lihatlah pemulung, keranjangnya melebihi besar tubuhnya, dipikul di punggungnya, iapun membawa tongkat untuk memudahkan memungut sampah. Ia paham benar apa yang akan ia lakukan dengan bekalnya. Keranjangnya sebanding dengan uang yang ia harapkan setelah ia menjual sampah hasil pencariannya. Bahwa kita dengan berbagai profesi kita, membutuhkan bekal untuk mencapai impian dan hasil yang kita harapkan. Semakin kita siap dan sungguh-sungguh mempersiapkannya semakin siap kita menjemput impian dan sukses yang kita harapkan itu. Kadang bekal itu sangat berat, dan itulah mungkin resiko yang harus kita pikul agar hasil yang kita capai maksimal. Dan sebaik-baik bekal sesungguhnya adalah taqwa, apapun impian yang ingin anda capai. Karena taqwa dijadikan Allah sebagai wasilah agar kita ditolong, agar kita memperoleh jalan keluar dari setiap keruwetan yang kita hadapi, agar kita dimudahkan dan agar kita memperoleh rezeki dari pintu yang tidak kita sangka-sangka.

Keempat, kumpulkan sedikit demi sedikit!.

Keranjang tukang sampai begitu besar, sementara sampah-sampah yang ia pungut mungkin hanya satu buah disetiap tong sampah, malah mungkin ia tidak dapatkan satupun darinya. Tapi ia tidak pernah berhenti dan bosan untuk menghentikan kerjanya, memunguti satu demi satu, mengumpulkan sampah-sampah hingga keranjangnya penuh. Anda, saya mungkin memiliki impian dan target pencapaian yang sangat besar. Seakan-akan target itu sulit bahkan mustahil kita penuhi. Tapi yakinlah bahwa jika sedikit demi sedikit kita kumpulkan kemampuan dan hasil-hasil kecil itu hingga akhirnya target kita terpenuhi. Lihatlah bukankah buku-buku ditulis selembar demi selembar. Lihatlah bukankah banjir itu berasal dari kumpulan dari setitik air hujan?

Kelima, klasifikasikan yang Anda temukan!.

Apapun yang kita miliki, kita dapatkan dan kita hasilkan cobalah untuk dikumpulkan sesuai dengan jenisnya. Itu akan memudahkan kita untuk memikirkannya dan managenya. Klasifikasi itu akan memberi kita nilai yang lebih daripada kita satukan. Bukankan ketika seorang pemulung menjual sampahnya berdasarkan jenisnya ia akan memperoleh uang lebih daripada ia memborongkannya?

Keenam, tukarlah apa yang telah anda hasilkan!.

Berapapun hasilnya yang telah anda peroleh, ia tidak akan bernilai apapun jika tidak Anda tukar dengan sesuatu yang anda inginkan. Bukankah Allah telah mewajibkan hambanya untuk beribadah kepadaNya, tapi Dia juga memberikan bagi hambanya surga dengan rahmatNya? Surga adalah nilai tukar yang akan kita dapatkan setelah kewajiban kita jalankan, walaupun ibadah itu sebenarnya sangat tidak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari seorang pemulung. Wallahu a'lam.
Sumber photo: jakartadailyphoto.com
Continue reading →
Minggu, 08 Maret 2009

Maharku Untukmu

0 komentar


Oleh: Zain Atmawijaya

Ku tahu, kilauan emas atau bahkan mutiara tak akan menyilaukan mata jelitamu. Sebagaimana ku tahu betapa berharganya engkau bagiku. Wahai 'Bidadariku…'

Tak jua kau tanya apa pekerjaanku dan berapa penghasilanku, sebagaimana para wanita dunia itu berlomba mendapatkan lelaki yang kaya raya. Kau bukan seperti itu 'Bidadariku…'

Juga kau tak peduli bahwa aku hanya lelaki tanpa sederetan gelar di belakang namaku. Aku bukanlah sarjana atau master terlebih lagi doktor. Aku hanya lelaki yang tergila-gila padamu!

Engkau tak peduli itu semua. 'Bidadariku…'

Padahal cantik parasmu tak akan bisa tergoreskan oleh barisan kata pujian para penyair yang memujamu. Mata lentikmu akan mampu menusuk dada hingga tembus ke jantung tiap lelaki yang memandangmu, bahkan ia lebih tajam daripada pedang para pejuang! Kau sempurna 'Bidadariku…'

Ku ingin melamarnu, dengan mahar yang kau inginkan;

Berupa sujud-sujud panjangku di sepertiga malam, berupa ringkihan permohonan ampunku kepada Rabbku, berupa tapak-tapak kaki yang kulangkahkan menuju taman-taman surga; masjid dan majlis ilmu, berupa sayatan luka dan tetesan darah yang tertumpah di medan-medan perjuangan.

Ku ingin melamarmu, bidadari surga!
Mahar itu akan kuserahkan. Akad itu akan kuucapkan!

Tunggu aku di dipan-dipan rumah kita di surga! Tunggu aku untuk kita memadu cinta!

Dari aku yang merindukanmu.

Bogor, Rabii'ul Awwal 1430 H/Maret 2009 M.
Continue reading →
Selasa, 03 Februari 2009

POSTER ROKOK

0 komentar
Oleh: Zain Atmawijaya

Bukan karena ikut-ikutan trend 'fatwa haram rokok' dari MUI, Tapi karena beberapa hari yang lalu saya mendapat email dari seorang sahabat jazahullahu khairan yang isinya beberapa poster tentang rokok. Poster-poster tersebut saya rasa sangat bagus jika saya posting di blog ini. Berikut poster-poster tersebut dengan saya beri judul yang kira-kira tepat untuk setiap posternya:

1.Rokok Adalah Peluru!





2. Rokok Adalah Bom Waktu.





3. Rokok: "Bayang-Bayang Kematian."





4. Rokok: Pengerat Nyawa!




5. "Hai Perokok! Ukur Sendiri Hidupmu!"




6. Perokok...Riwayatmu kini...




7. Wajah Masa Depan Sang Perokok:



8. "Bermain Korek Api"


Setelah kita melihat poster-poster rokok di atas, masih maukah kita mencoba benda tersebut! Saya jadi teringat perkataan seorang tokoh, sambil santai dia mengomentari soal rokok: "Bicara masalah rokok kita tidak usah membawa-bawa agama...rokok itukan satu produk, nah produk yang bagus itu adalah produk yang belum lewat masa kadaluarsanya, lha rokok itu...di bungkusnya saja tidak ada masa kadaluarsanya, berarti dari sononya rokok itu adalah racun!" he..he..he..iya kan?! "jadi-zen! jadilah yang terbaik!"
Continue reading →
Sabtu, 24 Januari 2009

Bangkitlah Mahasiswa!

0 komentar
Oleh: Yulian Purnama

Mahasiswa boleh merasa berbangga dengan predikat-predikat yang dilekatkan kepada mereka. Agent of change, penerus bangsa, reformator atau predikat lainnya. Mereka juga boleh berbangga dengan berbagai penelitian mereka, dengan teori-teori dan metode ilmiah yang mereka pelajari, banyak permasalahan yang terselesaikan. Mereka juga boleh berbangga karena ditengah masyarakat mahasiswa dikenal sebagai sosok-sosok nan cerdas, ilmiah, kritis serta berani.

Mahasiswa yang di daulat sebagai Agent Of Change, mereka pun cukup peka terhadap isu-isu krusial. Mereka cepat tanggap memberi respon terhadap gejolak-gejolak sosial. Dalam sekejap mereka berubah menjadi manusia-manusia yang super kritis yang tidak berhenti bertanya ‘mengapa begini?’, ‘mengapa begitu?’, ‘padahal khan seharusnya begini…’, ‘padahal khan nyatanya begitu…’

Namun ironisnyamelihat fakta di sekitar kita, dalam perkara agama, mahasiswa seolah kehilangan tajinya. Tatkala mereka di ajari pak kyai dzikir-dzikir aneh, mereka patuh saja. Tatkala pak haji mengajari cara shalat yang (ternyata) salah, mereka hanya bisa manut saja. Ketika ada pak ustadz mengajarkan amalan-amalan bid’ah, mereka ikut saja. Sewaktu ada ‘murobbi’ yang gemar memberi fatwa serampangan, mereka pun hanya bisa mengamini. Tatkala ada aktifis partai berlabel Islam yang menggiring mereka ke jalan untuk berteriak-teriak dan membuat macet jalan, mereka pun berbaris teratur mematuhinya. Kemana sifat cerdas, kritis, ilmiah dan berani di dada mereka? Tidak adalagi pertanyaan ‘mengapa begini?’, ‘mengapa begitu?’, ‘apa dasarnya? ‘, ’apa dalilnya? ’

Islam adalah agama yang ilmiah

Allah Ta’ala berfirman:
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak kamu ketahui . Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” [Al Isra: 36]

Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak kamu ilmui, namun seharusnya tatsabbut (cek dan ricek) dalam setiap perkataan dan perbuatanmu ” [Tafsir As Sa’di]. Subhanallah, bukankah ini metodologi ilmiah? Ketika seseorang menyatakan sebuah statement ilmiah dalam forum ilmiah, tentu dia akan dipertanyakan adakah penelitian yang mendukung statement tersebut? Teori apakah yang mendasari statement tersebut? Jangan asal bicara! Kira-kira demikian. Maka demikian juga dalam beragama yang benar, harus memiliki dasar, memiliki landasan teori, yaitu ilmu syar’I yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah. Jika seseorang yang berbicara serampangan tanpa dasar ilmiah dalam perkara duniawi saja akan dimintai pertanggungjawaban, maka tentu berbicara atau berbuat serampangan tanpa dasar dalam masalah agama lebih besar pertanggungjawabannya.

Kemudian apa yang terjadi jika seorang mahasiswa fakultas Matematika yang membuat penelitian dengan mengambil beberapa teori dari seorang ahli sastra terkemuka?? Jelas tidak relevan dan penelitiannya layak untuk ditolak. Atau ia mengambil teori dari seorang doktor di bidang Matematika namun terkena kasus pemalsuan thesis?? Maka penelitian tersebut pun akan diragukan. Lihatlah, dalam metodologi ilmiah ternyata memperhatikan sumber pengambilan referensi. Semakin kompeten sumber referensi yang diambil, akan semakin bermutu penelitian yang dibuat.

Demikian juga dalam beragama, metode(manhaj) beragama yang paling benar dan lurus adalah yang merujuk pada orang-orang paling mengetahui dan ahli dalam agama ini. Orang yang berada di urutan teratas adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, karena beliaulah manusia yang paling tahu tentang agama yang dibawanya. Setelahnya adalah para sahabat radhiallahu’anhum ajma’in, seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab,Utsman Bin Affan dan yang lain. Karena merekalah yang mengambil ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan ajaran yang dibawa beliau. Urutan selanjutnya adalah para tabi’in, seperti Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauri, Abdullah bin Mubarok, Sa’id bin Musayyab, dan yang lain. Karena mereka yang mengambil ilmu langsung dari para sahabat. Dan selanjutnya adalah jalannya orang-orang yang mengikuti mereka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, Imam Asy Syafi’I, Imam Ahmad bin Hambal, dan yang lain. Demikianlah, hal ini berdasar hadits :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” [HR. Bukhari-Muslim]

Para ulama Islam dari dahulu hingga sekarang adalah orang-orang yang cermat dan berhati-hati dalam pengambilan sumber ilmu. Misalnya dalam periwayatan hadits, Ibnu Sirin dalam Shahih Muslim berkata:
ان هذا العلم دين, فانظرواعمن تأخذوندينكم

“Sesunggunya ilmu hadits ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya”

Berbeda dengan Yahudi dan Nasrani yang tidak memperhatikan sanad (jalur periwayatan) terhadap ilmu-ilmu dalam agama mereka. Sehingga mereka pun menyimpang jauh dari kebenaran, karena mengambil ilmu dari sumber-sumber yang tidak dikenal dan tidak dipercaya. Maka sanad adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang ilmiah. Sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri berkata:
الإسناد سلاح المؤمن

“Sanad adalah senjata seorang mu’min”

Walhasil, sebagian kaum muslimin yang beragama dengan tanpa sandaran, tanpa rujukan, hanya ikut perkataan ustadz, hanya manut pada kyai, berdalil dengan ‘katanya…..’, berdalil dengan ‘menurut saya…’, berdalil dengan ‘saya rasa….’, sungguh mereka telah menginjak-injak keilmiahan Islam. Dan mahasiswa, yang disifati sebagai orang yang ilmiah dan intelektualis, sepatutnya tidak demikian.

Orang jenius dan Islam
Masih ada orang yang beranggapan bahwa orang-orang yang ‘alim, yang memiliki perhatian dan menyibukkan diri dengan agama adalah orang-orang yang kuno, kurang pandai, ber-IQ rendah, tidak mengerti ilmu eksakta sehingga orang-orang yang ingin dikatakan ‘intelek’ pun menjauhi belajar agama.
Tentu ini tidak benar. Setelah kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang ilmiah, maka konsekuensinya, dalam mendalami dibutuhkan orang-orang yang bisa melakukan metodologi ilmiah, dan yang demikian hanya bisa dilakukan oleh orang yang pandai, cerdas serta ‘encer’ otaknya.

Dan sejarah telah membuktikan bahwa para ulama Islam sejak dahulu hingga sekarang adalah orang-orang yang pandai, cerdas bahkan jenius! Lihatlah Imam Bukhari rahimahullah, begitu kuat hafalannya sehingga saat ada 10 orang ahli hadits yang masing-masing menyebutkan 10 hadits dengan urutan sanad yang sengaja di kacaukan, beliau dapat menyebutkan urutan sanad yang benar dari 100 hadits tersebut! Sufyan Ats Tsauri saking kuat hafalannya ia sampai berkata, “Saya melewati penjahit di pasar sambil menutup telinga saya, karena khawatir menghafal apa yang ia katakan” [Lihat di Siyar ‘Alamin Nubala, 7/222, dinukil dari Kayfa Tatahammas]. Dan betapa banyak diantara mereka yang hafal Al Qur’an di usia dini.

Perhatikanlah wahai mahasiswa, ni’mat Allah yang telah berikan kepadamu berupa kecerdasan dan kepandaian, sudah digunakan untuk apa? Semoga Allah merahmati para ulama yang telah mensyukuri ni’mat kecerdasan dan kepandaian yang mereka miliki dengan menggunakannya untuk mendalami ilmu agama dan menda’wahkannya kepada ummat secara ilmiah.
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

Artinya: “Jika kalian bersyukur sungguh akan Kami tambahkan ni’mat kepada kalian. Namun jika kalian ingkar sungguh azab-Ku sangatlah pedih” [Ibrahim: 3]

Mahasiswa Bangkitlah!
Ditengah banyaknya ‘pembodohan’ dalam beragama di tengah masyarakat, dibutuhkan sosok-sosok yang dapat membebaskan mereka dari ‘pembodohan’ tersebut. Dikala masyarakat banyak dipengaruhi para ustadz, kyai dan da’i yang mengajarkan Islam secara serampangan dan tanpa dasar, dikala banyak aliran-aliran yang mengajak pengikutnya untuk bertaqlid buta sehingga menciptakan banyak friksi dalam masyarakat Islam, dikala kelompok liberal mengajak ummat untuk ‘murtad’ secara halus, maka dibutuhkan pribadi-pribadi yang pandai nan cerdas, yang merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan metodologi ilmiah untuk membebaskan dari ‘pembodohan’ tersebut. Jika memang benar klaim bahwa mahasiswa adalah manusia-manusia yang ilmiah, kritis, cerdas dan berani, maka nampaknya merekalah yang cocok untuk mengemban tugas ini.

Islam adalah agama yang ilmiah, dan untuk berislam dengan benar memang harus ilmiah. Belajar Islam yang benar pun butuh kepandaian dan kecerdasan. Maka sudah sepatutnya para mahasiswa muslim untuk bangkit menegakkan dien mereka, tidak hanya berkutat pada hal-hal duniawi belaka. Sudah sepatutnya mereka memutar otak mereka, tidak hanya untuk ‘urusan perut’ belaka, melainkan hal yang lebih besar dan penting yaitu memikirkan bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Yaitu dengan menempuh jalan beragama yang benar. Ya, bangkitlah mahasiswa!

Dan langkah pertama untuk kebangkitan itu adalah: belajar.
Continue reading →
Kamis, 08 Januari 2009

Permusuhan Yahudi Pada Islam Dalam Sejarah

0 komentar
Oleh: Kholid Syamhudi, Lc

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka.

Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam di Madinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.
Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. hijrah keMadinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau Shallallahu’alaihi Wasallam . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Tholib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah l telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

لتجدن أشد الناس عداوة للذين آمنوا اليهود والذين أشركوا

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. 5:82)

Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah (tahapan) pertama: Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah islam dimasa-masa awal perkembangannya adalah:

1. Pemboikotan (embargo) EkonomiKaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin dating keMadinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong merekapun bukanlah pemegang peekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi.Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jaul beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:

ومن أهل الكتاب من إن تأمنه بقنطار يؤده إليك ومنهم من إن تأمنه بدينار لا يؤده إليك إلا ما دمت عليه قائما ذلك بأنهم قالوا ليس علينا في الأميين سبيل ويقولون على الله الكذب وهم يعلمون

Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75).

2. Membangkitkan fitnah dan kebencian.Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada dihati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam . maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:

يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهََ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ


“Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.”
Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasululloh n dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya:

قل يا أهل الكتاب لم تصدون عن سبيل الله من آمن تبغونها عوجا وأنتم شهداء وما الله بغافل عما تعملون

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)

3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum musliminOrang Yahudi berusaha memasukkan keraguan dihati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

وقالت طائفة من أهل الكتاب آمنوا بالذي أنزل على الذين آمنوا وجه النهار واكفروا آخره لعلهم يرجعون

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”. (QS. 3:72)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.

4. Memata-matai kaum MusliminIbnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم لا يألونكم خبالا ودوا ما عنتم قد بدت البغضاء من أفواههم وما تخفي صدورهم أكبر قد بينا لكم الآيات إن كنتم تعقلون ها أنتم أولاء تحبونهم ولا يحبونكم وتؤمنون بالكتاب كله وإذا لقوكم قالوا آمنا وإذا خلوا عضوا عليكم الأنامل من الغيظ قل موتوا بغيظكم إن الله عليم بذات الصدور

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. 3:118-119).

5. Usaha memfitnah Rasululloh Shallallahu’alaihi WasallamOrang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasululloh n . diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah:

وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك فإن تولوا فاعلم أنما يريد الله أن يصيبهم ببعض ذنوبهم وإن كثيرا من الناس لفاسقون

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. 5:49)

Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah (tahapan) kedua: Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin dizaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:

1. Pengusiran Bani Qainuqa’
2. Pengusiran bani Al Nadhir
3. Perang Bani Quraidzoh
4. Penaklukan kota Khaibar.

Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jaziroh Arab.

Marhalah (tahapan) ketiga: Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam .

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan islam dan kaum muslimin selama Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam masih hidup. Ketika Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam. wafat orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:

1. Kaum muslimin kehilangan Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam.
2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
3. Masuknya sebagian orang Yahudi kedalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:

1. Fitnah pembunuhan kholifah Utsman Ini adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.

2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte BathiniyahKeberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah dikalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H.Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.

3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ rosidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah.Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara turki utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya ditangan Mushthofa Kamaal AtaaTuruk.

Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:

1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.

2. Salibis eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.

3. Organisasi bawah tanah /rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.

Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:

1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan

2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.

3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.

4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.

5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.

Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.

Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.

Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
sumber: Ustadz Kholid
Continue reading →
Jumat, 02 Januari 2009

MERAH DI GAZA...

0 komentar
DONASI PALESTINA: ULURKAN TANGAN ANDA, RINGANKAN DUKA MUSLIM PALESTINA!!!

Musuh-musuh agama Allah tidak akan pernah ridha kepada umat Islam sampai umat Islam mau mengikuti jejak langkah mereka langkah demi langkah dan akhirnya menjadi bagian dari mereka. Beragam cara mereka lakukan untuk menghancurkan Islam mulai cara-cara halus yang tidak disadari kecuali oleh orang-orang yang Allah buka mata hatinya, hingga kekerasan yang secara vulgar dipertontonkan kepada seluruh dunia. Inilah salah satu bukti kebenaran firman Allah Yang Maha Tinggi:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha pada kalian sampai kalian mengikuti agama mereka. Katakanlah: sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang sebenarnya.” (Qs. Al-Baqarah: 120)
Kekerasan tersebut dipertontonkan kepada dunia melalui serangan militer tentara Zionis Israel kepada kaum muslimin di Palestina pada Sabtu, 29 Dzulhijjah 1429 H/27 Desember 2008. Terlebih lagi, kekerasan tersebut dipertontonkan pada bulan Haram yang Allah ta’ala telah mengharamkan pembunuhan dan peperangan pada bulan-bulan tersebut.
Allah berfirman, “Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…” (Qs. Al Baqarah: 217)
Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram…” (Qs. Al Maaidah: 2). Sungguh satu kezaliman di atas kezaliman…!!!
Saudaraku, sesungguhnya umat Islam di bumi Allah ini adalah ibarat satu bangunan, mereka akan saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Umat Islam di bumi Allah ini ibarat adalah satu tubuh, jika satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya.
Saudaraku, apakah Kita tidak merasa merugi ketika sekarang satu bagian bangunan kita di Palestina diserang? Apakah kita tidak merasa sakit ketika satu bagian tubuh kita di bumi para Nabi sedang terluka? Maka, mari kita kuatkan Saudara kita!! Mari kita obati jasad dan hati mereka!!
Saudaraku, mari kita bantu mereka dengan segenap kemampuan kita. Doakan dengan hati dan lisan kita, bantu mereka dengan sebagian harta kita, bantu mereka dengan segenap kemampuan dan keahlian. Ya Allah, bantu dan selamatkan saudara kami kaum muslimin di Palestina. Ya Allah, timpakanlah kekalahan kepada orang-orang Yahudi terlaknat dan penolong-penolong dan sekutu-sekutu mereka…

Salurkan bantuan Anda untuk saudara-saudara kita, ke:
Bank Mandiri Cabang UGM Yogyakarta
Atas nama: Hendri Syahrial
No. Rekening: 1370002258826

Penting:
Bagi setiap donator harap konfirmasi ke 0815 7895 8484
Informasi:
Ust. Abu Sa’ad 08122745706
Sigit Hariyanto 081 3920 55 606
YM Id: sigit_madiun@yahoo.com

N/B: Kami mohon dengan sangat bagi donatur yang telah mengirimkan uang untuk mengkonfirmasikan donasi kepada nomor 0815 7895 8484 untuk membedakan dengan donasi dakwah yang lain.

Sumber: muslim.or.id


MERAH DI GAZA

Husain, sebutlah itu namanya . Usianya barulah menginjak tujuh tahun, pagi itu ia baru saja keluar dari rumahnya di sudut kota Gaza, dengan mengenakan pakaian rapih dan menggendong tas ia bersegera menuju sekolahnya di madrasah ibtidaiyyah (SD), sambil terus berjalan dari mulutnya keluar lantunan ayat-ayat suci al-Qur'an dari juz Amma, husein telah mengulang hafalannya dari semalam, dan rencananya hari itu akan di adakan perlombaan hafalan al-Qur'an 5 juz terakhir (juz 25-30) ada hadiah menarik yang di sediakan sekolah bagi siapa yang bisa menjuarai lomba tersebut. Langkah-langkah kecil itu terus lincah menapaki trotoar jalan, di sudut sana sudah nampak gerbang sekolah yang selama ini ia belajar dengan para teman-temanya, husein mempercepat langkah, sambil terus mulutnya tidak berhenti mengulang hafalan yang saat itu sudah sampai pada surat al-Fajr, tinggal beberapa langkah saja kaki kecil bocah itu bisa mencapai gerbang sekolah, ketika tiba-tiba terdengar suara dentuman benda yang jatuh dengan sangat keras…kemudian di susul dengan suara ledakakkan yang sangat dasyat…DUARRRRRRRR…dengan serta merta tubuh Husein terlempar jauh…lalu jatuh beberapa puluh meter dari gerbang sekolah…darah perlahan keluar dari kepala bocah itu akibat benturan yang sangat keras! Bersamaan dengan itu…ternyata mulut husein masih saja membaca ayat al-Qur'an!!! Suaranya akan sangat terdengar jelas oleh orang yang berada di dekatnya…akhirnya mata husein tertutup…suaranyapun terhenti…bersamaan dengan habisnya ayat-ayat terakhir al-Fajr yang ia baca: "Yaa ayyuhan nafsul muthma'innah, 'irji'ii ila rabbika raadhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fii ibaadii, wadkhulii jannatii" (Hai jiwa yang tenang…Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya…Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku…Masuklah ke dalam syurga-Ku). Nafas husein terhenti, ia telah tiada dan darahnya masih saja mengalir…dan bersamaan dengan itu, di seantero kota Gaza... masih banyak husein husein yang lain yang juga mengalami nasib serupa, menjadi korban kebengisan Yahudi!! Yang pagi itu memborbardir kota Gaza yang dengan rudal-rudalnya yang jatuh bertebaran di masjid, sekolah, gedung perkantoran dan perumahan. Pagi itu dan hingga saat ini…Gaza memerah….

GAZA…NASIBMU KINI








Jalur Gaza atau sering disebut dengan Gaza adalah nama wilayah yang terletak di Timur Tengah, tepatnya di Palestina, sebelah barat daya Palestina ’48 (wilayah Palestina sebelum perang tahun 1948). Sebelah selatan berbatasan dengan Mesir, sebelah barat, timur dan utara berbatasan dengan wilayah Palestina ’48.
Gaza merupakan wilayah yang bentuknya memanjang dan sempit. Panjang wilayahnya 45 km, lebar 5,7 km di beberapa bagian dan 12 km di bagian yang lain yaitu berbatasan dengan Mesir. Sehingga jika dijumlah, luas Jalur Gaza adalah 365 km persegi.
Bagi Kaum muslimin, Gaza merupakan negeri yang bersejarah, negeri perjuangan dan negeri syuhada’, karena banyaknya rakyat Gaza yang berjihad di jalan Allah, mempertahankan tanah mereka. Banyak sudah korban yang berjatuhan, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga nenek-nenek dan kakek-kakek yang dibunuh tentara Zionis Yahudi.
Gaza akan selalu diingat dan dikenang khususnya bagi mereka yang mencintai keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bagi mereka yang mempelajari sejarah para nabi, shahabat dan para ulama.
Datuk Rasulullah saw, Muhammad bin Abdillah, wafat dan dikubur di Gaza. Datuk Rasulullah saw namanya adalah Hasyim bin Abdu Manaf. Beliau adalah orang tua dari kakek Rasulullah saw, Abdul Muththalib yang terkenal dengan sebutan Syaibah karena ada segumpal rambut putih di kepalanya.
Imam Syafi’i, murid Imam Malik, pendiri mazhab Syafi’i, lahir pada bulan Rajab tahun 150 H (767 M) di Gaza, hari kelahiran Imam Syafi’i bertepatan dengan hari wafatnya Imam Abu Hanifah di Baghdad dan wafatnya Imam Ibnu Juraij Al Makky, seorang alim besar di kota Makkah, dikenal dengan Imam Ahli Hijaz.
Imam Syafi’i, nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushaiy. Silsilah dari jalur ibunya, Fathimah binti Abdullah bin Al Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (paman Nabi saw).
Sekarang di Gaza, Palestina, negeri tempat dikuburnya datuk Rasulullah saw, Hasyim bin Abdu Manaf, tempat lahirnya Imam Syafi’I, penduduknya kembali menderita, tentara yahudi kembali menggempur kawasan ini setelah beberapa waktu terhenti karena gencatan senjata. Beratus rudal menghancurkan gedung-gedung, sekolah, perumahan dan tidak sedikit pula dari rumah sakit yang juga hancur… jangan lagi di Tanya soal korban jiwa…saat posting tentang Gaza ini di tulis…sudah lebih dari 400 jiwa menjadi koraban kebengisan yahudi la'natullahi'alaihim!!! (semoga laknat Allah jatuh kepada mereka). Pagi itu dan hingga kini…Gaza kembali memerah…

FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH BERKENAAN DENGAN TRAGEDI YANG MENIMPA GAZA-PALESTINA SAAT INI.

Sumber fatwa: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa)
Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da;

Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.
Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10)

dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71)

dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

dan beliau juga bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)

Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi dibelakang mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya: “Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”. (Al Ma’idah: 2)

Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka. Dan diantaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.

Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.

Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan orang-orang yang berakal dan bijak disetiap urusan mereka, karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya langkah.

Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.

Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya dan menjadikan tipu daya mereka boomerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.

Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

Diterjemahkan dari sahab.net
Sumber:ahlussunnah-jakarta.com
Continue reading →
Sabtu, 27 Desember 2008

Kemarin NATAL Sekarang TAHUN BARU

0 komentar
Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : " Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam"
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi'ar-syi'ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).

Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan".

Pertama. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid'ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu".

Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-'Aql 1/425-426).

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi". Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negera-negara 'ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.


Footnote :
[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah 'tanpa sengaja'.
[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang
bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau
ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas
dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk
hari bahagia -pent.

(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])

Bagaimana semestinya sikap Muslim yang tepat menyikapi hari raya Natal/Tahun Baru/Non Muslim lainnya ?

Berikut nasihat dari Komisi Tetap Saudi Arabia

"Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin (Qs. An Nisaa :69).

Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha mema-damkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah.Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta'ala di dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya: "Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesung-guh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. 2:109)

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang lain, artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi beng-kok, padahal kamu menyaksikan". Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)

Firman ALLAH (yang artinya) : " Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi". (QS. 3:149)

Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus)yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyara-kat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir.Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah:

Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperangatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.

Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar'i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasnya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.

Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka.Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain:
Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.
Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.
Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan.Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala, (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya o-rang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS. 5:51)

Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut.Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah.Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, (yang artinya) : "Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. 5:2)

Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.

Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.

Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.Berkaitan dengan ini Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata, "Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaha-ramannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, "Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjeru-mus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid'ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah". Demikian ucapan beliau rahimahullah!

Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahan kan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.
Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.

(Dinukil dari Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000.
Tertanda
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Sumber: Artikel Bagus
Continue reading →
Jumat, 19 Desember 2008

SEPUTAR NATAL

0 komentar
Natal=Hari Besar Umat Nashrani/Kristen?

Natal selalu diindentikan dengan hari raya umat Nashrani atau Kristen, tapi pernahkah kita mencoba untuk mengetahui sejarah natal itu sendiri? Adakah bukti otentik dari injil atau bible tentang pengabsahan perayaan Natal?. Menyangkut hal ini, ada pembahasan menarik dari H. Ihsan LS Mokoginta mengenai sejarah Natal, berikut kutipannya:

Sejarah Natal

Chritmas diartikan sebagai hari kelahiran Yesus, yang dirayakan oleh hampir semua orang Kristen didunia, berasal dari ajaran Gereja Katolik Roma. Padahal ajaran tersebut tidak terdapat dalam Alkitab dan Yesus-pun tidak pernah memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menyelenggarakannya.

Perayaan yang masuk kedalam ajaran Gereja Katolik Roma pada abad ke empat ini, berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Perayaan Natal yang diselenggarakan diseluruh dunia ini samasekali tidak mempunyai dasar dari Alkitab.

Menurut penjelasan di dalam Catholic Encyclopedia edisi 1911, yang berjudul "Christmas", ditemukan kata-kata yang berbunyi sebagai berikut :

"Christmas was not among the earliest festivals of church, the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan custom centering around the January calends gravitated to christmas. "

"Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala & jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Masih dalam Encyclopedi itu juga dengan judul "Natal Day" bapak Katolik pertama mengakui bahwa :

"In the Scnptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herold) who make great rejoicings over the day in which they were born into the world. "

"Didalam Kitab Suci, tidak seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanya orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."

Natal Menurut Encyclopedia Americana Tahun 1944

"Christmas...it was according to many authorities, not celebrated in ihe first centuries of the Christian church, as the Christian usage in gene.ral was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth... " (The "Communion", which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "A feast was established in memory of this even (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Westem Church ordered it fo be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed.

"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut." ("Perjamuan ci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke empat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari". Sebab tidak seorangpun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."

Asal usul Natal

Natal berasal dari kepercayaan pen-yem¬bah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno dibawah raja Nimrod (cucunya Ham, anak nabi Nuh). Nimrod inilah orang pertama yang mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Niniweah dll, serta kerajaan di dunia dengan sistem kehidupan, ekonomi dan dasar-dasar pemerintahan. Nimrod ini adalah seorang pembangkang Tuhan. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya dia mengawini ibu kandung¬nya sendiri Semiramis.

Setelah Nimrod meninggal, ibunya yang merangkap istrinya menyebarkan ajaran Nimrod bahwa roh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Adanya pohon Evergreen yang tumbuh diatas sebatang pohon kavu yang telah mati, ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod. Untuk mengenang hari kelahiran Nimrod setiap tanggal 25 Desember, Semiramis menggantungkan bingkisan pada ranting-ranting pohon itu sebagai peringatan hari kelahiran Nimrod. Inilah asal usul Pohon Natal. Melalui pemujaan kepada Nimrod, akhirnya Nimrod dianggap sebagai "Anak Suci dari Surga'. Dari perjalanan sejarah dan pergantian generasi ke generasi dari masa¬kemasa dan dari satu bangsa ke bangsa lainnya, akhirnya penyembahan terhadap berhala Babilonia ini berubah menjadi Mesias Palsu, yaitu berupa Dewa Baal, anak Dewa Matahari.

Kepercayaan orang-orang Babilonia yang menyembah kepada "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali), menyebar luas dari Babilonia ke berbagai bangsa di dunia dengan cara dan bentuk berbeda-beda, sesuai dengan bahasa di negara-negara tersebut. Di Mesir dewa-dewi tersebut bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius.

Di Roma bernama Fortuna dan Yupiter, juga di negara-negara lain seperti di China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemu¬jaan terhadap dewi Madona, jauh sebelum Yesus dilahirkan.

Pada abad ke 4 dan ke 5 Masehi, ketika dunia pagan Romawi menerima agama baru yang disebut "Kristen", mereka telah mempunyai kepercayaan dan kebiasaan pemujaan terhadap dewi Madonna jauh sebelum Kristen lahir.

Natal adalah acara ritual yang berasal dari Babilonia kuno yang saat itu puluhan abad yang lalu, belum mengenal agama yang benar, dan akhirnya terwariskan sampai sekarang ini. Di Mesir, jauh sebe¬lum Yesus dilahirkan, setiap tahun mereka merayakan kelahiran anak Dewi Isis (Dewi langit) yang mereka percaya lahir pada tanggal 25 Desember.

Para murid Yesus dan orang-orang Kristen yang hidup pada abad pertama, tidak pernah sekalipun mereka merayakan Natal sebagai hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Dalam Alkitab/Bible, tidak ditemukan walau satu ayatpun Tuhan/ Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal, sebab perayaan setiap tanggal 25 Desember, adalah perayaan agama Paganis (penyembah berhala) yang dilestarikan oleh umat Kristiani.
Upacara Natal adalah berasal dari ajaran Semiramis istri Nimrod, yang kemudian di lestarikan oleh para penyembah berhala secara turun temurun hingga sekarang ini dengan wajah baru yang disebut Kristen. (Sekian kutipan dari H. Ihsan LS Mokoginta, dapat anda download e-booknya di www.pakdenono.com/)

Fatwa Ulama Seputar Natal

1. Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih Utsaimin Rahimahullah (Ulama International)

Telah di tanyakan kepada beliau sebuah pertanyaan:

Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari besar keagamaan mereka ? (Misal : Merry Christmas, Selamat hari Natal dan Tahun Baru dst, red) Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke tempat-tempat dimana mereka merayakannya. Dan apakah seorang Muslim berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun? Akan tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa, atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, ataupun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam hal ini?

Jawaban Syaikh:

Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya ”Ahkamu Ahlidz-dzimmah”, beliau berkata: “Bahwa mengucapkan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah Haram, secara sepakat. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat Hari raya”, atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal lainnya. Maka dalam hal ini, jika orang yang mengatakannya terlepas dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci daripada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan ALLAH.” –Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim rahimahullah)–

(Syaikh Utsaimin melanjutkan) Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk meridhai syi’ar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk memberi selamat kepada mereka. Karena ALLAH Ta’ala tidak meridhai hal tersebut, sebagaimana ALLAH Ta’ala berfirman artinya : “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS Az Zumar 39: 7].

Dan dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS Al Maaidah: 3]

Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai ALLAH, karena hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syari’atnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. ALLAH berfirman tentang Islam, artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Aali ‘Imran: 85]

Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari rayanya Hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk daripada hanya sekedar memberi selamat kepada mereka, dimana didalamnya akan menyebabkan berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur dari bekerja, atau yang semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya), “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”.


Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidha’ Shirathal Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada mereka bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna memanfaatkan kesempatan untuk menghina/merendahkan orang-orang yang berfikiran lemah”. –Akhir dari perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Diterjemahkan dari www.sahab.net
Judul Indonesia:Ulama menyikapi Hari Raya Non Muslim (Natal/Tahun Baru)
Sumber:Artikel Bagus

2. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI):


KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
PERAYAAN NATAL BERSAMA

Memperhatikan:

1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir inidisalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka samadengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.

2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalamkepanitiaan Natal.

3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.

Menimbang:

1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.

2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.

3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.

4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali:

Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas: Al Hujarat: 13; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).

B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)

C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)

D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al Maidah:72-73; At Taubah:30.*)

E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah :116-118.*)

F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu, berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)

G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring): tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981
M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)

--------
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang
disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab
dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

Situs asli: MUI

Demikian apa yang bisa saya posting tentang masalah natal. Semoga Allah menjadikan kita selalu Istiqamah di atas agama-Nya. Aamiin Yaa Mujiibas Saa'iliin.
jadi-zen! jadilah yang terbaik!
Continue reading →
Minggu, 14 Desember 2008

Siapa Mau Pegang "Bara Api?!"

0 komentar
JAWABAN PERTANYAAN ITU…


Dalam nyatanya…mungkin tak ada yang dengan rela hati menggenggam bara api, tak ada yang rela tangannya yang bagus terbakar hangus oleh bara api, tak ada yang mau tangannya sakit atau bahkan harus merelakannya diamputasi…

Namun nyatanya juga…'bara api' itu ternyata pernah dimisalkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam. Bara api yang merah menyala itu… yang panasnya bisa mengupas kulit kita, yang kita tidak akan pernah rela untuk memegangnya, Beliau umpamakan dengan AGAMA INI!. Jelasnya…ada sebuah hadits yang tercantum dalam Sunan at-Tirmidzi pada bab 'Wa min suuratil maa'idah' hadits yang bersumber dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu' dari Nabi yang mulia shalllahu 'alihi wasallam beliau bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.
"Akan datang suatu masa, orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya pada zaman tersebut, laksana pemegang bara api"

Subhanallah…sungguh permisalan nabi diatas merupakan permisalan yang berat, permisalan yang mungkin akan menghentakkan jiwa kita atau bahkan membuat ciut nyali kita. Bagaimana tidak…? Nabi yang mulia memisalkan AGAMA INI (baca:Islam) adalah sebagai bara api! Sekali lagi: BARA API!, yang konsekuensinya kita sudah tau; terbakarnya tangan kita…


BILA BARA ITU HARUS DIPEGANG….

Ya…bara api itu adalah agama. Agama yang harus kita pegang kuat-kuat pada zaman kita sekarang ini, zaman yang telah disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya yang mulia. Namun… mungkin ada satu tanya dalam diri kita…"Mengapa Nabi memisalkan agama ini dengan bara api yang panas? Yang seharusnya tidak akan ada orang yang rela memegangnya?". Justeru di dalam pertanyaan itulah ada jawabnya. Bara api itu panas…tidak ada orang yang mau memeganya, kecuali dengan sangat terpaksa.

Maka agama ini adalah bara api…yang tidak sembarang orang sanggup memegangnya di zaman sekarang ini…di zaman di mana pintu syahwat, syubhat terbuka lebar-lebar! Mempersilahkan hawa nafsu manusia untuk masuk dan menyantap hidangannya! Dan meninggalkan agama ini yang panas bila dipegang! Panas karena nafsu kita tidak mau menuruti perintah Rabb-Nya! Dan memang panas karena dalam agama ini nafsu kita diatur oleh Allah dan Rasul-Nya…tidak dibiarkan lepas bebas menikmati semua yang ia suka! Karena manusia diciptakan di dunia ini tidak percuma…bahkan ia mengemban yang misi yang mulia:

وَمَا خَلَقْتُ الْـجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ.

"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 52)

Itulah Firman Allah Azza wa jalla…yang menegaskan bahwa manusia mempunyai misi di dunia ini: "untuk beribadah kepadanya".

Inilah titik temunya…kenapa manusia pada umumnya enggan berpegang teguh dengan agamanya (Islam) di zaman ini. Karena mereka memandang bahwa agama ini adalah bara api…yang bisa membakar tangannya dan mencelakakan dirinya! Lalu mengapa ia harus berpegang dengan bara itu…? kalau disana banyak terhidang hidangan syahwat dan syubhat yang lebih enak di pegang dan tentunya lebih lezat lagi untuk di makan?!

Itulah pola pikir manusia yang sempit dan picik, yang hanya memikirkan kesenangan nafsunya dan lebih mengutamakan kepentingan dunia. Padahal Allah subhanahu wata'ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

إِنَّ الَّذِيْن قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْـمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوا بِالْـجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ.

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian ia meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang Allah janjikan kepadamu". (QS. Fushshilat [41]: 30).


MARI GENGGAM BARA ITU…

Saudaraku…mari genggam 'bara itu'…mari kita berpegang teguh dengan agama ini..jangan biarkan ia lepas dari tangan kita…bara itu memang panas…dan mungkin akan membakar tangan kita… Tapi jangan lepaskan ia…karena lepasnya bara dari tangan kita..berarti lepas juga simpul iman dari dada-dada kita…maka kuatkan genggaman kita…jangan rasakan panasnya…yakinlah dengan janji Allah yang tesebut dalam ayat-Nya…SURGA!!!
Continue reading →