Beranda
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2012

Kamboja Pohon di Kuburan Meringankan Siksa?

0 komentar
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu beliau bersabda:

 إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ،أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ

“Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah (mengadu domba).”

Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

 لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

 “Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 216 dan Muslim, no. 292)

Dalam redaksi lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

   وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ، وَإِنَّهُ لَكَبِيرٌ

“Mereka berdua tidak disiksa karena perkara besar (dalam pandangan keduanya), namun sesungguhnya itu adalah perkara besar.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6055).

Berkaitan dengan lafadz ini, An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama telah menyebutkan dua tafsiran dalam hadits ini. Makna pertama. Itu bukanlah perkara besar dalam pandangan mereka berdua. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala :


 وَتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ (15)

“Dan kamu menganggapnya suatu perkara yang ringan saja, padahal hal itu pada sisi Allah adalah perkara yang besar.” (QS. An-Nuur: 15)

Makna kedua. Meninggalkan kedua perkara ini bukanlah sesuatu yang besar (susah). Dengan kata lain, kedua perkara ini adalah perkara yang mudah dan ringan untuk ditinggalkan. (Syarah Shohiih Muslim, 3/201).

Tidak Menjaga Diri Dari Kencing Adalah Dosa Besar
Salah satu penghuni kubur itu disiksa karena semasa hidupnya tidak menjaga diri dari kencing, yakni tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri, tidak istinja’ atau bersuci setelah kencing sehingga tubuhnya terkena najis. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud tidak menjaga diri dari kencing adalah tidak menutupi diri ketika kencing. Semua pendapat ini saling melengkapi dan tidak saling bertentangan.
Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa tidak menjaga diri dari kencing merupakan dosa besar, karena pelakunya diancam dengan siksa di Akherat.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat tentang pengertian dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api Neraka, laknat atau murka Allah di Akherat atau perbuatan yang mendapatkan hukuman had di dunia. Sebagian ulama menambahkan bahwa termasuk dosa besar adalah suatu perbuatan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniadakan iman bagi pelakunya, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam: “Tidak beriman salah seorang dari kalian yang…” atau Nabi bersabda: “Bukan golongan kami orang yang…” atau Nabi berlepas diri dari pelakunya.” (Disarikan dari Ajwibah Mufidah an Masa-il Adidah, karya Syaikh Abdul Aziz ar Rajihi, hal. 1-4)

Haramnya Namimah (Adu Domba)
Namimah (adu domba) yaitu mengutip ucapan seseorang dan menceritakan perkataan tersebut kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan

 النَّمِيْمَةُ نَقْلُ كَلاَمِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ إِلَى بَعْضٍ عَلَى جِهَةِ الإِفْسَادِ بَيْنهُمْ

“(Yang dimaksud dengan) namimah yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.” (Syarh Nawawi untuk Shohiih Muslim, 1/214, Syamilah).

Namimah hukumnya haram, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

 وَلاَ تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهِيْنٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيْمٍ (11) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيْمٍ (12)

 “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (QS. Al-Qalam: 10-12).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 105)

Syafa’at dan Do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Para ulama menjelaskan bahwa sebab diringankannya adzab bagi kedua penghuni kubur itu adalah syafa’at dan do’a dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun pelepah basah yang ditancapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kedua kuburan itu hanyalah sebagai penanda batas waktu diterimanya syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kedua penghuni kubur itu agar adzab keduanya diringankan. Inilah pemahaman yang benar.

Imam Muslim rahimahullah menyebutkan di akhir kitab Shohiih-nya, sebuah hadits yang panjang dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang dua penghuni kubur yang disiksa, bahwasanya shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنِّي مَرَرْتُ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَأَحْبَبْتُ بِشَفَاعَتِيْ أَنْ يُرَفَّهَ عَنْهُمَا مَا دَامَ الْغُصْنَانِ رَطْبَيْنِ

 “Sesungguhnya aku melewati dua kuburan yang sedang disiksa. Maka dengan syafa’atku, aku ingin agar adzabnya diringankan dari keduanya selama kedua pelepah itu masih basah.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 3012).

Jadi, penyebab diringankannya adzab bukanlah adanya pelebah basah, akan tetapi karena syafa’at dan do’a dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini merupakan kekhususan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang mengatakan bahwa hal itu merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pendapat yang benar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menanamkan pelepah, kecuali di atas kuburan yang beliau ketahui penghuninya sedang disiksa. Dan beliau tidak melakukan hal itu kepada semua kuburan. Seandainya perbuatan itu Sunnah, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melakukannya kepada semua kuburan. Hal itu merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikarenakan para Khulafa’ur Rasyidin dan tokoh besar sahabat tidak pernah melakukan hal itu. Kalau, seandainya itu diperintahkan, tentu mereka akan segera melakukannya. (Ceramah syaikh Ibnu Bazz ketika menjelaskan kitab Fathul Bari, 3/223).

Pemahaman Keliru Tentang Hadits Ini
Kaum muslimin rahimakumullah, ada sebagian muslim yang keliru dalam memahami hadits ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa dianjurkan menanam pohon kurma atau pepohonan yang lain di atas kuburan. Mereka mengatakan bahwa penyebab diringankan adzab kedua penghuni kubur itu ialah karena kedua pelepah yang masih basah itu senantiasa bertasbih kepada Allah Ta’ala. Adapun pelepah yang sudah kering, maka tidak lagi bertasbih. Oleh karena itulah, mereka menanam pohon di atas kuburan  agar adzab penghuni kubur terus diringankan.

Pendapat seperti ini bertentangan dengan Firman Allah Ta’ala:

 وَإِنْ مِّنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَّ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ (44)

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al Isra’: 44).

Sesungguhnya pelepah yang kering pun senantiasa bertasbih kepada Allah Ta’ala. Demikian pula debu, kerikil dan bebatuan di dalam tanah senantiasa bertasbih kepada-Nya. Seandainya penyebab diringankan adzab adalah tasbih, tentu tidak ada seorangpun yang mendapatkan siksa di dalam kuburnya, karena debu dan bebatuan yang berada di atas mayit juga bertasbih kepada Allah Ta’ala.

Maka, apakah pohon di kuburan dapat meringankan adzab? Tentu saja tidak. Seandainya pepohonan di atas kuburan dapat meringankan adzab, tentu orang yang paling ringan adzabnya adalah orang-orang kafir, karena kuburan mereka laksana taman yang besar disebabkan begitu banyaknya tanaman dan pepohonan yang mereka tanam di atas kuburan mereka.
Continue reading →
Rabu, 18 Januari 2012

Silsilah Tanya Jawab Tentang Syi'ah Bag. 4

0 komentar
Pertanyaan 6: Bagaimana keyakinan para ulama Syi’ah tentang ta’wil Al-Qur’an?

Jawaban:

Pertama: Para ulama Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an memiliki banyak makna batin yang berbeda dengan zhahirnya:

Karena itu mereka meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa keduanya berkata – dan ini mustahil - :

 إِنَّ لِلْقُرْآنِ ظَهْراً وَبَطْنًا

“Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki zhahir dan batin.”(1)

Catatan:

Sesungguhnya hal yang mendorong para ulama Syi’ah menuju keyakinan ini adalah: bahwasanya Kitabullah sama sekali tidak menyebut para imam mereka yang dua belas. Tidak pula menyebut musuh-musuh mereka dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tentu saja membuat gerah para ulama Syi’ah dan mengacaukan perkara mereka. Meskipun demikian, mereka tetap menegaskan bahwasanya Al-Qur’an tidak ada sedikitpun menyebut imam-imam mereka. Al-‘Ayyasyi meriwayatkan:

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: لَوْ قَدْ قُرِأَ الْقُرْآنُ كَمَا أُنْزِلَ، لَأَلْفَيْتَنَا فِيْهِ مُسَّمَّيْنَ

Dari Abu Abdillah ‘alaihis salam dia berkata: “Seandainya Al-Qur’an dibaca sebagaimana turunnya, niscaya engkau akan mendapati nama-nama kami disebut di dalamnya.”(2)

Perhatikanlah semoga Allah Ta’ala memberikanku beserta engkau hidayah menuju jalan yang lurus:

Pertama-tama: bahwasanya sebuah ayat memiliki makna zhahir (tersurat) dan makna batin (tersirat)!

Kemudian menjadi lebih jauh lagi mereka berkata:

إِنَّ لِلْقُرْآنِ ظَهْراً وَبَطْناً وَلِبَطْنِهِ بَطْنٌ إِلَى سَبْعَةِ أَبْطُنٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki zhahir dan batin. Dan batin Al-Qur’an memiliki batin lagi hingga tujuh batin.”(3)

Kemudian melesetlah segala asumsi para ulama aliran Syi’ah. Mereka berkata: “Sesungguhnya di antara hal paling jelas, terang dan masyhur adalah: bahwasanya setiap ayat dari Kalamullah yang mulia dan setiap paragraf dari Kitabullah yang mulia memiliki zhahir dan batin, tafsir dan ta’wil. Bahkan setiap (satu ayat dan satu paragraf) sebagaimana hal tersebut tampak dari banyak riwayat: memiliki tujuh puluh tujuh batin. Banyak sekali hadits yang hampir mutawatir menunjukkan bahwa batinnya dan ta’wilnya, bahkan banyak dari ayat dan tafsirnya berkaitan tentang perkara para pemuka yang suci dan menampakkan keadaan para pemimpin terbaik, yakni Nabi terpilih beserta keluarga beliau para imam yang berbakti ‘alaihimu shalawatul malikil ghaffar. Bahkan kebenaran yang jelas sebagaimana tidak tersembunyi lagi bagi orang yang memiliki ilmu tentang rahasia-rahasia firman Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa yang diriwayatkan dari sumber ilmu orang-orang amanah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Besar. Bahwasanya kebanyakan ayat-ayat tentang keutamaan, nikmat, pujian dan pemuliaan bahkan semuanya, adalah tentang mereka dan pada merekalah semua itu turun. Dan kebanyakan paragraf tentang celaan dan ancaman bahkan semuanya, tertuju untuk para penyelisih dan musuh mereka ... dan sesungguhnya Allah azza wa jalla meletakkan semua batin Al-Qur’an dalam dakwah Imamah (keimaman) dan Wilayah (kewalian), sebagaimana Allah letakkan kebanyakan zhahirnya pada dakwah tauhid, kenabian dan kerasulan.”(4)

Kedua: Mereka meyakini bahwa sebagian besar Al-Qur’an turun berkaitan tentang mereka dan musuh-musuh mereka dari kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum:

Ulama mereka Al-Faidh Al-Kasyani (w 1091 H) berkata:

جُلُّ الْقُرْآنِ إِنَّمَا نَزَلَ فِيْهِمْ، وَفِيْ أَوْلِيَائِهِمْ وَأَعْدَائِهِمْ

“Sebagian besar Al-Qur’an tidak lain hanyalan turun tentang mereka, orang-orang yang loyal kepada mereka dan musuh-musuh mereka.”(5)

Bahkan ulama mereka Hasyim bin Sulaiman Al-Bahrani Al-Katkani (w 1107 H) mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu seorang disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 1154 kali. Dan dia menulis kitab yang ia beri tajuk: Al-Lawami’ An-Nuraniyyah Fi Asma’i ‘Aliy ‘Alaihis Salam Wa Ahli Baitihi Al-Qur’aniyyah. Kitab ini telah dicetak oleh Al-Mathba’ah Al-‘Ilmiyyah di Qum pada tahun 1394.

Catatan: Pembaca yang adil, seandainya Anda membolak-balik Al-Qur’an sambil menyertakan seluruh kamus bahasa arab, niscaya Anda tidak akan menemukan satu namapun dari imam-imam mereka yang berjumlah dua belas!!

Kemudian masalahnya berkembang lagi di kalangan para ulama Syi’ah sebagaimana kebiasaan mereka dalam mengembangkan keadaan dan kedustaan! Mereka membagi Al-Qur’an menjadi empat bagian. Hujjah mereka Al-Kulaini berkata:

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ أَرْبَعَةَ أَرْبَاعٍ: رُبُعُ حَلاَلٌ، وَرُبُعٌ حَرَامٌ، وَرُبُعٌ سُنَنٌ وَأَحْكَامٌ، وَرُبُعٌ خَبَرُ مَا كَانَ قَبْلَكُمْ وَنَبَأُ مَا يَكُوْنُ بَعْدَكُمْ، وَفَصْلُ مَا بَيْنَكُمْ

“Dari Abu Abdillah ‘alaihis salam dia berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an turun empat bagian: Seperempat (tentang) halal, seperempat (tentang) haram, seperempat (tentang) sunnah-sunnah dan hukum-hukum dan seperempat berita tentang umat sebelum kalian, berita tentang apa yang terjadi setelah kalian dan pemutusan perkara antara kalian.”(6)

Catatan: Lantas manakah penyebutan tentang para imam yang dua belas?

Sebagian ulama Syi’ah berusaha untuk meralat masalah ini, dimana tidak disebutnya imam mereka yang dua belas pada riwayat di atas. Maka ulama mereka Al-Kulaini menerbitkan sebuah riwayat yang berbunyi:

عَنِ اْلأَصْبَغِ بْنِ نُبَاتَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُوْلُ: نَزَلَ الْقُرْآنُ أَثْلاَثاً: ثُلُثٌ فِيْنَا وَفِيْ عَدُوِّنَا، وَثُلُثٌ سُنَنٌ وَأَمْثَالٌ، وَثُلُثٌ فَرَائِضُ وَأَحْكَامٌ

“Dari Al-Ashbagh bin Nubatah dia berkata: “Aku mendengar Amirul Mukminin ‘alaihis salam berkata: “Al-Qur’an turun tiga bagian: sepertiga tentang kami dan musuh kami, sepertiga (tentang) sunnah-sunnah dan perumpamaan-perumpamaan dan sepertiga (tentang) fardhu-fardhu dan hukum-hukum.”(7)

Kemudian para ulama mereka meralat dan menambah bagian. Mereka berkata:

عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: نَزَلَ الْقُرْآنُ أَرْبَعَةَ أَرْبَاعٍ: رُبُعٌ فِيْنَا, وَرُبُعٌ فِيْ عَدُوِّنَا، وَرُبُعٌ سُنَنٌ وَأَمْثَالٌ، وَرُبُعٌ فَرَائِضُ وَأَحْكَامٌ

“Dari Abu Ja’far ‘alaihis salam dia berkata: “Al-Qur’an turun empat bagian: seperempat tentang kami, seperempat tentang musuh kami, seperempat (tentang) sunnah-sunnah dan perumpamaan-perumpamaan dan seperempat (tentang) fardhu-fardhu dan hukum-hukum.”(8)

Sebagian muslimin mengkritisi bahwa para imam tersebut tidaklah memiliki keistimewaan tersendiri dalam Al-Qur’an yang membedakan mereka dengan para penyelisih mereka dari segi pembagian ini. Hal tersebut disadari oleh ulama mereka Al-‘Ayyasyi, maka dia menerbitkan riwayat keempat persis seperti di atas, hanya saja ditambahkan padanya:

وَلَنَا كَرَائِمُ الْقُرْآنِ

“Dan untuk kami kemuliaan-kemuliaan Al-Qur’an.”(9)

Hal ini telah diisyaratkan oleh Penulis Tafsir Ash-Shafi, dia berkata:

وَزَادَ الْعَيَّاشِي: وَلَنَا كَرَائِمُ الْقُرْآنِ

“Al-Ayyasyi menambahkan: “Dan untuk kami kemuliaan-kemuliaan Al-Qur'an.”

Referensi Utama:
Judul Asli    :عقائد الشيعة الإثني عشرية
Penulis        : Abdurrahman Bin Sa’d bin Ali Asy-Syatsri.
Penerbit    : Maktabah Ar-Ridhwan, cetakan IX, tahun 1430 H/ 2009 M.

_________________________________
1-    Tafsir Ash-Shafi karya Muhammad Al-Kasyani (w 109 H): I/ 30-31 (Al-Muqaddimah Ar-Rabi’ah: Fi nubadz mimma jaa’a fi ma’ani wujuhil ayat wa tahqiq al-qaul fil mutasyabih wa ta’wilih).
2-    Tafsir Al-‘Ayyasyi: I/ 25, hadits nomor 4 (Maa ‘uniya bihil a’immah minal qur’an).
3-    ‘awali Al-Lali’ Al-‘Aziziyyah Fil Ahadits Ad-Diniyyah karya Ibnu Abi Jumhur Al-Ahsa’i, salah seorang ulama mereka pada abad X: IV/ 107 (Al-Jumlah Ats-Tsaniyah: Fil Ahadits Al-Muta’alliqah Bil ‘Ilmi Wa Ahlihi Wa Hamilihi) dan Tafsir Ash-Shafi: I/ 31 (Al-Muqaddimah Ar-Rabi’ah: Fi Nubadz Mimma Jaa’a Fi Ma’ani Wujuhil Ayat Wa Tahqiqul Qaul Fil Mutasyabih Wa Ta’wilih).
4-    Mukaddimah Tafsir Al-Burhan yang disebut Mir’atul Anwar Wa Misykatul Asrar (hal. 5) karya Ali bin Muhammad Al-Fatuni Al-‘Amili (w 1140 H). Para ulama mereka mensifati Al-Fatuni sebagai: “Al-Hujjah dan bahwasanya kitabnya belum pernah dikerjakan dan ditulis semisalnya.” Silahkan lihat Mustadrak Al-Wasa’il: III/ 385, Adz-Dzari’ah: XX/ 264 nomor 2893, dan bahwasanya dia: “Salah seorang faqih besar mereka yang pada generasi belakangan.” Silahkan lihat Raudhatul Jannat Fi Ahwalil ‘Ulama Was Sadat: hal. 658 karya Muhammad Baqir Al-Khurasani (w 1313 H).
5-    Tafsir Ash-Shafi: I/ 24 (Al-Muqaddimah Ats-Tsalitsah: Fi Nubadz Mimma Ja’a Fi Anna Jullal Qur’an Innama Nazala Fihim Wa Fi Auliya’ihim Wa A’da’ihim Wa Bayani Sirri Dzalika).
6-    Ushul Al-Kafi: II/ 822 (Kitab Fadhlil Qur’an hadits 3 Bab An-Nawadir).
7-    Ushul Al-Kafi: II/ 822 (Kitab Fadhlil Qur’an hadits 2 Bab An-Nawadir) dan Al-Lawami’ An-Nuraniyyah Fi Asma’i ‘Aliy ‘Alaihis Salam Wa Ahli Baitihi Al-Qur’aniyyah (hal. 25) karya Hasyim bin Sulaiman Al-Bahrani (w 1107 H).
8-    Ushul Al-Kafi: II/ 822 (Kitab Fadhlil Qur’an hadits 4 Bab An-Nawadir).
9-    Tafsir Al-‘Ayyasyi: I/ 20 hadits 1 (Fima Unzila Al-Qur’an).

Sumber: Al-Ustadz Sufyan Saladin Hafizhahullah.
Continue reading →
Selasa, 17 Januari 2012

Silsilah Tanya Jawab Tentang Syi’ah: Bag. 3

0 komentar
Pertanyaan 5: Adakah seorang ulama Syi’ah yang berpendapat bahwa salah seorang imam mereka bisa menghapus Al-Qur’an, membatasi kemutlakannya atau mengkhususkan keumumannya?

Jawaban: Ya, dan bahkan jumlah mereka banyak!! Karena itu ulama mereka Muhammad Al Kasyif Githa’ berkata:

إِنَّ حِكْمَةَ التَّدْرِيْجِ اِقْتَضَتْ بَيَانَ جُمْلَةٍ مِنَ اْلأَحْكَامِ وَكِتْمَانَ جُمْلَةٍ, وَلَكِنَّهُ سَلاَمُ اللهِ عَلَيْهِ أَوْدَعَهَا عِنْدَ أَوْصِيَائِهِ, كُلُّ وَصِيٍّ يَعْهَدُ بِهِ إِلَى اْلآخَرِ لِيَنْشُرَهُ فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ لَهُ حَسْبَ الْحِكْمَةِ مِنْ عَامٍ مُخَصَّصٍ, أَوْ مُطْلَقٍ مُقَيَّدٍ, أَوْ مُجْمَلٍ مُبَيَّنٍ, إِلَى أَمْثَالِ ذَلِكَ, فَقَدْ يَذْكُرُ النَّبِيُّ عَامًّا, وَيَذْكُرُ مُخَصِّصَهُ بَعْدَ بُرْهَةٍ مِنْ حَيَاتِهِ, وَقَدْ لاَ يَذْكُرُهُ أَصْلاً, بَلْ يُوْدِعُهُ عِنْدَ وَصِيِّهِ إِلَى وَقْتِهِ.

“Sesungguhnya hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur memiliki konsekwensi dijelaskannya sejumlah hukum dan disembunyikannya sejumlah hukum yang lain. Namun dia salamullah ‘alaihi menitipkannya pada orang-orang yang diwasiatkannya. Setiap orang yang diwasiati menyampaikannya kepada yang lain untuk menyebarkannya pada waktu yang tepat sesuai dengan hikmah dari hukum umum yang dikhususkan, atau mutlak yang dibatasi, atau global yang diperinci, dan semisalnya. Terkadang Nabi menyebut sesuatu yang umum, lalu beliau menyebutkan pengkhususannya setelah beberapa masa dari kehidupannya. Bisa pula sama sekali tidak beliau sebutkan, namun beliau titipkan pada orang yang beliau wasiatkan hingga tiba waktunya.”(1)

Pendapat ini didasari oleh keyakinan mereka bahwa seorang imam adalah penjaga Al-Qur’an sekaligus sebagai Al-Qur’an yang berbicara.

Mereka mengklaim bahwa Ali berkata:

  هَذَا كِتَابُ اللهِ الصَّامِتُ وَأَنَا كِتَابُ اللهِ النَّاطِقُ

“Ini adalah Kitab Allah yang tidak berbicara dan aku adalah Kitab Allah yang berbicara.”(2)
Mereka juga mengklaim bahwa para imam mereka adalah:

خَزَنَةُ عِلْمِ اللهِ وَعَيْبَةُ وَحْيِ اللهِ وَأَهْلُ دِيْنِ اللهِ وَعَلَيْنَا نَزَلَ كِتَابُ اللهِ وَبِنَا عُبِدَ اللهُ وَلَوْ لاَنَا مَا عُرِفَ اللهُ.

“Para penjaga ilmu Allah, wadah wahyu Allah, ahli agama Allah, atas kami turun Kitabullah, dengan kami Allah diibadahi dan seandainya bukan karena kami niscaya Allah tidak akan dikenali.”(3)

Dalam riwayat yang lain disebutkan:

وَحَفَظَةُ سِرِّ اللهِ

“Para penjaga rahasia Allah.”(4)

 Dan dalam riwayat yang lain disebutkan:

وَلاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلاَّ بِنَا

“Dan tidaklah bisa diraih apa yang ada di sisi Allah melainkan dengan kami.”(5)

Catatan: Berdasarkan hal tersebut sesungguhnya masalah pengkhususan keumuman Al-Qur’an, pembatasan kemutlakanannya atau penghapusannya menurut para ulama Syi’ah adalah masalah yang tidak terhenti dengan wafat Rasul , sebab nash nabawi dan syari’at ilahi tetap berlangsung ... dst.

Maka para ulama Syi’ah berkeyakinan sebagaimana diungkapkan oleh ulama mereka Muhammad

Al-Mazandarani:

إِنَّ حَدِيْثَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ اْلأَئِمَّةِ الطَّاهِرِيْنَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلاَ اخْتِلاَفَ فِيْ أَقْوَالِهِمْ كَمَا لاَ اخْتِلاَفَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى, وَجْهُ اْلاِتِّحَادِ ظَاهِرٌ لِمَنْ لَهُ عَقْلٌ سَلِيْمٌ, وَطَبْعٌ مُسْتَقِيْمٌ
.
“Sesungguhnya hadits setiap orang dari kalangan para imam yang suci adalah firman Allah . Tidak ada pertentangan dalam ucapan-ucapan mereka sebagaimana tidak ada pertentangan dalam firman Allah Ta’ala.

Bentuk kesatuannya jelas bagi orang yang memiliki akal sehat dan tabi’at yang lurus.”(6)

Dia juga berkata:

فَإِنْ قُلْتَ: يَجُوْزُ مَنْ سَمِعَ حَدِيْثاً عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ أَنْ يَرْوِيَهُ عَنْ أَبِيْهِ أَوْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَجْدَادِهِ، بَلْ يَجُوْزُ أَنْ يَقُوْلَ: قَالَ اللهُ تَعَالَى!
قُلْتُ: هَذَا حُكْمٌ آخَرُ غَيْرُ مُسْتَفَادٍ مِنْ هَذَا الْحَدِيْثِ, نَعَمْ, يُسْتَفَادُ مِمَّا ذُكِرَ سَابِقًا مِنْ رِوَايَةِ أَبِيْ بَصِيْرٍ وَرِوَايَةِ جَمِيْلٍ عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ جَوَازُ ذَلِكَ بَلْ أَوْلَوِيَّتُهُ.

“Jika Anda berkata: Berdasarkan hal ini maka boleh orang yang mendengar satu hadits dari Abu Abdillah untuk meriwayatkannya dari ayahnya atau dari salah seorang kakeknya, bahkan dia boleh berkata: “Allah Ta’ala berfirman”!

Aku katakan bahwa ini adalah hukum lain yang tidak diambil dari hadits ini. Benar, bisa dipetik dari apa yang telah disebutkan tadi dari riwayat Abu Bashir dan riwayat Jamil dari Abu Abdillah bolehnya hal tersebut dan bahkan utamanya hal tersebut.”(7)

Ulama mereka Al-Kulaini membuat satu bab:

بَابُ: اَلتَّفْوِيْضِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَإِلَى اْلأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فِيْ أَمْرِ الدِّيْنِ

“Bab menyerahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi dan kepada para imam ‘alaihimus salam perkara agama.”(8)

Catatan:
Bagi yang mencermati ucapan ini serta menguraikan dimensinya akan mendapati bahwa tujuan dari hal tersebut adalah merubah agama Islam dan Syari’at Penghulu Manusia , yang dilakukan oleh para ulama Syi’ah atau sebagian mereka atau oleh orang-orang bodoh di kalangan mereka atau dan seterusnya! Kenapakah mereka tidak berpegang kepada apa yang mereka riwayatkan dari Nabi dan dari para imam bahwa mereka berkata:

 إِذَا جَاءَكُمْ مِنَّا حَدِيْثَانِ فَاعْرِضُوْهُمَا عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا وَافَقَ كِتَابَ اللهِ فَخُذُوْهُ، وَمَا خَالَفَهُ فَاطْرَحُوْهُ

“Jika datang kepada kalian dari kami dua hadits, maka timbanglah keduanya dengan Kitabullah. Mana yang sesuai dengan Kitabullah maka ambillah dan mana yang menyelisihinya buanglah.”(9)

Hendaklah mereka mengingat firman Allah Tabaraka Wa Ta’ala:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُوْلَا (66) وَقَالُوْا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا (67) رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا (68)
 [الأحزاب: 66-68]

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata;:"Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab: 66-68).

Referensi Utama:
Judul Asli    :عقائد الشيعة الإثني عشرية
Penulis        : Abdurrahman Bin Sa’d bin Ali Asy-Syatsri.
Penerbit    : Maktabah Ar-Ridhwan, cetakan IX, tahun 1430 H/ 2009 M.

________________________________
1-    Ashlu Asy-Syi’ah Wa Ushuluha hal. 81 (Tamhid Wa Tathi’ah).
2-    Al-Fushul Al-Muhimmah Fi Ushul Al-A’immah (II/ 595 hadits nomor 5 bab ‘Admu jawaz istinbath syai’in minal ahkam an-nazhariyyah min zhawahir Al-Qur’an illa ba’da ma’rifati tafsiriha wa nasikhiha wa muhkamiha wa mutasyabihiha minal a’immah ‘alaihimus salam) dan Wasa’il Asy-Syi’ah Ila Tahshil Masa’il Asy-Syari’ah (XVIII/ 323 hadits nomor 12, bab tahrimul hukmi bighairil kitab was sunnah wa wujubi naqdhil hukmi ma’a zhuhuril khatha’. Keduanya karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-‘Amili (w 1104 H).
3-    Basha’ir Ad-Darajat Al-Kubra Fi Fadha’il Ali Muhammad Shalawatullah ‘Alaihim Ajma’in karya Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan bin Farrukh Ash-Shaffar (w 290 H): I/ 138, hadits nomor 3 (bab Fil A’immah Wa Annahum Hujjatullah Wa Babullah Wa Wulatu Amrillah Wa Wajhullah Alladzi Yu’ta Minhu Wa Janbullah Wa ‘Ainullah Wa Khazanatu ‘Ilmih Jalla Jalaluhu Wa ‘Amma Nawaluhu) dan Ushul Al-Kafi: I/ 138 hadits nomor 1 (Bab annal a’immah ‘alaihimus salam wulatu amrillah wa khazanatu ‘ilmih).
4-    Al-Baladul Amin Wad Dir'ul Hashin karya Ibrahim Al-Kaf’ami (w 900 H): hal. 418 (Az-Ziyarah Al-Jami’ah) dan Mustadrak Al-Wasa’il: I/ 404 nomor hadits umum 12262 nomor khusus 5 (Bab nawadir ma yata’llaq bil mazar).
5-    I’lamul Wara Bi A’lamil Huda karya Al-Fadhl bin Al-Hasan Ath-Thabrasi (w 548 H): hal. 274 (Ar-Ruknu Ats-Tsalits: Fi dzikril imam al-baqir ‘alaihis salam, al-fashlur rabi’: fi dzikri tharfin min manaqibihi wa khasha’ishihi wa nubadz min akhbarihi).
6-    Syarh Ushul Al-Kafi karya Muhammad Shalih Al-Mazandarani (w 1081 H): II/ 225 (bab riwayatul kutub wal hadits wa fadhlul kitabah wat tamassuk bil kutub).
7-    Referensi di atas.
8-    Ushul Al-Kafi: I/ 191-194 (Kitabul Hujjah), disebutkan dalamnya sepuluh hadits.
9-    Al-Istibshar Fima Ikhtalafa Fihi Minal Akhbar karya Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusi (w 460 H) yang dijuluki di kalangan mereka sebagai Syaikh Tha’ifah (Syaikh Kelompok): I/ 144-145 hadits nomor 9 (bab al-khamr yushibu ats-tsaub wan nabidz al-muskir) dan Wasa’il Asy-Syi’ah: XIV/ 441 hadits nomor 3 (Bab anna man tazawwaja imra’atan hurrimat ‘alaihi ummuha wa jaddatuha wa in lam yadkhul biha).

Sumber: Al-Ustadz Sufyan Saladin hafizhahullah.
Continue reading →
Jumat, 13 Januari 2012

Silsilah Tanya Jawab Tentang Syi’ah: Bag. 1

0 komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan 1: Siapakah Syi’ah itu?

Jawaban: Syaikh mereka Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man, yang dijuluki oleh mereka Al-Mufid (w 413 H) menjawab bahwa mereka adalah:

أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِيٍّ ع(1) عَلَى سَبِيْلِ الْوَلاَءِ وَاْلاِعْتِقَادِ لِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ ص بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفْيِ اْلإِمَامَةِ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِيْ مَقَامِ الْخِلاَفَةِ, وَجَعْلِهِ فِي اْلاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعاً لَهُمْ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلَى وَجْهِ اْلاِقْتِدَاءِ
.
“Para pengikut Amirul Mukminin secara wala’ (loyalitas) dan meyakini keimamannya setelah Rasul tanpa ada selang (antara keduanya)(2). Menafikan keimaman dari orang-orang sebelumnya yang menduduki kekhalifahan. Serta meyakini bahwa dia diikuti oleh mereka, bukan dia yang mengikuti mereka sebagai bentuk ketundukan(3).(4)

Catatan: Sesungguhnya kata Syi’ah, jika disebut hari ini maka tidaklah menjurus kecuali kepada kelompok Itsnai ‘Asyariyah(5). Sebab Syi’ah Itsnai ‘Asyariyah merupakan mayoritas Syi’ah hari ini di Iran, Iraq, Suriah, Libanon, negara-negara Teluk dan tempat-tempat lainnya.. sebab referensi mereka dalam masalah hadits dan periwayatan telah mencakup sebagian besar pendapat kelompok-kelompok Syi’ah yang keluar sepanjang perjalanan sejarah.

Pertanyaan 2: Bagaiman asal-usul munculnya ajaran Syi’ah?

Jawaban: Pendapat yang kuat di kalangan para peneliti bahwa orang yang membidaninya adalah Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi! Bahkan hal ini diakui oleh kitab-kitab Syi’ah sendiri!

Kitab-kitab tersebut mencatat bahwa Ibnu Saba’ Al-Yahudi adalah orang pertama yang mempopulerkan pendapat tentang keimaman Ali radhiyallahu ‘anhu. Inilah akidah penetapan keimaman bagi Ali radhiyallahu ‘anhu yang merupakan pokok ajaran Syi’ah.

Kitab-kitab tersebut menyatakan bahwa dia adalah orang pertama yang menampakkan celaan terhadap mertua dan menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Abu Bakr, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. 

Dia orang pertama pula yang memunculkan pendapat tentang reinkarnasi, menuhankan Ali dan seterusnya.
Ulama mereka Al-Hasan An-Nubakhti berkata:

اَلسَّبَئِيَّةُ: قَالُوْا بِإِمَامَةِ عَلِيٍّ عليه السلام وَأَنَّهَا فَرْضٌ مِنَ اللهِ عز وجل, وَهُمْ أَصْحَابُ عَبْدِاللهِ بْنِ سَبَأ, وَكَانَ مِمَّنْ أَظْهَرَ الطَّعْنَ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَالصَّحَابَةِ وَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ, وَقَالَ: إِنَّ عَلِياًّ عليه السلام أَمَرَهُ بِذَلِكَ, فَأَخَذَهُ عَلِيٌّ عليه السلام فَسَأَلَهُ عَنْ قَوْلِهِ هَذَا فَأَقَرَّ بِهِ, فَأَمَرَ بِقَتْلِهِ

“Kelompok As-Saba’iyyah menyuarakan keimaman Ali ‘alaihis salam dan menyatakan bahwa hal tersebut perkara fardhu dari Allah ‘azza wa jalla. Mereka adalah para pengikut Abdullah bin Saba’, dia adalah salah seorang yang memunculkan celaan atas Abu Bakr, Umar, Utsman dan para sahabat serta berlepas diri dari mereka. Dia berkata bahwa Ali ‘alaihis salam yang memerintahkannya untuk itu. Maka Ali ‘alaihis salam menangkapnya dan menanyainya tentang ucapannya tersebut, dia mengakuinya dan kemudian Ali memerintahkan untuk membunuhnya.”

Dia berkata:

وَحَكَى جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ سَبَأ كَانَ يَهُوْدِياًّ فَأَسْلَمَ وَوَالَى عَلِياًّ عَلَيْهِ السَّلَامُ

“Sekelompok ulama memberitakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulunya adalah seorang Yahudi. Kemudian dia masuk Islam dan loyal kepada Ali ‘alaihis salam.”

Dia berkata:

وَكَانَ يَقُوْلُ وَهُوَ عَلَى يَهُوْدِيَّتِهِ فِيْ يُوْشَعَ بْنِ نُوْن بَعْدَ مُوْسَى ص بِهَذِهِ الْمَقَالَةِ, فَقَالَ فِيْ إِسْلاَمِهِ فِيْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِثْلَ ذَلِكَ. وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَشْهَرَ الْقَوْلَ بِفَرْضِ إِمَامَةِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ, وَأَظْهَرَ الْبَرَاءَةَ مِنْ أَعْدَائِهِ .. وَأَكْفَرَهُمْ, فَمِنْ هَاهُنَا قَالَ مَنْ خَالَفَ الشِّيْعَةَ: إِنَّ أَصْلَ التَّشَيُّعِ وَالرَّفْضِ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْيَهُوْدِيَّةِ.

“Ketika dia masih menganut agama Yahudi dia menyuarakan pendapat ini(6) pada diri Yusya’ bin Nun setelah Musa SAW, kemudian ketika dia Islam dia berpendapat seperti itu pula pada diri Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam. Dialah orang pertama yang mempopulerkan pendapat tentang wajibnya keimaman Ali ‘alaihis salam dan menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuhnya .. dan mengkafirkan mereka. Dari sini, para penyelisih Syi’ah berkata bahwa pokok ajaran Syi’ah dan Rafidhah diambil dari agama Yahudi.”(7)

Kemudian Gurunya para ulama Syi’ah: Sa’d Al-Qummi (w 301 H) menyebutkan sikap Ibnu Saba’ Al-Yahudi ketika mendengar kematian Ali radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mengklaim bahwa dia belum mati. Dia berpendapat bahwa Ali akan reinkarnasi dan bersikap ghuluw (ekstrim) padanya.(8)

Bersambung Insya Allah ....

Referensi Utama:
Judul Asli    :عقائد الشيعة الإثني عشرية
Penulis        : Abdurrahman Bin Sa’d bin Ali Asy-Syatsri.
Penerbit    : Maktabah Ar-Ridhwan, cetakan IX, tahun 1430 H/ 2009 M.

_______________________________
(1)    Mereka menggunakan simbol (ص) untuk meringkas ucapan mereka: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ini merupakan satu bentuk kesalahan berkenaan dengan hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan mereka menggunakan simbol (ع) untuk meringkas ucapan mereka عَلَيْهِ السَّلاَمُ. Ini merupakan pengkhususan untuk Ali radhiyallahu ‘anhu dan imam mereka yang lainnya tanpa mereka ucapkan untuk keluarga dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya, tanpa didukung oleh dalil.
(2)    Maksudnya adalah: Seorang Syi’ah Imamiyah adalah seorang yang meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu merupakan Khalifah setelah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung tanpa diselingi (oleh yang lainnya), artinya dia adalah Khalifah sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini didasari oleh pengingkaran Syi’ah terhadap kekhalifahan Tiga Khalifah (Abu Bakr, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum). Maka sebutan Syi’ah tidak benar – menurut pandangan Syaikh mereka Al-Mufid – kecuali bagi orang yang meyakini kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang berlangsung setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam hingga syahidnya Ali radhiyallahu ‘anhu.
(3)    Maka Ali menurutnya: secara zhahir mengikuti ketiga khalifah sebelumnya namun secara batin diikuti oleh mereka. Diikutinya para khalifah tersebut olehnya – menurut pandangan Syaikh mereka Al-Mufid – bukanlah sebagai bentuk ketundukan namun sebagai bentuk taqiyyah. Bukan pula sebagai bentuk keyakinan namun sesungguhnya sebagai bentuk persetujuan secara lahiriah saja.
(4)    Bagian awal Al-Maqalat Fil Madzahib Al-Mukhtarat karya Syaikh mereka Al-Mufid (hal. 35 Bab Al-Qaul Fil Farqi Baina Asy-Syi’ah Fiima Nusibat Bihi Ilat Tasyayyu’ Wal Mu’tazilah Fiima Ustuhiqqat Bihi Ismul I’tizal).
(5)    Dikatakan oleh: Husain An-Nuri Ath-Thabrasi (w 1320 H) dalam kitabnya Mustadra Al-Wasa’il (III/ 311). Kitab ini merupakan penyempurna Al-Wasa’il Asy-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-‘Amili (w 1104 H), An-Nuri mengklaim di dalamnya bahwa dia telah mengumpulkan riwayat-riwayat dan hadits-hadits para imam mereka. Ayatuhum (artinya Tanda Mereka, aslinya adalah Ayatullah-pent) Agha Bazrak Ath-Thaharani (w 1389 H) dalam kitabnya Adz-Dzari’ah Ila Tashaniif Asy-Syi’ah (II/ 110-111, nomor 436) mewajibkan para ulama’nya untuk menela’ah Al-Mustadrak ini saking besarnya kedudukannya di kalangan mereka. Dia berkata: “Wajib atas setiap mujtahid terkemuka untuk menela’ahnya dan merujuk kepadanya dalam mengambil hukum.” Dia berkata pula: “Sesungguhnya argumen untuk seorang mujtahid di zaman kita ini tidak sempurna sebelum merujuk kepada Al-Mustadrak dan menela’ah hadits-haditsnya.” Silahkan lihat: Ashlus Syi’ah Wa Ushuluha hal. 63 (Pasal Kedua) karya Muhammad Kasyif Al-Ghitha’ (w 1376 H).
(6)    Yaitu dia mengklaim keduanya sebagai tuhan ketika dia masih menganut agama Yahudi. Kemudian dia mengklaim hal tersebut pada diri Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah dia berpura-pura masuk Islam. Silahkan lihat: Al-Anwar An-Nu’maniyyah: II/ 234 (Nur Fi Bayanil Firaq Wa Adyaniha Wama Yata’allaqu Bihi Minal Muqaddimat Wal Lawahiq) karya Ni’matullah Abdullah Al-Husaini Al-Musawi Al-Jaza’iri (w 1112 H), disifati oleh ulama mereka Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-‘Amili (w 1104 H) sebagai: “Seorang yang mulia, alim, peneliti, ulama besar, berkedudukan tinggi.” Amalul Amal Fi ‘Ulama Jabal ‘Amil (II/ 336 nomor 1053).
(7)    Firaq Asy-Syi’ah (hal. 20 dan 32-44) karya Al-Hasan bin Musa Al-Nubakhti, salah seorang ulama mereka di abad ketiga hijriah.
(8)    Al-Maqalat Wal Firaq (hal. 10-21) karya Sa’d bin Abdillah Al-Asy’ari Al-Qummi. Silahkan lihat: Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal yang lebih populer dengan Rijal Al-Kisysyi karya Muhammad Al-Kisysyi (w 350 H) karya Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusi (w 460 H): nomor 174, II/ 191 (Abdullah bin Saba’), Tanqihul Maqal Fi ‘Ilmir Rijal (II/ 84) karya Abdullah Al-Mamaqani (w 1351 H). Muhammad bin Ali Al-Ardabili (w 1101 H) berkata dalam Jami’ur Ruwat Wa Izahatul Isytibahat ‘Anit Turuq Wal Isnad (I/ 458) bab ‘Ain: “Abdullah bin Saba’ seorang yang ekstrim lagi terlaknat. Dibakar oleh Amirul Mukminin ‘alaihis salam dengan api. Dia mengklaim bahwa Ali ‘alaihis salam adalah tuhan dan dia adalah nabi, semoga Allah melaknatnya, dia kembali kafir dan menampakkan sikap ekstrim.”

Sumber: Ust Sofyan Saladin hafizhahullah
Continue reading →
Kamis, 12 Januari 2012

Ingat Mati

0 komentar
Bagi yang masih hidup perbanyaklah mengingat mati ….. karena ……

Pertama, Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Kedua, Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.

{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}

Artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]

Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Munafiqun: 11).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,  “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Ketiga, Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.

( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

Keempat, Siapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ»

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” (HR. Muslim).

المغيرة بن شعبة رضي الله عنه: أيها الناس إنكم تقولون: القيامة، القيامة؛ فإن من مات قامت قيامته.

Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian mengucapkan: “Kiamat, kiamat…maka ketahuilah, siapa yang mati mulai saat itulah dibangkitkan kiamat dia.” (Lihat kitab Al Mustadrak ‘Ala majmu’ al Fatawa, 1/88).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang demikian itu, karena seorang manusia jika mati, maka dia masuk ke dalam hari kiamat, oleh sebab itulah dikatakan: ‘Siapa yang mati mulailah kiamatnya, setiap apa yang ada sesudah kematian, maka sesungguhnya hal itu termasuk dari hari akhir. Jadi, alangkah dekatnya hari kiamat bagi kita, tidak ada jaraknya antara kita dengannya, melainkan ketika sesesorang mati, kemudian dia masuk ke kehidupan akhirat, tidak ada di dalamnya kecuali balasan atas amal perbuatan. Oleh sebab inilah, harus bagi kita untuk memperhatikan poin penting ini.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Kelima, Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’.

Ad Daqqaq rahimahullah berkata,

“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة”  تذكرة القرطبي : ص 9

Artinya: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah” (Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya Al Qurthuby).

Keenam, Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّه أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).

Ketujuh, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.

Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.

Artinya: “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).

*) Ditulis oleh seorang yang mendambakan husnul khatimah: Ahmad Zainuddin, Selasa 4 Sya’ban 1432H, Dammam KSA.

ٍSumber.
Continue reading →
Selasa, 10 Januari 2012

E-Book: Jurus Jitu Mendidik Anak

0 komentar

Mendidik anak ibarat membentuk sebuah peradaban, butuh ilmu, usaha yang optimal, keikhlasan, dan keimanan yang baik dan benar. Mendidik anak dengan benar akah membuka peluang untuk melahirkan anak yang shalih, namun bila salah dalam mendidik anak, alih-alih melahirkan seorang yang shalih, bisa jadi kita justru menambah panjang jumlah anak bermasalah di masyarakat.

Memiliki anak yang shalih tentu menjadi dambaan setiap orangtua. Anak yang shalih akan menghantarkan orangtua ke surga Allah. Agar bisa bersama-sama meraih surga Allah, mari kita mulai mendidik anak kita dengan benar. E-Book Jurus Jitu Mendidik Anak ini berisi beberapa jurus/tips yang harus dimiliki orangtua dalam mendidik anak. Memang, e-book ini tidaklah mengajarkan secara teknis bagaimana mendidik anak, melainkan memberikan paparan awal bagaimana seharusnya mendidik anak sesuai yang diajarkan dalam al-quran dan as-sunnah.

Download: Di sini.
Continue reading →
Jumat, 08 Januari 2010

Gregorius Theodorus (Panglima Romawi) Syahid di Perang Yarmuk

0 komentar

“Gergorius sudah mati. Aku yang menikamnya karena Gergorius yang malang telah membelot menjadi seorang muslim,” perasaan gundah menyelimuti Margiteus yang tengah mengusap-usap pedang panjangnya yang berukiran matahari dengan 12 jilatan api itu.

“Hah, mustahil mana mungkin terjadi, dia seorang Kristiani yang taat.” Argenta menatap tajam Margiteus

“Ya aku cuma bisa kesal, bingung dan sedih kenapa seorang panglima perang Romawi yang ulung harus mati di ujung mata pedangku.” Sesal Margiteus sambil membersihkan sisa darah di pedangnya.

Debu-debu beterbangan, menggumpal di atas bumi Yarmuk. Suara teriakan riuh jelas terdengar seiring rengekan suara onta dan kuda. Nyaring dan ngeri.

Saat itu, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk –wilayah perbatasan dengan Syria. Pasukan Islam bermarkas di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan Romawi terpaksa menempati lembah di hadapannya. Dengan jumlah tak kurang dari 240 ribu pasukan romawi, mereka kewalahan menghadapi pasukan muslimin yang hanya berjumlah 39 ribu orang saja. Puluhan ribu pasukan Romawi –baik yang berasal dari Arab Syria maupun yang didatangkan dari Yunani– tewas. Lalu terjadilah pertistiwa mengesankan itu.

Kondisi ini jelas tidak menguntungkan pasukan Romawi walaupun sebenarnya kehebatan pasukan Islam membuat kagum para panglima Romawi dan komandan pasukannya. Termasuk Gregorius Theodorus –orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Maka saat masuk waktu istirahat Gregorius mendatangi Khalid untuk perang tanding. Dia menantang Khalid untuk berduel satu lawan satu. Sekilas tawaran ini dapat mengurangi jatuh korban, namun bisa saja menjadi taktik sekaligus sebagai ‘psy war’ dalam sebuah pertempuran yang malah dapat menganulir kemenangan kaum muslimin.

Theodorus adalah seorang panglima pilihan yang mempunyai hubungan erat dengan pembesar Bani Ghassan, sebuah kerajaan satelit Romawi di Syam (Syiria), oleh karena itu ia fasih berbahasa Arab. Khalid bin Walid tidak melewatkan tantangan itu, dan dengan serta merta menerimanya dengan sikap ksatria.

Dengan disaksikan oleh kedua kubu pasukan yang berseteru dari kejauhan dan di tengah-tengah benturan pedang kedua panglima tersebut. Dalam duel maut itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Luar biasa, rasa ta’jub begitu saja muncul di benak Gregorius, betapa tidak! Tombak bergagang baja itu rontok oleh sabetan pedang Khalid, padahal sepanjang pertempuran yang dipimpinnya tombak itu menjadi tumpuan pertahanan dirinya. Kepiawaian Khalid memainkan pedangkah? Tenaganya yang kuatkah? Atau memang benar pedangnya diturunkan dari langit? Rasa penasaran panglima Romawi ini makin menjadi-jadi. Dia seperti baru menemukan lawan tanding yang setimpal.

Dengan cepat dia ganti mengambil pedang besarnya. Kali yang kedua Gregorius berdecak kagum pasalnya dia merasa Khalid memberinya kesempatan untuk berancang-ancang karena dalam benak dia petarung sekaliber Khalid pastinya akan segera menyudahi duel itu disaat musuhnya lengah. Tetapi ternyata Khalid tidak melibas habis lawannya padahal kesempatan itu ada. Sikap patriot sejati tidak selamanya tercermin dari kegarangan menebas batang leher musuh. Ada kalanya kelembutan mengukir bukti atas sikap ksatria.

Akhirnya kedua paglima itu saling mendekat sampai-sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Saat itulah panglima Gregorius menyempatkan diri berdialog dengan Khalid:

“Ya Khalid, coba katakan dengan sebenar-benarnya dan jangan bohongi saya. Apakah benar Allah telah turun kepada Nabi anda dengan membawa pedang dari langit, lalu menyerahkannya kepada anda, sehingga anda memperoleh julukan “Pedang Allah”? Saya tahu setiap anda mencabut pedang itu, maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!”

“Semua itu tidak benar!” tukas Khalid dengan singkat seraya tetap mempermainkan pedangnya untuk menangkis serangan pedang panglima Gregorius.

“Lantas mengapa anda dijuluki Pedang Allah?” tanya Gregorius lagi. Dan bagaikan tumbuh saling pengertian, keduanya kemudian menghentikan ayunan pedang. Keduanya tegak berhadapan di tengah laga, masih tetap bersiaga, dan meneruskan dialog.

“Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Semula kami menentangnya dan memusuhinya. Sebagian dari kami beriman dan mengikutinya. Saya termasuk pihak yang mendustainya dan memusuhinya, tetapi kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatiku. Sayapun beriman dan menjadi pengikutnya. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku: ‘Ya Khalid, engkau adalah sebuah pedang di antara sekian banyak pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi kaum musyrikin!’ Ia mendoakan saya supaya tetap menang. Sebab itulah aku dijuluki ‘Pedang Allah’ …” Khalid menuturkan apa adanya.

“Saya menerima keterangan anda itu dan tidak lagi percaya dengan segala legenda tentang diri anda,” ujar Gregorius yang kemudian meneruskan pertanyaannya.

“Di dalam tugas dakwah anda, apa sajakah yang anda sampaikan?”

“Mengakui bahwa tiada yang patut disembah selain Allah, dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah, dan berikrar dalam hati bahwa ajarannya itu datang dari Allah.”

“Jika seseorang tidak bersedia menerimanya?”

“Membayar jizyah, mengakui kepemimpinan Islam, dan setelah itu kami berkewajiban menjamin hak miliknya, jiwanya dan juga kepercayaan, keyakinan, agama yang dianutnya!”

“Jika ia tetap tidak mau menerimanya?”

“Pilihan akhir adalah perang, dan kami siap untuk itu!” jawab Khalid singkat-singkat, jelas dan tegas. Sementara di kedua kubu pasukan yang masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi di dalam perang tanding itu, panglima Gregorius meneruskan lagi dialognya,

“Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?”

“Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan oleh Allah. Mulia atau hina. Tak peduli ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!”

“Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?”

“Ya, Anda benar!”

“Mengapa bisa sama ya Khalid? Padahal anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?”

“Kami memeluk Islam dan mengikat bai’at dengan Rasul Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam . Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesaran dan mu’jizat-mu’jizatnya, hingga beliau wafat. Sedangkan orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas, maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!”

“Ya Khalid, keterangan anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Demi Allah, saya menerima Islam pada pilihan pertama!”

Seraya menuntaskan dialognya, panglima Gregorius melemparkan perisainya dan menyarungkan pedangnya. Ia bersama Khalid kemudian berjalan beriring menuju kubu perkemahan pasukan muslimin.

Pasukan Romawi terkejut, mereka menyangka Gregorius telah ditaklukkan dan ditawan oleh Panglima Islam yang masyhur itu, yang kehidupannya nyaris menjadi sebuah legenda. Mereka panik, dan serunai perang pun ditiup guna mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam.

Sementara itu, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Panglima Gregorius bersyahadat dan minta pengajaran Islam di dalam kemah kaum muslimin.

Setelah itu ia minta disediakan air bersih untuk berwudhu. Untuk pertama kalinya ia melaksanakan sendi ajaran Islam yang kedua, shalat dua rakaat!

Setelah selesai mengerjakan shalat, maka Khalid bin Walid bersama dengan Gregorius Teodorus dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan isyarat saja.

Subhanallah! Khalid bin Walid menundukkan Gregorius bukan dengan ketajaman pedangnya, tapi dengan kejujuran dan sikap sportifitasnya. Hal ini sebenarnya pernah berlaku pada diri Khalid sendiri. Khalid adalah lakon penting dibalik ambruknya kaum muslimin di perang Uhud. Berikutnya, bukan hunusan senjata yang membuatnya bertekuk lutut, kelembutan dakwah yang menjadikannya mukmin sejati. Dialah pedang Allah (Saifullah) yang menyiarkan Islam hingga membuka mata dunia. Alhasil, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam tidak membutuhkan kilatan pedang untuk menundukkan orang yang ganas. Cukup menyiraminya dengan kasih sayang. Dan pesona kelembutan sanggup melelehkan hati yang membatu sekalipun.

Sementara di luar kemah, pertempuran mulai berkecamuk. Kedua pihak mengerahkan kekuatan manusia, senjata dan strateginya. Di tengah-tengah sengitnya suara denting pedang dan raungan nafas yang terputus, tiba-tiba majulah dua orang panglima pasukan muslimin. Keduanya berdampingan dan saling bahu membahu. Mereka adalah Khalid bin Walid dan Panglima Gregorius Teodorus yang telah bersyahadat.

Pertempuran berlangsung selama dua hari. Medan laga telah bersimbah darah. Pekikan takbir dan kobaran semangat sambung menyambung tak putus-putusnya, seiring dengan tumbangnya tubuh-tubuh tak bernyawa ke permukaan bumi. Pasukan Romawi pada hari itu merasakan pedihnya sebuah kekalahan. Tentaranya kocar-kacir dan meninggalkan 50.000 jasad pasukan mereka yang bergelimpangan di medan laga. Di tengah rasa syukur kemenangan, kaum muslimin juga harus membayar mahal dengan merelakan 3000 orang syahidnya.

Pasukan Romawi mengalami kekalahan telak di tangan kaum muslimin. Mereka kehilangan 50.000 tentaranya. Pasukan Romawi kocar kacir, mereka mencari perlindungan di Damascus, Antokiah dan Caesarea serta ada juga yang turut serta dengan Kaisar Heraklius ke Constantinople. Pertempuran sehari itu meninggalkan cacatan hitam dalam sejarah perang Romawi yang sukar dipadamkan dalam sejarah. Mereka kalah telak dari pejuang yang kecil bilangannya dengan peralatan perang yang jauh ketinggalan dibanding mereka.

Dalam pertempuran itu, Gregorius yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan shalat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya.

Di sebuah lembah berbatu, panglima Khalid bin Walid tertunduk sedih, haru dan sekaligus bangga. Di hadapannya terbujur jasad asy-syahid Gregorius Teodorus dengan puluhan luka di sekujur tubuhnya. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Gregorius telah syahid. Panggilan fitrah telah membimbingnya kepada Islam. Kepada iman yang benar. Gregorius tak membutuhkan diskusi yang bertele-tele dan melelahkan untuk menerima Islam. Keberanian, kejujuran, sportifitasnya dan kehebatan strategi perang Khalid telah membawanya kepada pintu gerbang hidayah Islam.

Mantan panglima Romawi ini menjadi saksi atas agama mulia ini yang akan berkembang pesat justru berkat perilaku santun pemeluknya yang lekas menarik simpati berupa untaian indah akhlak dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Terbukti bahkan dalam peperangan, etika sosial sangat dijaga. Harkat kemanusiaan tetap terpelihara dalam bingkai kasih sayang. Tidak merusak fasilitas umum, tidak menggangu wanita, orang tua dan anak-anak, dilarangnya menebang tanaman, tidak membunuh lawan yang sudah menyerah dan berbagai perilaku indah lainnya, sehingga musuh pun terpikat seraya berseru, “Betapa indah ajaran ini!”

Dan tentunya keindahan persaudaraan dalam Islam dirasakannya seperti ikan yang mendapatkan airnya kembali. Begitupun pertemanannya dengan Khalid walau terbilang singkat tapi dirasakannya begitu akrab.

Sejarah mencatat bahwa Gregorius Teodorus adalah seorang muslim yang sepanjang hayatnya dapat merasakan manisnya iman dan jihad sekaligus yaitu saat detik-detik dua kalimat syahadat diikrarkan. Dan seperti mendapat pasokan energi yang besar, Gregorius langsung berbalik memerangi pasukannya sendiri dengan semangat jihad.

sumber: satu, dua, tiga.
Continue reading →
Kamis, 26 November 2009

Berdzikir di Hari Tasyriq

0 komentar

Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari nahr (hari penyembelihan yaitu tanggal 10 Dzulhijjah). Disebut tasyriq karena pada hari tersebut banyak orang yang mendedeng dan menjemur daging hewan kurban (Syarah Nawawi untuk Shahih Muslim 3/131).

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang berbilang” (QS al Baqarah:203).

عن ابن عباس في قوله:” واذكروا الله في أيام معدودات”، قال: أيام التشريق.

Tentang ayat di atas, Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah hari-hari tasyriq (Diriwayatkan oleh al Thabari dalam tafsirnya no 3886. Riwayat ini statusnya hasan, lihat al Tafsir al Mukhtashar al Shahih hal 45).

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ».

Dari Nubaisyah al Hudzali, Rasulullah bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum” (HR Muslim no 2733).

عَنْ أَبِى الشَّعْثَاءِ قَالَ أَتَيْنَا ابْنَ عُمَرَ فِى الْيَوْمِ الأَوْسَطِ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ – قَالَ – فَأُتِىَ بِطَعَامٍ فَدَنَا الْقَوْمُ وَتَنَحَّى ابْنٌ لَهُ قَالَ فَقَالَ لَهُ ادْنُ فَاطْعَمْ. قَالَ فَقَالَ إِنِّى صَائِمٌ. قَالَ فَقَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّهَا أَيَّامُ طُعْمٍ وَذِكْرٍ ».

Dari Abu Sya’sa’, “Aku mendatangi Ibnu Umar pada hari kedua dari hari-hari tasyriq. Setelah makanan disajikan maka orang-orang pun mendekat. Hanya salah seorang putra Ibnu Umar yang menjauh maka Ibnu Umar berkata kepadanya, ‘Mendekatlah dan makanlah’. Dia menjawab, ‘Aku sedang berpuasa’. Ibnu Umar berkata, ‘Tidakkah kau tahu bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hari-hari tasyriq adalah hari makan dan hari berdzikir” (HR Ahmad no 4970 dan dinilai hasan oleh Syeikh Syuaib al Arnauth).

Ibnu Rajab berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan isyarat bahwa makan dan minum di hari-hari ied adalah sarana untuk mengingat dan mentaati Allah. Bentuk syukur terhadap nikmat adalah memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan. Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan untuk memakan makanan yang baik dan menyukurinya dengan melakukan berbagai ketaatan. Siapa yang memanfaatkan nikmat Allah untuk berbuat maksiat maka dia telah ingkar dengan nikmat Allah dan mengganti nikmat dengan kekafiran. Sehingga nikmat yang ada pada orang tersebut layak untuk diambil” (Lathaif al Ma’arif hal 507).

Ibnu Rajab mengatakan, “Mengingat Allah yang diperintahkan pada hari-hari tasyriq itu ada beberapa macam.

1. Mengingat nama Allah setelah selesai shalat lima waktu dengan bertakbir. Dzikir ini disyariatkan pada hari-hari tasyriq menurut mayoritas ulama. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas. Ada juga hadits marfu (yaitu hadits Nabi) namun ada kelemahan pada sanadnya.

2. Mengingat Allah dengan membaca bismillah dan bertakbir saat menyembelih kurban. Karena waktu penyembelihan hadyu dan kurban adalah sampai akhir hari tasyriq menurut sejumlah ulama. Itulah pendapat Syafii dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Dalam masalah ini terdapat hadits Nabi,

وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Semua hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban” (HR Ahmad no 17206 dari Jubair bin Muth’im) akan tetapi dalam sanadnya terdapat pembicaraan. Sedangkan mayoritas shahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih itu cuma dua hari pertama dari hari tasyriq ditambah tanggal 10 Dzulhijjah. Inilah pendapat Ahmad yang terkenal, pendapat Malik, Abu Hanifah dan mayoritas ulama.

3. Menyebut nama Allah ketika makan dan minum. Ketika makan dan minum disyariatkan untuk menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah di akhir makan. Nabi bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap hambaNya yang makan lalu memuji Allah dan yang minum lalu memuji Allah” (HR Muslim no 2734 dari Anas). Diriwayatkan bahwa barang siapa menyebut nama Allah pada awal makan dan memuji Allah setelah selesai makan maka dia telah membayar makanan tersebut dan nanti tidak akan ditanya tentang kewajiban untuk mensyukuri makanan tersebut.

4. Mengingat Allah dengan bertakbir saat melempar jumroh di hari-hari tasyriq. Amal ini hanya berlaku untuk jamaah haji.

5. Mengingat Allah setiap saat. Memperbanyak dzikir pada hari-hari tasyriq adalah amal yang dianjurkan. Pernah Umar bertakbir di Mina dari kemahnya lalu didengar oleh banyak orang. Akhirnya mereka ikut bertakbir sehingga Mina menjadi goncang karena suara takbir.

Allah berfirman yang artinya,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS al Baqarah:200-201).

Banyak ulama salaf yang menganjurkan untuk memperbanyak doa ‘rabbana atina fid dunya…’ pada hari-hari tasyriq. Ikrimah mengatakan, “Dianjurkan pada hari tasyriq untuk berdoa rabbana atina…”. Atha’ mengatakan, “Dianjurkan bagi jamaah haji yang hendak pulang kampung di hari-hari tasyriq untuk berdoa, ‘rabbana atina…’, diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dalam tafsirnya.

Doa ini termasuk doa paling lengkap memuat kebaikan. Nabipun sering berdoa dengannya. Diriwayatkan bahwa Nabi memperbanyak doa tersebut (HR Bukhari dan Muslim dari Anas). Jika Nabi berdoa pasti doa ini disebutkan karena doa ini mencakup kebaikan dunia dan kebaikan akherat.

Al Hasan al Bashri berkata, “Yang dimaksud dengan hasanah di dunia adalah ilmu dan ibadah. Sedangkan hasanah di Akherat adalah surga”.

Sufyan mengatakan, “Hasanah di dunia adalah ilmu dan rizki yang halal. Sedangkan hasanah di akherat adalah surga”.

Doa adalah termasuk jenis dzikir yang terbaik.

Diriwayatkan oleh Ziyad al Jashash dari Abu Kinanah al Qurasyi, dia mendengar khutbah yang disampaikan oleh Abu Musa al Asy’ari pada saat Idul Adha, “Setelah tanggal 10 Dzulhijjah terdapat tiga hari yang Allah sebut dengan hari-hari yang berbilang. Doa tidaklah ditolak pada hari-hari tersebut. Oleh karena itu sampaikanlah permohonan-permohonan kalian kepada Allah”.

Adanya perintah untuk berdzikir setelah selesainya ibadah menyembelih kurban itu mengandung rahasia. Yaitu semua ibadah itu ada waktu akhirnya. Sedangkan mengingat Allah itu tidak ada akhirnya. Bahkan seorang mukmin itu akan terus berdzikir di dunia dan di akherat”

[Lathoif al Ma’arif 504-505 cetakan al Maktab al Islami].


Sumber: Ustadz Aris Munandar




Continue reading →
Jumat, 13 November 2009

Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

0 komentar

Kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah peneguhan nyata akan tauhid. Ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.


Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Seorang Teladan Yang Baik
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan hidupnya selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah meninggalkannya. Posisinya dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang selalu patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau pun tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat dan karunia ilahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ


“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tak pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan beliau sebagai teladan dalam hal ini,

sebagaimana dalam firman-Nya:


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيْمَ لِأَبِيْهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ


“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5)

Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencegah mereka dari sikap taqlid buta terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ. قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِيْنَ. قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ. قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ. قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. وَتَاللهِ لَأَكِيْدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِيْنَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang bisa memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya kepada jalan yang lurus, serta mengaruniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami karuniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang shalih.” (An-Nahl: 121-122)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:


وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً

“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

Dengan sekian keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)

Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya. Terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Beberapa Amalan Mulia di Bulan Dzulhijjah


Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya, yang sebagiannya tidak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antara amalan mulia tersebut adalah:

a) Haji ke Baitullah
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam. Kemuliaannya nan tinggi memosisikannya sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.16, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma)

Ibadah haji yang mulia ini tidaklah bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Terlebih tatkala kita menyaksikan jutaan umat manusia yang datang berbondong-bondong dari segenap penjuru yang jauh menuju Baitullah, menyambut panggilan ilahi dengan lantunan talbiyah:


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yang besar, mengandung rahasia yang tinggi serta tujuan yang mulia, dari kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)

Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yang sama. Sehingga terjalinlah suatu perkenalan, kedekatan, dan saling merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali persatuan umat Islam, serta terwujudnya kemanfaatan bagi urusan agama dan dunia mereka.” (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)

Lebih dari itu, ibadah haji mempunyai banyak hikmah dan pelajaran penting yang apabila digali rahasianya maka sangat terkait dengan agama dan sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik dalam hal keimanan, ibadah, muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara hikmah dan pelajaran penting tersebut adalah:

1. Perwujudan tauhid yang murni dari noda-noda kesyirikan dalam hati sanubari, manakala para jamaah haji bertalbiyah.

2. Pendidikan hati untuk senantiasa khusyu’, tawadhu’, dan penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah, serta amalan haji lainnya.

3. Pembersihan jiwa untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menyembelih hewan qurban di hari-hari haji.

4. Kepatuhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.

5. Tumbuhnya kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, serta menunaikan amalan yang sama pula (haji). (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah Min Al-hajj)

b) Menyembelih Hewan Qurban


Menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, 13 Dzulhijjah) merupakan amalan mulia dalam agama Islam. Di antara bukti kemuliaannya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya semenjak berada di kota Madinah hingga wafatnya. Sebagaimana yang diberitakan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma:


أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ يُضَحِّي

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun tinggal di kota Madinah senantiasa menyembelih hewan qurban.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dia -At-Tirmidzi- berkata: ‘Hadits ini hasan’)

Penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, juga tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putra beliau Nabi Ismail ‘alaihissalam. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)

Demikianlah sosok Ibrahim, yang senantiasa patuh terhadap segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepadanya walaupun berkaitan dengan diri sang anak yang amat dicintainya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam hatinya untuk menjalankan perintah tersebut. Ini tentunya menjadi teladan mulia bagi kita semua, dalam hal ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Da’i (Pegiat Dakwah)

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengandung banyak pelajaran berharga bagi para da’i. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

a) Para da’i hendaknya membangun dakwah yang diembannya di atas ilmu syar’i. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika mendakwahi ayahnya (dan juga kaumnya):


يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)

Dan demikianlah sesungguhnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku berdakwah di jalan Allah di atas ilmu, demikian pula orang-orang yang mengikuti jejakku. Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf: 108)

b) Para da’i hendaknya berupaya menyampaikan kebenaran yang diketahuinya secara utuh kepada umat, serta memperingatkan mereka dari segala bentuk kebatilan dan para pengusungnya. Kemudian bersabar dengan segala konsekuensi yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:


وَإِبْرَاهِيْمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. إِنَّمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُوْنَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut: 16-18)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun tetap bersabar dan istiqamah di atas jalan dakwah manakala umatnya melancarkan segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadapnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوا اقْتُلُوْهُ أَوْ حَرِّقُوْهُ فَأَنْجَاهُ اللهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 24)

Demikian pula Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perjalanan dakwah beliau merupakan simbol kesabaran di alam semesta ini.

Sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan teladan bagi para da’i secara khusus dan masing-masing individu secara umum dalam hal kepedulian terhadap kondisi umat dan negeri. Hal ini sebagaimana yang tergambar pada kandungan doa Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Orangtua


Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merupakan cermin bagi para orangtua dalam perkara pendidikan dan agama anak cucu mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يِا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kalimat itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan agama ini bagi kalian, maka janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’.” (Al-Baqarah: 132)

Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak segan-segan berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk keshalihan anak cucunya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ

“Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari perbuatan menyembah berhala.” (Ibrahim: 35)


رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku beserta anak cucuku orang-orang yang selalu mendirikan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Setiap orangtua mengemban amanat besar untuk menjaga anak cucu dan keluarganya dari adzab api neraka. Sehingga dia harus memerhatikan pendidikan, agama dan ibadah mereka. Sungguh keliru, ketika orangtua acuh tak acuh terhadap kondisi anak-anaknya. Yang selalu diperhatikan justru kondisi fisik dan kesehatannya, sementara perkara agama dan ibadahnya diabaikan. Ingatlah akan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala:


يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Anak

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para anak, karena beliau adalah seorang anak yang amat berbakti kepada kedua orangtuanya serta selalu menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42-45)

Ketika sang bapak menyikapinya dengan keras, seraya mengatakan (sebagaimana dalam ayat):


أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيْمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti (dari menasihatiku) niscaya kamu akan kurajam! Dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Maka dengan tabahnya Ibrahim ‘alaihissalam menjawab:


سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam: 47)

Demikianlah seyogianya seorang anak kepada orangtuanya, selalu berupaya memberikan yang terbaik di masa hidupnya serta selalu mendoakannya di masa hidup dan juga sepeninggalnya.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Suami-Istri

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para suami-istri, agar selalu membina kehidupan rumah tangganya di atas ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin dari dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan istrinya yang bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke kota Makkah (yang masih tandus dan belum berpenghuni) atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail –dalam usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/kantong air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Dia ulang kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Atas dasar itulah, seorang suami harus berupaya membina istrinya dan menjaganya dari adzab api neraka. Demikian pula sang istri, hendaknya mendukung segala amal shalih yang dilakukan suaminya, serta mengingatkannya bila terjatuh dalam kemungkaran.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikianlah mutiara hikmah dan pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyentuh beberapa elemen penting dari masyarakat kita. Semoga kilauan mutiara hikmah tersebut dapat menyinari perjalanan hidup kita semua, sehingga tampak jelas segala jalan yang mengantarkan kepada Jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

(Sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=572)




Continue reading →