Beranda
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Maret 2012

Stop Bullying!

0 komentar
Apa Itu Bullying?
Berdasarkan pengaduan masyarakat, Komisi Nasional Perlindungan Anak memberi definisi/pengertian terhadap bullying adalah : kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau manakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma / depresi dan tidak berdaya.

Tindakan kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah bukanlah hal yang baru dalam dunia anak-anak usia sekolah. Kasus kekerasan ini telah lama terjadi di Indonesia, namun luput dari perhatian. Disejumlah negara maju Pusat Krisis untuk kasus semacam ini telah didirikan.

Bentuk bullying ada 3 yaitu :
* Fisik (memukul, menampar, memalak atau meminta paksa yang bukan miliknya, pengeroyokan menjadi eksekutor perintah senior).
* Verbal (memaki, mengejek, menggosip, membodohkan dan mengkerdilkan).
* Psikologis (mengintimdasi, mengecilkan, mengabaikan, mendiskriminasikan).
Bullying berdampak menurunkan tes kecerdasan dan kemampuan analisis siswa yang menjadi korban, bahkan sampai berusaha bunuh diri. Bullying juga berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai - nilai akademik dan tindakan bunuh diri.
Bullying Dalam Dunia Pendidikan
Meskipun selama ini ekspos mengenai bullying lebih banyak terfokus pada pelaku dan korbannya, bukan berarti bullying adalah fenomena terisolasi yang tidak melibatkan lingkungan. Mengakarnya perilaku bullying sehingga sulit diberantas seringkali justru diakibatkan oleh ketidaktahuan (atau keengganan) lingkungan untuk mengakui bahwa bullying terjadi di depan hidung mereka dan akibatnya sangat buruk.

Dari penelitian mereka selama tahun 2004-2006 pada 3 SMA di dua kota besar di Pulau Jawa, 1 dari 5 guru menganggap bullying adalah hal biasa dalam kehidupan remaja dan tak perlu dipermasalahkan. Bahkan, 1 dari 4 guru berpendapat bahwa ’sesekali penindasan’ tidak akan berdampak buruk terhadap kondisi psikologis siswa! Bukan hanya pihak sekolah yang terkesan lepas tangan terhadap bullying yang dilakukan di lingkungan mereka. Detik.com juga melaporkan temuan Amy Huneck yang menemukan bahwa 9 dari 10 orang dewasa yang diwawancarai menganggap bullying hanyalah bagian dari cara anak-anak bermain.

Ketika korban jiwa sudah berjatuhan, tentu kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan berpikir seperti di atas. Orang-orang ’luar’ yang terkait dengan perilaku bullying bisa melakukan banyak hal untuk mencegah bullying menjadi sesuatu yang mendarahdaging dalam pendidikan kita. Langkah awalnya bisa dimulai dari lingkup yang paling dekat dengan pelaku dan korban bullying, yaitu teman-teman mereka sendiri.

Jangan Cuma Bisa Nonton!
Pada umumnya yang menjadi korban bullying hanyalah sebagian siswa. Sisanya, jika tidak menjadi pelaku, biasanya menjadi penonton aktivitas bullying yang terjadi di sekitarnya. Bullying.org mencatat bahwa 85 persen kejadian bullying di tempat bermain atau di kelas melibatkan penonton dari teman-teman mereka sendiri.
Apakah mereka yang tidak ikut serta ini bebas dari kesalahan karena mereka ’hanya’ menonton? Lebih sering tidak. Menurut Pepler dan Craig (2000), siswa-siswa lain bisa memiliki beberapa peran, yaitu peserta (co-bullies), suporter, penonton biasa, dan penolong (interveners). Berikut adalah beberapa pengaruh teman-teman sebaya yang menonton terhadap aktivitas bullying.
  1. Mereka secara alamiah tertarik oleh ketegangan dan hasrat agresif yang ditimbulkan dari menonton aktivitas bullying. Adanya ‘permintaan pasar’ ini akan mendorong pelaku untuk mem-bully lebih sering, intens, dan ganas
  2. Perhatian positif, keberpihakan, peniruan, rasa hormat, dan ketakutan untuk melawan yang terjadi pada penonton akan semakin memperkuat dominasi pelaku
  3. Memaksimalkan dampak sosial dari bullying terhadap korban melalui penonton yang tidak memberikan empati atau pertolongan, memberikan perhatian yang negatif, serta bersikap menyalahkan korban sebagai ‘pemicu’ perlakuan bullying terhadapnya.
  4. Siswa-siswa yang berpihak pada pelaku akan semakin semakin agresif dan tidak sensitif terhadap penderitaan korban akibat perlakuan mereka. Mereka mengalami ‘perlindungan’ (dari pelaku) dan status sosial yang lebih tinggi. Pada akhirnya akan terbentuk kelompok yang solid dan mampu melakukan aktivitas terencana.
  5. Menegaskan adanya risiko bagi siswa-siswa yang berpihak pada korban: mereka bisa menjadi korban berikutnya.
Tampaknya mempertunjukkan aktivitas bullying di depan umum cukup berhasil mewujudkan pengaruh-pengaruh di atas. Dari data yang dihimpun Bullying.org, 80-90 persen siswa yang menonton merasa tidak nyaman menonton peristiwa bullying, bahkan sepertiga siswa mengaku akan ikut mem-bully siswa yang mereka juga tidak suka. Hanya ada 11 persen siswa yang mencoba menghentikannya, dan lebih dari separuh peristiwa bullying berhasil mereka hentikan dalam kurang dari sepuluh detik. Untuk itu, Bullying.org memberikan beberapa tips bagi mereka:
  1. Kenali perilaku bullying. Tidak hanya bersifat fisik, bullying juga dapat bersifat sosial atau verbal, seperti menjelek-jelekkan orang lain.
  2. Menjauhlah. Dengan tetap berada di situ dan menonton, anda menyemangati pelaku untuk terus melakukan aksinya. Menjauhlah dan cari pertolongan dari guru atau orangtua. Akan lebih baik jika anda bisa mengajak teman-teman lain untuk menjauh juga.
  3. Jangan ikut mem-bully meski ‘hanya’ secara verbal, seperti mengejek atau menyindir. Inilah yang diharapkan pelaku dari para penonton. Sebaliknya, dekatilah korban bullying. Dorong mereka untuk melaporkan kejadian ini pada orangtua atau guru. Temani mereka.
  4. Bicarakan keberatan anda (dan pandangan anda bahwa bullying itu salah) jika anda diajak atau dipaksa untuk ikut serta dalam aktivitas bullying. Tolonglah korban, dan jangan sekali-sekali melawan pelaku bullying jika anda tidak yakin anda cukup aman untuk melakukannya.
  5. Catatlah tempat-tempat yang sering dijadikan lokasi bullying. Beritahukan guru atau orangtua agar mereka mengawasi tempat-tempat ini.
Mungkin pada awalnya akan sulit bagi orangtua atau sekolah untuk menanamkan nilai-nilai tersebut pada anak-anak mereka, karena selama ini mereka telah terbiasa diam ketika melihat (atau mengalami) ketidakadilan. Namun jika pihak-pihak yang berwenang mampu memberi sanksi dan penanganan yang tegas bagi pelaku, perlindungan bagi korban, dan penghargaan bagi pihak-pihak yang berani menolong, niscaya bullying akan tinggal menjadi masa lalu dalam pendidikan kita.

#Dari berbagai sumber.
Continue reading →
Kamis, 01 Maret 2012

[Homeschooling]: Legalitas, Sosialisasi, Terbatasnya Pengetahuan

0 komentar
Sebenarnya kerepotan dalam homeschool juga hampir sama dengan kerepotan bila anak bersekolah. Untuk mencari sekolah yang baik, dan sesuai kriteria yang diinginkan sebuah keluarga tentu harus banyak survey dan cek dan ricek terlebih dahulu. Misalnya saja dengan pilihan sekolah formal. Pertama-tama keluarga harus mencari sekolah yang sesuai dengan kriteria dalam keluarga tersebut. Ada keluarga yang mensyaratkan aqidah yang shohih, ilmu agama yang baik, guru-guru yang paham jiwa anak, kebijakkan bullying disekolah tersebut, kebijakan pemberian tugas/PR, sampai kepada kebersihan dan kesehatan untuk anak. Setelah semua itu, semua kriteria yang diinginkan harus disesuaikan dengan dana yang dimiliki keluarga tersebut (uud, ujung-ujungnya duit ^^). Sedangkan pada keluarga homeschool adalah kendali semua urusan ada di dalam rumah, bukan di tangan pihak lain. Misalkan ingin memenuhi kebutuhan sosialisasi anak, maka sebisa mungkin keluarga tersebut mengadakan sumber tersebut melalui berbagai cara.
Ketika kami akhirnya memutuskan benar-benar untuk mengambil jalur homeschool, setidaknya ada 3 pertanyaan utama yang diajukan pada keluarga kami oleh teman-teman di sekitar kami. Pertama tentang legalitas sekolah rumah, sosialisasi anak homeschooler dan bagaimana mensiasati kemampuan orangtua yang terbatas. Pertanyaan ini sebenarnya amat sering diajukan kepada keluarga homeschool yang sudah lama terjun dengan pilihan sekolah rumah, tetapi baru sekarang-sekarang ini benar-benar kami pikirkan jawabannya. Sayangnya, tidak setiap saat kami memiliki “mood” atau waktu untuk menerangkan. Mungkin dengan adanya catatan ini kami bisa mengatakan kepada saudara/teman yang bertanya mengenai ketiga hal di bawah untuk merujuk ke blog kami saja…hehehe….
 
1. Legalitas.
Isu legalitas dari homeschool/Sekolah rumah adalah yang paling sering ditanyakan. Sebenarnya Sekolah rumah sendiri sudah diakui oleh undang-undang Sistem Pendidikan Nasional:
UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 :
* Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
* Hasil Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan non formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Untuk mengambil ujian/ijazah-pun terbuka banyak kesempatan. Misalnya saja HSer bisa mengambil ujian kesetaraan paket A (setara kelas 6 SD), paket B (setara kelas 9, SMP) dan paket C (setara dengan kelas 12, SMA). Adakalanya para homeschooler juga ikut ujian dengan sekolah payung yang membolehkan para HSer untuk ikut serta dalam ujiannya. Dalam hal ini, HSer bisa mengikuti ujian melalui sekolah yang memiliki kebijakan sebagai sekolah payung, atau yang dikenal dengan istilah umbrella school. Sekolah-sekolah seperti ini menampung siswa HSer untuk juga dapat mengikuti ujian akhir nasional (UAN) di sekolah tersebut. Ijazah yang dikeluarkan adalah sama berasal dari Diknas, dan sama dengan teman-temannya yang bersekolah di sekolah formal.

Jika HSer merasa ingin mencoba kemampuannya dengan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga internasional, HSer bisa mencoba mengambil ujian yang diselenggarakan oleh Cambridge atau SAT. Kedua lembaga ini membuka kantor perwakilannya di Jakarta, dan ujian juga diselenggarakan di Indonesia. Keuntungan dari ijazah ini adalah pemegang ijazah dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang mensyaratkan ijazah Cambridge atau score SAT tertentu sebagai persyaratan masuk. Hal ini banyak ditemui pada siswa yang melanjutkan pendidikan di luar negeri, dimana sekolah/univ ditempat tersebut tidak menerima ijazah yang diterbitkan dari Diknas.

Cambridge:
Sementara untuk Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) sebagai perwakilan Cambridge di Jakarta,
alamat: Lantai 3, Kompleks Mesjid Agung Al Azhar, Jl.
Sisingamangaraja, Kebayoran Baru. Telepon 021-72792753 dan 71132366

SAT:
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium, 28th Floor, Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1. Jakarta, Indonesia 12980
Tel: +62 21 831 7330
Fax: +62 21 831 73331
Email: testing@iief.or.id

Ada juga teman yang sempat menyatakan kepada saya bahwa ijazah yang diperoleh di sekolah tentu berbeda dari yang dimiliki anak-anak homeschooler. Jawaban kami adalah ijazah itu sama, bahkan banyak pesantren yang belum menerbitkan ijazah sendiri, mereka masih ikut ujian dengan sistem paket A/B/C. Ujian paket itulah yang juga sama diambil oleh para homeschooler. Ijazah paket diterima di seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dan hal itu terjamin oleh Undang-undang. Nyatanya, sudah banyak HSer yang dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri, semisal UI dan UGM, dengan memakai ijazah paket C. Jika memang siswa mampu untuk memenuhi standar penerimaan di universitas bergengsi itu, mengapa harus dihalang-halangi hanya karena ia bersekolah di rumah (HSer).
 
2. Sosialisasi
Selain mengenai ijazah (legalitas) sekolah rumah, masalah sosialiasi juga menjadi topik yang sering ditanyakan. Sebenarnya jika merujuk kepada definisinya dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sosialisasi diartikan sebagai:
so·si·a·li·sa·si n 1 usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum (milik negara): tradisi tidak memperlancar proses — perusahaan milik keluarga; 2 proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dl lingkungannya: tingkat-tingkat permulaan dr proses — manusia itu terjadi dl lingkungan keluarga; 3 upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga men-jadi dikenal, dipahami, dihayati oleh masyarakat; pemasyarakatan;
ber·so·si·a·li·sa·si v melakukan sosialisasi: acara rekreasi itu merupakan salah satu kesempatan bagi anak-anak berkelainan untuk – dng masyarakat;

Sosialisasi menurut para ahli bahasa-pun bermacam-macam, saya ambil satu definisi menurut Giddens (1994): proses sosialisasi sebagai sebuah proses yang terjadi ketika seorang bayi yang lemah berkembang secara aktif melalui tahap demi tahap sampai akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri, pribadi yang berpengetahuan dan terampil akan cara hidupnya dalam kebudayaan tempat ia tinggal.

Jadi semenjak anak lahir, si anak sudah mulai bersosialisasi. Entah itu pada ibunya, ayahnya, kakak atau adiknya, paman dan tantenya, nenek dan kakeknya, sepupunya dan lain sebagainya. Ketika ia beranjak besar, ia mulai mengenal orang lain dari berbagai umur, mulai dari anak-anak tetangga, penjaja jajanan keliling, petugas kasir, teman ibu atau ayahnya, teman abang atau kakaknya dan lain sebagainya. Demikian seterusnya sampai kemudian si anak memasuki usia sekolah.

Lantas dipertanyakan kepada anak yang bersekolah di rumah (HSer), bagaimana caranya bersosialiasi? Tentu saja jawabnya sama seperti ketika ia mulai belajar bersosialisasi dari ketika ia lahir sampai sekarang usianya. Sosialisasi yang dimaksud tentu saja tidak harus dengan usia yang sama, dengan usia yang berbeda menurut saya anak-anak justru terasah keterampilannya dalam mengahadapi orang dengan berbagai tingkat usia.

Mengusahakan pergaulan dengan sesama anak-anak (walau tidak harus seumur) tetap bisa diusahakan oleh keluarga HSer. Misalnya dengan mengikutkan anak ke taman pendidikan Al Qur’an (TPA) disekitar rumah, mengadakan taman bacaan di rumahnya dengan anggota anak-anak tetangga, menjalin pertemanan dengan anak-anak dilingkungan rumah, mengadakan temu bermain (dengan sesama anak keluarga HSer, anak teman atau saudara), mengaktifkan diri kita dengan komunitas HSer yang ada di kota masing-masing, field trip dengan komunitas positif apa saja, bergabung dengan lembaga kursus bagi anak, ikut pada klub anak, dlsb.
Jadi sosialisasi bagi anak sekolah rumah adalah sama saja dengan anak yang bersekolah formal. Bedanya HSer tidak dikondisikan untuk selalu bertemu dengan teman yang sama setiap hari.
 
3. Pengetahuan orangtua terbatas.
Selain kedua pertanyaan di atas, pernyataan bahwa pengetahuan orangtua terbatas juga sering diajukan. Di sekolah, tersedia guru-guru dengan berbagai keahlian mengajar dan spesialisasi pengetahuan. Sementara di rumah, keahlian orangtua yang lebih terbatas dikhawatirkan membuat pengetahuan anak tidak berkembang sebaik di sekolah. Dalam hal ini kami tentu tidak akan menyangkal terbatasnya pengetahuan yang dimiliki manusia. Siapapun manusia tersebut, entah itu orangtua, guru, kepala sekolah, dosen, profesor sekalipun tidaklah menjadi pribadi yang tahu segala hal. Oleh sebab itu meminta bantuan pada pihak lain adalah tidak “haram” bagi keluarga Hser. Adakalanya keluarga Hser minta bantuan pada pihak lain untuk pelajaran yang tidak dikuasainya. Dan ini sah-sah saja terjadi di kalangan keluarga sekolah rumah. Ada yang mensiasatinya dengan bertukar bahan ajar, bertukar mengajar (misalnya keluarga HSer fulan bisa mengajarkan tahsin Al Qur’an, keluarga B menukarnya dengan pelajaran bahasa Inggris, dll), memanggil guru ke rumah, mengikutkannya pada lembaga kursus dan lain sebagainya.

Selain dari cara-cara tersebut, yang tak kalah penting juga adalah membekali anak dengan kemampuan mencari informasi sendiri. Misalnya ketika ada pertanyaan dalam benaknya, anak memiliki kemampuan bertanya dan tahu ke mana ia harus mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Anak bisa diajari untuk mencari tahu mengenai pertanyaan tersebut lewat buku-buku, kamus ataupun menggunakan situs pencari (google). Jika harus menanyakan kepada seseorang, anak bisa diajari untuk megidentifikasi narasumber yang tepat dalam menjawab pertanyaan. Bertanya pada ustadz untuk mencari jawaban pertanyaan keagamaan, atau pada tukang roti atau tape untuk pertanyaan mengenai ragi atau pembuatan bahan tersebut. Sering terjadi orangtua HSer sama belajarnya seperti anak HSer dalam keluarga tsb. Dan mudah-mudahan hal tersebut dapat menjadi suatu watak positif tersendiri bagi keluarga tersebut, yaitu memiliki kemampuan untuk menyusun informasi dan menyadari bahwa orangtua/guru/ustadz tidaklah mengetahui segala hal.

Begitulah kiranya yang ada di benak saya mengenai ketiga hal diatas, legalitas, sosialisasi dan kemampuan mengajar yang terbatas. Mudah-mudahan dapat memberikan sedikit gambaran mengenai ketiga hal tersebut, dan memberikan saling pengertian antara pilihan bersekolah atau bersekolah dirumah (Hs/He).

Continue reading →
Sabtu, 07 Januari 2012

Mengenal KUTTAB

0 komentar

Sejarawan Muslim, Ahmad Amin dalam bukunya Dhuha` al-Islam pernah menulis bahwa pendidikan [Islam], pada masa keemasan Islam, tidak memiliki periodesasi tertentu; sehingga tidak ditemui [apa yang disebut] pendidikan dasar atau ibtidaiyyah, pendidikan menengah, dan sebagainya. Yang ada adalah satu periode utuh.

[Pendidikan] berawal dari kuttab atau dengan bimbingan guru khusus, dan berakhir dengan halaqah di masjid.
Berdasar itu, maka jauh sebelum sistem pendidikan sekolah masuk ke dalam tradisi Islam, sejarah Islam telah mencatat keberadaan beragam program atau lembaga pendidikan, yang dalam pengertian sekarang (seperti telah dibahas pada definisi PLS) dapat dikatagorikan sebagai program pendidikan luar sekolah yang demikian berkembang pesat mewarnai khazanah peradaban Islam, seperti kuttab, halaqah, masjid, khan, khanqah dan sebagainya. Tulisan ini dan beberapa di belakangnya akan membahas tentang lembaga-lembaga tersebut baik
dalam konteks dunia Islam secara global maupun local, khas Indonesia.


Pengertian Kuttab

Istilah kuttab telah dikenal di kala­ngan bangsa Arab pra-Islam; dan seperti sebelumnnya kuttab men­jalankan fungsi yang sama dalam Islam, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar terutama mengajarkan tulis-baca. Pada saat datangnya Islam hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis-baca. Di tengah permusuhan suku Quraisy, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Rasul saw bersama pengikutnya yang hanya sedikit. Ketika akhirnya mereka hijrah ke Madinah (622 M.) beberapa orang dari suku Aws dan Khazraj (dua suku utama Madinah) dapat menulis dan membaca.

Menuruti ajaran Islam, Rasulullah saw. memberikan perhatian khusus pada soal-soal pendidikan. Keterampilan tulis-baca yang merupakan materi utama pendidikan kuttab- menjadi semakin penting sejalan de­ngan berkembangnya komunitas Muslim Madinah. Kebutuhan paling penting, tentunya, adalah mencatat wahyu yang diterima oleh Rasul saw. Tetapi tulis-baca ini juga dibutuhkan untuk memungkinkan komunikasi antara umat Islam dengan suku dari bangsa lain. Peletakan tulis-baca sebagai prioritas dapat kita lihat dengan peristiwa pembebasan beberapa tawanan Perang Badr (2/624) setelah mereka mengajarkan tulis-baca kepada sekelom­pok Muslim. Rasul saw juga memerintahkan Al-Hakam bin Sa’id untuk mengajar pada sebuah kuttab di Madinah. Ini menunjuk­kan bahwa pendidikan telah menjadi perhatian utama umat Islam sejak masa yang paling awal.

Pada mulanya, pendidikan kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru (mu’allim, mu’addib) atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang digunakan dalam pelajaran tulis-baca ini pada umumnya adalah puisi dan pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-niiai tradisi yang baik. (Penggunaan Al-Quran sebagai teks dalam kuttab baru terjadi kemudian, ketika jumlah Muslim yang menguasai Al-Quran telah banyak, dan terutama setelah kegiatan kodifikasi pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan). Kebanyakan guru kuttab masa awal Islam adalah non­Muslim, sebab Muslim yang dapat membaca dan menulis yang jumlahnya masih sangat sedikit sibuk dengan pencatatan wahyu Al-Quran.


Dua Jenis Kuttab

Ahmad Syalabi adalah ilmuwan pertama yang menjelaskan terdapatnya dua jenis kuttab dalam sejarah pendidikan Islam. Perbedaan ini terutama didasarkan pada isi pengajaran (kuriku­lum), tenaga pengajar dan masa tumbuhnya.

Kuttab jenis pertama adalah kuttab yang berfungsi mengajarkan tulis-baca dengan teks dasar puisi-puisi Arab, dan dengan sebagian besar gurunya adalah non-Muslim (setidaknya pada masa Islam yang paling awal). Kuttab jenis kedua adalah yang berfungsi sebagai tempat pengajaran Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam. Di sinilah, menurut Syalabi, terjadinya kekeliruan pemahaman oleh bebera­pa ilmuwan terdahulu, dengan menganggap kedua jenis kuttab ini adalah sama. Ia mengambil contoh tiga orang ilmuwan: Philip K. Hitti, Ahmad Amin, dan Ignaz Goldziher. Konsekuensinya memang cukup jelas. Mempercayai bahwa tulis-baca Al-Quran dan dasar-dasar agama diajarkan pada kuttab yang sama sejak masa Islam yang paling dini akan menjurus pada kesimpulan bahwa anak-anak generasi awal Muslim mempela­jari agamanya dari orang-orang non-Muslim.

Di sinilah signifi­kansi perbedaan kedua kuttab ini menjadi terlihat jelas. Kuttab jenis kedua tidak ditemui pada masa paling awal, ketika kuttab jenis pertama sudah mulai berkembang. Pengajaran Al-Quran pada kuttab (sebagai teks) baru mulai setelah jumlah qurra’ dan huffazh (ahli bacaan dan penghafal Al- Quran) telah banyak. Se­belumnya pengajaran agama anak-anak dilangsungkan di ru­mah-rumah secara non-formal.

Dengan semangat ilmiah yang tinggi, jumlah Muslim yang mengenal tulis-baca serta menguasai Al-Quran berkembang sa­ngat cepat, dan ketergantungan pada guru-guru non-Muslim berangsur hilang. Hal ini dilengkapi dengan kontak umat Islam dengan pusat-pusat kegiatan intelektual di luar Arabia sepanjang dan sesudah penaklukan. Hanya sekitar sepuluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, pasukan Islam telah menguasai Syria, Irak, dan Mesir — daerah-daerah yang menjadi pusat kegiatan intelektual saat itu. Peristiwa ini mendorong munculnya diversifikasi pengetahuan yang dikenal oleh umat Islam dan pada gilirannya mempengaruhi kurikulum kuttab. Per­kembangan berikutnya menunjukkan bahwa tulis-baca, puisi, Al-Qur’an, gramatika bahasa Arab, dan aritmatika (berhitung dasar) menjadi bagian utama dari kurikulum pendidikan level ini

Beberapa sumber Abad Pertengahan memberikan informasi yang saling berbeda tentang usia anak memasuki pendidikan kuttab. Barangkali ini dapat juga dianggap sebagai pertanda tidak adanya ketentuan yang baku. Ilmuwan Al-Andalus (Spanyol), Ibn Hazm (w. 456/1064) menganggap bahwa usia lima tahun adalah ideal untuk memulai pendidikan kuttab.

Ibn Al-Jawzi (w. 597/1200) memberitakan bahwa ia memulai pendidikan kuttab­nya pada usia enam tahun, tetapi banyak di antara teman sekelas­nya yang lebih tua dari dia sendiri. Seorang ulama benama Ibn Al-’Adim baru masuk kuttab pada usia tujuh tahun. Yang lain bahkan menunggu sampai berusia sepuluh tahun. Semua ini menunjukkan tidak adanya keseragaman praktik tentang usia untuk memulai pendidikan kuttab.

Perbedaan ini juga berlaku dalam penekanan materi peng­ajaran, sesuai dengan kebutuhan daerah tertentu dan pertim­bangan para ulamanya. Berikut ini adalah catatan Ibn Khaldun (w. 808/1406) mengenai praktik pendidikan kuttab pada masa­nya, yang menunjukkan perbedaan tersebut pada empat daerah yang berbeda. Pertama, umat Islam Al-Maghrib (Maroko) sangat menekankan pengajaran Al-Quran. Anak-anak daerah ini tidak akan belajar sesuatu yang lain sebelum menguasai Al-Quran secara baik. Pendekatan mereka adalah pendekatan ontografi (mengenali satu bentuk kata dalam hubungannya dengan bunyi bacaan). Itulah sebabnya, menurut Ibn Khaldun, Muslim Maroko dapat menghafal Al-Quran lebih baik dari Muslim daerah mana pun.

Kedua, Muslim Spanyol (Al-Andalus). Kuttab daerah ini me­ngutamakan menulis dan membaca. Al-Quran tidak diutamakan dibandingkan dengan puisi dan bahasa Arab, misalnya. Pene­kanan dapat membaca dan menyalin Al-Quran tanpa harus menghafal­nya (seperti Muslim Maroko).

Ketiga, daerah Ifriqiyah (Afrika Utara = Tunisia, sebagian Algazay, dan sebagian Libya). Di sini, begitu Ibn Khaldun, pendidikan dasar di kuttab mengutamakan Al-Quran dengan tekanan khusus pada variasi bacaan (qira’at); lalu dilkuti dengan seni kaligrafi dan hadis.

Daerah keempat yang dibicarakan oleh Ibn Khaldun adalah daerah Timur (Al-Masyriq = Timur Tengah, Iran, Asia Tengah, dan Semenanjung India) yang  menurut pengakuannya tidak ia ketahui secara jelas diban­dingkan tiga daerah yang pertama. Secara umum daerah Timur ini menganut kurikulum campuran, dengan Al-Quran sebagai inti; tetapi tidak memadukannya dengan keterampilan kaligrafi, sehingga tulisan tangan anak-anak Muslim dari Timur tidak be­gitu baik.

Lepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, kuttab berkem­bang pesat sejak masa awal dan dalam perjalanan sejarah pera­daban Islam mengalami perkembangan yang menyesuaikan kepada berbagai latar belakang budaya. Dari lembaga dengan belasan murid pada awalnya, kuttab, di beberapa tempat, menjadi lembaga yang mengumpul ribuan murid, masih pada penghu­jung abad pertama Hijriyah. Kuttab pimpinan Abu Al-Qasim Al-Balkhi (w. 105/723) di Kufah diberitakan mempunyai 3.000 orang murid. Meluasnya lembaga ini, barangkali, dapat kita bayangkan dari laporan seorang pengembara, Ibn Hawqal (w. 367/977). Ketika ia mengunjungi Palermo, Sisilia, di sana terdapat sekitar 300 orang guru kuttab— satu fakta yang mengindikasikan terdapatnya ratusan kuttab di kota ini. Palermo hanyalah sebuah kota kecil bila dibandingkan dengan Baghdad, Damaskus, Alep­po Istanbul, Jerussalem, Samarkand, atau Kairo. Pada Abad Pertengahan beberapa kuttab di Kairo menyediakan asrama dan akomodasi bagi murid-muridnya. Di daerah ini juga ada kuttab yang berafiliasi dengan satu lembaga; pendidikan tinggi yang secara tidak langsung tentunya membantu kelangsungan pen­didikan murid-murid lulusannya ke level yang lebih tinggi. []


reference :

sayangnya, tidak ada footnote dan maraji’ yang jelas..sejarah tanpa bukti/maraji’ sebagaimana gosip yang Qila wa Qala. Sumber.
Continue reading →
Jumat, 22 Mei 2009

Oleh-Oleh Dari "Madrasah Kecil Syaikh Muqbil"

2 komentar

Oleh: Abu Maryam Al-Bantani

Bismillah. Walhamdulillah. Wa la Hawla wa la quwwata illa billah.

Di sini ana ingin sekedar berbagi kepada kaum muslimin dalam rangka peduli pendidikan bagi anak-anak kita, sehingga anak kita tetap diupayakan mendapatkan pelajaran dinul Islam yang jauh dari syirik dan bid'ah. Salah satu upaya tersebut adalah dengan diselenggarakannya Homeschooling, atauHomeducating, atau saya menyebutnya Homeschool sweet Homeschool. Yang demikianitu karena nama tidaklah mengubah hakikat/keadaan sesuatu. Homeschooling merebak beberapa waktu belakangan ini dan hal tersebut merupakan anugerah bagi kita yang di daerahnya belum memilki lembaga pendidikan Salafy. Istilah Homeschooling sekarang ini sedang populer dan sering juga jadi bahan pembicaraan. Ala kulli hal hakikat Homeschooling sebenarnya merupakan tanggungjawab orangtua sebagai pendidik walaupun dia tidak "melembagakan" atau bahkan tidak tahu apa itu "Homeschooling" . Kewajiban mendidik anak memang pertama kali dibebankan kepada ortu anak masing-masing, dan tanggung jawab ini akan ditanya oleh Alloh karena setiap kita adalah pemimpin.

Para Homeschoolers memiliki prinsip-prinsip unik salah satunya bahwa belajar itu tidak mesti tersekat oleh ruang dan waktu (dalam hal ini Kelas dan waktu jadwal pelajaran), sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur. Mungkin ada yang mengatakan Too good to be true. Akan tetapi cobalah lihat sejarah Murobbi paling berhasil dan paling sukses yaitu teladan kita Nabiyulloh Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam ketika beliau mengajari anak pamannya yaitu Abdulloh bin Abbas, sambil membonceng sepupunya beliau mengajarkan satu kalimat agung yaitu kalimat Tawhid yaitu sabdabeliau "Ihfadzillah Yahfadzka... .dst". Ini hanya sekedar satu contoh dari beberapa tarbiyyah Rosululloh Shollollohu alaihi wa sallam betapa ruang dan waktu tidak membatasi proses belajar mengajar anak. Hal ini dikembangkan oleh para Homeschoolers tentu saja ada yang dari mereka mencontoh Nabi dan ada juga yang hanya bereksperimen dalam rangka memberikanpendidikan yang layak bagi anaknya.


Alhamdulillah kami para Ikhwah Salafiyyin di Cilegon telah merasakan betapa manisnya Homeschooling (makanya saya menyebutnya Homeschool sweet homeschool). Setelah kurang lebih 7 bulan menyelenggarakan Homeschooling dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami ingin berbagi dengan para pembaca sekalian tentang Homeschool sweet Homeschool yang kami selenggarakan. Biinayatillah.


Santri kami 7 orang. tempat belajar kami banyak: kadang di rumah Abu Zulfa, kadang di rumah Abu Maryam, kadang di rumah Abu Tholhah, kadang di rumah Abu Abdillah, kadang di rumah Abu Rufaida, kadang di tempat pembakaran bata, kolamrenang, di bawah pohon (atau bahkan anak-anak senang menghafal qur'an di ataspohon mangga!), kadang di masjid Asy Syuhada, pernah juga di pesantren Ibadurrohman Pandeglang. Subhanalloh kami merasakan ni'mat yang tida tara ketika kami belum diberikan gedung sekolah maka Alloh memberikan kami tempat yangbanyak bagi santri-santri kami untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar.


Di hari-hari pertama Homeschooling, ana sering membawa Umar, Fatih, dan Royyan naik motor menuju Masjid untuk belajar hadits dan hafalan Qur-an. Sambil membonceng mereka ana ajak berdialog atau bertanya: "Ma Yajibu alayka an ta'mala qoblas Sholah?" (pelajaran fikih) mereka menjawab ("yajibu alaya an atawadho'a liaqifa amama robbi thohiron wa nadhifan") Setelah sampai masjid ana ajak mereka untuk berwudhu kemudian sholat sunnah duarokaat. Di Masjid Mereka mengulang ulang hafalan qur-an yang telah mereka hafal. Untuk banat (anak2 perempuan) mereka di rumah Abu Zulfa dengan dibimbing Ustadzah Zubaidah, Ummu Maryam dan Ummu Zulfa. Kadang kadang banat pun ingin berjalan-jalan ke Masdjid sambil lisan mereka mengulang ulang hafalan al Qur-an. Walhamdulillah

Walhamdulillah Apa yang kami ajarkan? Hafalan Al qur-an adalah prioritas kami sehingga sebagian besar KBM adalah Hifzul Qur-an. Selain itu Aqidah terutama tentang Tawhid rububiyyah yaitu pengenalan bahwa Alloh yang menciptakan semua makhluq dan konsekwesinya, kita tidak boleh beribadah kepada sesuatu yang tidak menghidupkan dan mematikan. Adajuga hafalan do'a, Hafalan Hadits arbai'n, bahasa Arob, khot dan pelajaran umum lain. Kami mengadopsi kurikulum diniyyah dari beberapa ma'had bermanhaj salafy yang ada di Indonesia .Hari sabtu malam ahad santri kami full belajar di "Pondok Pesantren" dengan menginap. Awal-awal berjalan Homeschooling, santri putra tidur di tenda (di TENDA!) karena rumah Abu abdillah tidak mamadai untuk menampung putra dan putri.


Santri kami berjumlah 9 orang. Adapun santri program intensif mencapai 19an. Santri program intensif hanya belajar hari Sabtu dan Ahad (PETUAH) Jadi Setiap PETUAH santri kami kurang lebih 28.


Kegiatan PETUAH (Pesantren Sabtu Ahad) di adakan pada hari sabtu dan ahad, santri-santri kami "mondok" untuk lebih memantapkan hafalan serta pembiasaan amaliah Sunnah. Amalan-amalan yang kami ajarkan untuk mereka praktekkan seperti adab makan dan makan berjamaah, sholat malam disamping tentu saja pelajaran diniyyah lainnya seperti aqidah hadits dan bahasa Arab. Pada awalnya Petuah ini hanya diikuti beberapa anak saja (kurang lebih 15) namun seiring berjalannya waktu peminatnya banyak sehingga santri putra tidur di tenda biru. Di samping rumah (kontrakan) pak Zawawi, suami dari Ustadzah Zubaidah, ada tanah kosong yang cukup luas dan kami putuskan untuk santri putra tidur di tenda. Walhamdulillah. Namanya anak-anak mereka tidak mengeluh bahkan terlihat enjoy sekali menikmati tidur malamnya: di TENDA. Kegiatan PETUAH ini dimulai pukul 08 pagi bagi santri reguler. bagi santri yang hanya ikut sabtu ahad saja mereka biasanya datang pukul 13.00 sepulang dari sekolah masing-masing. Acara PETUAH ini banyak menitikberatkan pada pengulangan hafalan al qur-an dan pelajaran tentang hadits. Mereka disuruh menulis hadits pendek atau penggalan hadits dari arbain An nawawiyah kemudian kami mengulas berdasarkan pemahaman para ulama salaful ummah. materi lainnya adalah khot dan muhadatsah Bahasa Arob.


Suatu siang hari Sabtu kami kedatangan tamu dua orang pelajar LIPIA Jakarta, teman dari pak Zawawi (pak Zawawi pernah mondok di Al Furqon gresik begitu pula istrinya). Setelah ngobrol ngobrol dengan mereka berdua termasuk menjawab pertanyaan mereka tentang legalitas Hmeschooling pak Zawawi meminta dua pelajar tersebut mengajarkan Muhadatsah atau mengajari mufrodat bahasa ummat Islam yaitu Bahasa Arob. Hadza qolamun, hadza kitabun, ... dan seterusnya, begitu kata mereka sambil memperlihatkan bendanya (dalam ilmu pendidikan disebut realita). setelah itu santri kami ditanya Ma Hadza. Jika mereka menjawab dengan benar pelajar LIPIA tersebut memberi nilai satu juta untuk satu pertanyaan. Walhamdulillah kami ingin mereka kaya pengalaman dengan bertemu dengan banyak orang dari berbagai disiplin ilmu yang dapat memberikan maslahat bagi din dan dunia mereka. Impian homeschoolers adalah siapapun dapat menjadi guru bagi anak didiknya. Jika mereka ingin tahu tentang adonan semen dan tukang bangunan menjelaskan tentang adonan semen maka tukang bangunan tersebut adalah guru mereka. Demikian idealisme Homeschoolers. Namun bagi kita salafiyyin tentu memilki qoidah yang Insya Alloh antum semua sudah faham.


Malam hari kami bangunkan mereka untuk sholat malam dan merekapun sholat malam (witir biasanya mereka laksanakan 3 roka'at). Setelah sholat malam kami upayakan untuk mengulang hafalan. Setelah itu sambil menunggu shubuh mereka kembali ke dunia mereka: BERCANDA dan ketawa-ketawa sesama temannya. (Dalam hal ini kami tidak terlalu keras menyikapi kebiasaan mereka karena dunia mereka adalah dunia bermain dan bercanda. Namun kami tetap memantaunya supaya diantara mereka tidak saling menyakiti karena kadang kadang mereka senang sekali saling bergumul. Sekali waktu mereka menangis karena ulah mereka sendiri. Yah... namanya juga anak-anak. Wallohu a'lam). Di suatu malam ana tidur dengan sangat lelap sekali (di tenda) kemudian seorang santri membangunkan saya: "Ami (Pamanku) bangun sholat malam!" Walhamdulillah Homeschooling benar-benar ni'mat bagi saya karena para santri sekali waktu dapat menjadi ustadz bagi diriku. Mereka telah mendidik saya dalam banyak dan hal lain yang dapat memperkaya kehidupan ana.

Walhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushsholihat. Setelah Sholat shubuh mereka kembali mengulang serta menambah hafalan al qur-an. Kadang-kadang setelah hafalan mereka mengkaji satu hadits pendek. Setelah muroja'ah atau belajar hadits, kami ajak mereka untuk gerak badan. Terkadang kami jalan-jalan di sekitar Pondok. Di belakang komplek ada banyak gubuk yang dihuni tukang bata. Anak tukang bata tersebut bernama Agus dan Ahmad kadang nginap di tenda kami.. Di satu Ahad pagi setelah rutinitas Tholabul ilmu, kami bawa anak-anak "Syeikh Muqbil" untuk mengunjungi pembakaran bata. Pada waktu tersebut agus tidak nginap di tenda. Kami datang dan Agus sudah menunggu kami. Setelah itu dengan gaya "serbatahu tentang pembakaran bata" bocah berusia 8 tahun tadi menjelaskan tentang proses pembakaran bata. Alhamdulillah Agus dapat menjadi "guru" bagi santri-santri kami.


Kami juga mengisi kegiatan PETUAH dengan bermain sambil belajar bagi anak-anak. Contohnya pesan berantai. Ustadz membisikkan nashihat dalam bahasa Arob atau Indonesia ke telinga anak kemudian si anak melanjutkan ke temannya. Memanah juga kami ajarkan atau lebih tepatnya kami jadikan permainan bagi santri. Berbekal panah yang kami beli di PUNCAK Bogor kami biarkan mereka menarik busur di Tanah lapang. Di samping kami ada bukit kecil kami ceritakan juga sedikit tentang pasukan memanah Rosululloh ketika perang Uhud. Biasanya mereka sangat (teramat) antusias sekali jika mendengarkan Siroh. Ini pula yang dikembangkan para Homeschoolers bahwanya belajar itu diupayakan bersifat integralistik dan kontekstual. Para Homeschoolers sering mengajarkan fisika sederhana dengan kejadian yang biasa ditemukan sehari-hari. Peristiwa menarik busur dan melesatnya anak panah bagi para fisikawan adalah peristiwa fisika. (Hanya saja Abu Maryam tidak begitu faham fisika sehingga hal tadi tidak kami integralkan dalam kegiatan memanah. Mungkin teman-teman di milis dapat mengoreksi ana jika statemen tadi keliru. wallohu a'lam. Jadi kami integralkan pelajaran Siroh dengan kegiatan bermain panah. Mereka tidak merasa sedang belajar siroh. Inilah konsep belajar sambil bermain). Ala kulli hal inilah pendekatan integralistik yang jadi obsesi para Homeschoolers.


Terkadang kami perintahkan mereka untuk balap lari sambil menjelaskan bahwa Rosululloh pernah balap lari dengan Istrinya. Dan yang mena'jubkan mayoritas dari mereka ini "Mau aja" apa kata ustadz dan ustadzahnya. Hal ini menambah keyakinan kami bahwa mereka ini benar-benar "Gelas Kosong" yang siap diisi apa saja. Maka berhati-hatilah wahai para orangtua dalam memberikan pendidikan bagi anak anak anda. Mereka siap meniru dan patuh terhadap apa yang anda perintahkan dan anda contohkan! Fattaqulloh. ...


Tamu lain, atau kami sengaja mengundangnya, adalah Ismail berusia 16 tahun kurang lebih, siswa setingkat SMA di Al Irsyad Tengaran yang sedang mudik. Dia mengajarkan hadits tentang keutamaan jujur dan bahaya dusta. Sebelumnya ana perkenalkan Ismail kepada santri bahwa dia juga mondok seperti kalian hanya saja dia mondok di tempat yang jauh. Kemudian saya beritahu juga bahwa kakaknya Ismail ini bahkan mondok di luar negeri yaitu di Yaman, belajar dengan ulama negeri Yaman yaitu syeikh yahya. Sambil memancing-mancing mereka untuk termotivasi untuk belajar dengan ulama kelak jika mereka sudah dewasa. Umar langsung menjawab "Umar mau belajar di Arab!" (maksudnya Arab Saudi karena ibunya selalu mendorong dia untuk belajar di Saudi kelak). Setelah selesai ngajar mereka langsung ngakrab dengan Kak Ismail. Demikian mereka memanggilnya. Mulailah mereka bertanya dengan pertanyaan macam macam "beli dimana nih jam tangannya" tanya seorang santri sambil menarik tangan kak Ismail untuk melihat jam tangannya. Yah .....demikianlah anak-anak.


Setelah beberapa minggu mondok di tenda, maka kami beranggapan santri tidak bisa terus menerus tidur di tenda setiap malam ahad. Setelah mencari rumah kontrakan di sekitar komplek Bumi Rakata Asri, tempat kami biasa mondok, dan ternyata tidak ada yang dikontrakkan maka kami memutuskan untuk membuat gubuk/atau rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu. Tentu saja ini lebih nyaman ketimbang di tenda yang sumpek. Subhanalloh, anak-anak merasa sangat senang dengan keberadaan gubuk ini sehingga santri putripun "ngotot" ingin merasakan tidur di gubuk. Untuk tidak mengecewakan santri putri, mereka diberi kesempatan untuk menginap sekali di gubuk. Selanjutnya santri putra menjadi penghuni tetap gubuk setiap sabtu dan ahad. Di gubuk inilah para santri program intensif dan reguler muroja'ah, mengkaji hadits, mendengarkan siroh dan nonton VCD Islami dengan menggunakan Laptop yayasan Al Hanif Cilegon (seperti adab anak sholih, wisuda tahfizh al quran di Madinah), untuk memberi semangat kepada mereka agar senantiasa menghafal qur-an. Sekarang ini santri putra memiliki teman sekaligus "ustadz cilik" yang menemani mereka untuk muroja'ah dan menambah hafalan. Dia adalah Adit, berusia 12 tahun dan hafal 7 juz, yang pernah mondok di Syeikh Bin Baz Yogyakarta . Kami meminta Adit untuk menemani adik-adiknya ketika mondok. Pada waktu senggang Mas Adit, atau kadang ami Adit, demikian para santri biasa memanggilnya, memberikan permainan cerdas cermat, dan para santri sangat antusias sekali dalam permainan ini. Walhamdulillah. Jika mengacu kepada opini pengamat-pengamat Homeschooling di Indonesia ini maka kata mereka tidak ada salahnya bagi anak yang bersekolah formal menjalani program Homeschooling.

Maka PETUAH SYEIKH MUQBIL ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada manak-anak salafiyyun Cilegon yang bersekolah formal untuk merasakan suasana pondok pesantren dan merasakan Homeschooling. Karena "Apa yang tidak bisa diambil seluruhnya, jangan dibuang semuanya" Ma Laa yudarriku kulluh la yutroku Jalluh, demikian kata pepatah. Demikian sedikit tambahan untuk acara PETUAH SYEIKH MUQBIL, Pesantren Sabtu Ahad Syeikh Muqbil) Kunjungan ke Pesantren Ibadurrohman Pandeglang Kami memang memprogramkan bagi santri-santri kami untuk dapat berwisata minimal 3 bulan sekali (semoga Alloh memudahkan). Pesantren Ibadurrohman dipimpin oleh seorang ustadz muda yang baru lulus dari jamiah Islamiyyah Madinah saudi arabia . Kami meminta izin kepada beliau agar santri-santri cilik kami dapat menginap di pondoknya. Ustadz Fakhruddin pimpinan pondok tersebut, tidak berkeberatan sama sekali dan menyambut dengan sambutan yang hangat. Kamipun berangkat dengan menyewa satu mobil, 2 mobil tumpangan dari Abu Zulfa dan Ummu zulfa, satu mobil bak terbuka dari Abu Burhan yang anaknya mondok dengan kami, dua mobil sedan milik Pak Ridjal (ketua yayasan Al Hanif) dan Pak dwi. Total enam mobil yang berangkat ke pandeglang. Anak-anak sangat ceria sekali dalam perjalanan ini. Subhanalloh. Dalam mobil anak-anak muroja'ah hafalan qur-an.


Di Pesantren para santri kami langsung ngakrab dengan para santri Tsanawiyyah Ibadurrohman. Mereka bermain bola dan ngobrol-ngobrol di dalam kamar santri. Ba'da sholat fardhu (Dzuhur, ashar, maghrib dan shubuh) santri-santri cilik kami berbaur ngaji hadits dari bulughul marom dan nashihat nashihat dari kitab ulama yang diuraikan oleh Ustadz Fakhruddin. penyampaian materi sering diselingi dengan metode ustadz bertanya santri menjawab. Di waktu luang ana bertanya kepada Ustadz fakhruddin tentang metode penyampaian materi diniyyah bagi anak-anak maka beliau menjelaskan bahwa syeikh utsaimin sering bertanya kepada para santrinya sehingga materi yang disampaikan lebih mengena. Sewaktu kami survey ke Ma'had Al Bayyinah Karawang bulan mei 2006, ustadz Ade dan Pak fatkhurrohman menjelaskan bahwa mereka memiliki 'bank soal'. wallohu a'lam seperti apa konkritnya, namun dengan metode tanya jawab seperti ini santri cilik lebih dapat memahami materi.


Berenang di Cikoromoy letak Pondok Pesantren Ibadurrohman adalah di kaki gunung. Di dekat pondok ada obyek wisata kolam renang yang airnya dari mata air pegunungan. airnya jernih dan tentu saja tidak membuat mata pedih seperti kolam renang yang menggunakan kaporit. ba'da Ashar kami berangkat ke Cikoromoy, 3 kilometer dari pondok. Di kolam renang akh zawawi melatih renang beberapa santri. Ana dan akh zawawi pun tidak melewatkan kesempatan untuk balapan renang di kolam tersebut. Tentu saja kami jelaskan bahwa Rosulullos Shollollohu alaihi wa sallam mengnjurkan kegiatan berenang ini. Ahad pagi pukul 8 kami bertolak ke Cilegon dengan mengambil rute arah Labuan dan kami mampir di pantai Carita Pandeglang dan membiarkan para santri menikmati keindahan laut dan... lagi-lagi... mereka minta berenang. jadilah mereka berenang di Pantai Carita.


Program Guru Tamu

1. Memasak (bikin kue) Ummu umar -umar santri kami- pernah mengajarkan cara bikin kue untuk santri-santri program reguler yang berjumlah 9 orang. Kami berkunjung ke rumah Umar, sekitar 5 km dari BBS 3 Cilegon. Di rumah umar santri membuat adonan kue dan memasak kue tersebut.

2. Berkebun Pertama kali pelajaran berkebun diajarkan oleh Ummu Khodijah. Pelajaran disampaikan dengan cara langsung mempraktekkan tanaman.

3. Berkebun dan manfaat tanaman oleh Ummu fathimah yang pernah kuliah Di IPB Bogor . pada pelajaran ini santri dijelaskan tentang struktur dan fungsi tanaman secara umum. Setelah muroja'ah para santri langsung mengadakan 'tour' di sekitar rumah ummu fathimah untuk mengenal tumbuh-tumbuhan. setelah kuliah singkat para santri diberikan pertanyaan oleh Ummu Fathimah dan yang dapat menjawab mendapatkan hadiah. Setelah selesai memberikan pertanyaan ummu fathimah membagikan snack kepada para santri.... dan ustadzatnya. (Insya Alloh kami akan meminta Ummu Burhan, Penjahit terkenal di BBS 3 untuk mengajarkan dasar-dasar, menjahit bagi anak-anak Homeschoolers. Insya Allohu Ta'ala).

Demikian sedikit sharing dari saya. Semoga menjadi Inspirasi bagi antum semua.
Sumber: Milis As-Sunnah (dengan sedikit perubahan).
Continue reading →
Rabu, 22 April 2009

Hadiah Untuk Peminat Sekolahrumah

0 komentar

Oleh: Abu Maryam Al Bantani

Alhamdulillah kami ucapkan jika anda merasa mantap untuk membekali pendidikan Islam anak-anak anda dengan metode Sekolahrumah (Homeschooling. ) Langkah selanjutnya adalah membekali diri anda untuk dapat menjadi guru, staf administrasi, dan teman baik anak anda selain peran sebagai orangtua yang menginginkan tercetaknya generasi penerus bangsa yang cinta al Qur-an dan as Sunnah dan meniti jalan salaful ummah. Yang demikian itu disebabkan pola pendidikan Sekolahrumah banyak melibatkan peran orangtua sebagai penyelenggara pendidikan bagi anaknya.

Sekolahrumah dianggap sebagai suatu bentuk pendidikan “murah meriah” (dan Alhamdulillah direstui pemerintah) dan yang tidak kalah penting adalah para orangtua dapat menanamkan ilmu kepada anak sesuai manhaj ahlussunnah wal jama’ah. Seorang petinggi DIKNAS RI mengatakan bahwa Sekolahrumah dapat membantu program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah Indonesia . Namun kata beliau untuk dapat melaksanakan sekolahrumah dengan baik, seseorang memerlukan wawasan dan pengetahuan tentang berbagai pendekatan dan cara melaksanakan sekolahrumah yang benar. Oleh karena itu kemampuan orangtua untuk menjadi pengajar bagi anaknya adalah syarat mutlak untuk menyelenggarakan Sekolahrumah. Hal ini tentu saja bukan dalam rangka menyurutkan langkah ikhwah sekalian untuk memberikan pendidikan metode Sekolahrumah untuk anak anda. Namun semua itu untuk meyakinkan kita semua agar kesinambungan pendidikan anak-anak kita tetap terjaga.
Ada satu model Sekolahrumah yang dijelaskan DIKNAS yaitu Sekolahrumah Majemuk. Jika mengacu kepada penjelasan DIKNAS tersebut maka bentuk Sekolahrumah yang kami jalankan adalah Sekolahrumah Majemuk yaitu beberapa keluarga sepakat menjalankan Sekolahrumah. Bentuk Sekolahrumah ini lebih mudah bagi para orangtua yang belum memiliki pengalaman mengajar, terutama mengajar anak-anak yang memiliki karakteristik unik. Tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan mengajar sama pentingnya dengan ilmu yang diberikan bagi orangtua yang ingin menerapkan metode Sekolahrumah. Adapun orangtua yang menyelenggarakan sendiri disebut dengan “Sekolahrumah Tunggal.”

Dalam penyelenggaraannya, Sekolahrumah yang kami jalankan dibantu oleh lulusan Pondok Pesantren bermanhaj salaf, diantaranya lulusan pondok pesantren Al Furqon Gresik, Minhajussunnah Bogor, syaikh Jamilurrohman Yogyakarta. Dengan dibantu oleh ikhwah yang pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren memudahkan kami untuk menyusun kurikulum diniyah sekaligus metode mengajarkannya.

Sebagai tambahan tulisan di Al Mawaddah beberapa edisi lalu tentang kunjungan ke Pondok pesantren Al Furqon Gresik, setelah berkunjung ke Pondok Al Furqon, kami melanjutkan kunjungan ke Pondok Thoifah Kediri, Imam Bukhari Solo dan Jamilurrohman Yogyakarta. Tujuannya adalah mempelajari dan membandingkan kurikulum yang diterapkan di pondok-pondok tersebut. Salah satu pola pendidikan yang diterapkan di pondok-pondok tersebut adalah menitikberatkan kepada hafalan al Qur-an. Alhamdulillah hal itu kami terapkan pula pada anak-anak kami sehingga mereka memprioritaskan hafalan al Qur-an, hafalan Hadits (Arbain An Nawawiyah dan hadits hadits pendek lain) dan materi Diniyyah seperti Fiqh, Aqidah, Akhlaq dan Siroh. Kami bersyukur kepada Alloh karena anak-anak kami disibukkan dengan menghafal al Qur-an. Nasehat kami janganlah terpengaruh syubhat yang mengatakan kebiasaan menghafal menjadikan bangsa ini terbelakang. Kita harus yakin bahwa seiring dengan bertambahnya ilmu dan berkembangnya intelektual dan emosional anak-anak dengan mempelajari al Qur-an dan as Sunnah maka pada gilirannya akan dengan mudah mengatasi permasalahan hidup bahkan permasalahan yang dihadapi bangsa ini dengan al Qur-an dan as Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah sebagai referensi pertama dan utama mereka.

Adapun kurikulum pendidikan umum lebih mudah untuk kami susun karena buku-buku pelajaran umum dapat diperoleh dengan mudah. Namun perlu adanya tashfiyah dari buku buku pelajaran umum yang akan diberikan ke anak-anak kita. Untuk lebih aman, orangtua dapat mengajarkan pendidikan umum dengan pendekatan tematis. Misalnya kita ingin mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia kepada anak-anak kita maka pilihlah tema-tema Islam dalam pengajaran bidang studi tersebut. Atau pengajaran matematika dengan memberikan soal cerita: Ahmad kemarin bershodaqoh sebanyak 500 rupiah. Hari ini dia bershodaqoh lagi sebesar 2000. Berapa banyak uang yang dishodaqohkan Ahmad? Hal ini tentu saja menuntut kreativitas orangtua dalam mengajarkan anak-anaknya. Saya sarankan juga untuk mempelajari buku-buku pelajaran SD yang diterbitkan Yayasan Al Sofwa Jakarta Insya Alloh karena semua materi pelajaran umum sudah dikemas sedemikian rupa agar sejalan dengan manhaj Salaf. Selain itu Yayasan Al Sofwa juga menyediakan buku-buku diniyah yang Insya Alloh dapat digunakan untuk bahan ajar sekolahrumah kita.Wallohu a'lam. Tak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mereka merasa betah di sekolah sekaligus rumahnya. Tidak jarang anak-anak tidak termotivasi belajar karena faktor suasana belajar yang membuat mereka malas. Berdasarkan pengalaman, mayoritas anak-anak usia 7-9 belum memiliki intrinsic motivation (motivasi yang berasal dari dalam dirinya.) Salah satu teknik menanamkan motivasi kepada anak adalah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, cara belajar siswa aktif selain tentu saja do’a orangtua agar anaknya senantiasa mencintai belajar.Dan salah satu teknik pengajaran yang paling efektif adalah dengan keteladanan. Maka mulailah benahi diri kita sebelum membenahi anak-anak kita. Ingat!Rosululloh shollollohu alaihi wa sallam berhasil mencetak manusia -manusia sekaliber shohabat ridhwanulloh alaihim ajmain salah satunya adalah dengan keteladanan.

Aspek lain yang harus diperhatikan adalah mengetahui bahwa anak-anak kita memiliki karakteristik unik. Dalam satu keluarga boleh jadi antara anak yang satu dengan yang lainnya berbeda karakternya. Namun satu hal yang pasti adalah anak-anak kita berada diatas fithrohnya dan tugas para orangtua menjaga anak-anak agar senantiasa berada diatas fithrohnya. Mereka ini ibarat gelas kosong yang siap diisi apa saja dan para orangtualah yang mengisi gelas kosong tersebut. Maka nasehat kami perhatikanlah karakter dasar anak-anak kita dan bekali serta isi anak-anak kita dengan tarbiyyah yang memungkinkan mereka untuk senantiasa berada diatas fithrohnya. Al Qur-an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah akan membuat anak-anak kita senantiasa berada di atas fithrohnya.

Adapun karakteristik anak-anak secara umum yang kami temui berdasarkan pengalaman adalah:

1. Mereka enerjik, seringkali tidak mau diam dan sering bergerak kesana kemari terutama anak laki-laki. Nasehat kami sabarlah dalam menghadapi karakter yang satu ini namun bukan berarti senantiasa membiarkan mereka bergerak semau mereka.

2. Mereka antusias, serba ingin tahu dan tertarik dengan apa saja. Manfaatkan karakter ini dengan memperlihatkan dan menceritakan sesuatu. Misalnya: bawalah gambar-gambar pemandangan seperti gunung, sungai, sawah. Biarlah mereka menikmati gambar tersebut sambil bertanya: siapakah yang menciptakan semua ini?..dst. Atau tanyalah apa bahasa arabnya gunung… bahasa arabnya awan… dst? Selain itu anak-anak sangat antusias sekali jika diceritakan kisah kisah kepahlawanan yang kami ambil dari buku-buku Siroh. Manfaatkan karakter ini untuk menanamkan kisah-kisah yang sarat keteladanan dan kepahlawanan dari tokoh-tokoh Shohabat, sehingga mereka terbiasa meng-idolakan Abu Bakar, Umar, Hamzah dan para shohabat lainnya- semoga Alloh meridhoi mereka.

3. Mereka cepat. Anak-anak cepat sekali menghafal dan cepat merekam apa yang mereka dengar dan lihat. Manfaatkan karakter ini untuk menghafal al Qur-an dan al Hadits. Lihatlah bagaimana salah seorang Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sangat dihormati dan populer di Indonesia yaitu Imam Syafi’i, beliau hafal al Qur-an di usia dini. Namun jangan lupa mereka belum memiliki motivasi dari dalam dirinya sehingga orangtua harus senantiasa membimbing anaknya untuk mengulang ulang hafalan al Qur-an agar hafalan tersebut tidak hilang .Putarkan kaset murottal al Qur-an. Yang tidak kalah pentingnya jauhkan anak-anak dari media televisi karena tidak mungkin “ma’had” yang anda bangun di rumah untuk anak anda tersedia media perusak paling wahid di rumah anda yakni televisi yang dapat membunuh karakter anak sekaligus mangacaukan hafalan Al Qur-an anak anda! Ingat… anak akan cepat merekam pengaruh buruk televisi!

4. Mereka ribut. Janganlah terpancing emosi dalam menghadapi karakter yang satu ini dan jangan terburu-buru memvonis anak anda dengan vonis “nakal dan tidak mau diatur.” Jangan membayangkan anak-anak seperti anda yang duduk tenang ketika pengajian berlangsung. Namun sekali lagi bukan berarti anak-anak dibiarkan ribut dan tidak memiliki adab. Anda harus sabar dan dapat mengendalikan emosi dalam menghadapai keributan anak dan pandai menyusun kata-kata yang baik dan pas bagi anak-anak ketika menasehati anak anda. Jangan lupa do’akan anak ketika mereka berbuat kesalahan seperti ashlahakumulloh dan berikan pujian berupa do’a jika mereka berbuat kebaikan dengan do’a Barokallohu fiik.

5. Mereka anak-anak. Anak-anak adalah anak-anak. Maka bersikaplah realistis dan tidak menuntut tuntutan yang melampaui kemampuan mereka. Anak-anak walaupun sudah diberi pemahaman tentang Ilmu Dienul Islam namun mereka tetap membutuhkan bimbingan dan pengawasan. Misalnya biarpun mereka telah diajarkan beberapa adab Islami seperti tidak boleh makan dengan berdiri namun seringkali mereka makan sambil berdiri bahkan sambil berjalan. Oleh karena itu jangan membayangkan bahwa dengan sekali atau dua kali pengajaran tentang adab-adab Islami kemudian secara otomatis mereka akan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah pentingnya peran orangtua sebagi murobbi yakni senantiasa mengawasi dan membimbing anaknya serta senantiasa mendoakan mereka.

6. Mereka menyenangkan. Pertama kali yang harus ditanamkan adalah anak-anak dapat menyenangkan anda, oleh karena itu bersikaplah positif terhadap anak-anak. Wallohu a'lam.

Karakter anak tersebut hanya contoh kecil yang kami temui ketika menjalankan Sekolahrumah Majemuk. Saran kami perbanyaklah membaca buku-buku pendidikan anak diantaranya buku Nida Ilal Murobbiyyin Wal Murobbiyyat Lit Tawjihil Banin Wal Banat (Petunjuk Praktis Bagi Para Pendidik Muslim) oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, yang diterjemahkan oleh Ustadz Ahmas Faiz terbitan Pustaka Istiqomah, tahun 1997. Atau buku yang belum lama ini terbit berjudul "Begini seharusnya menjadi Guru" karya syaikh Fuad terbitan Darul Haq Jakarta (Mudah-mudahan Al Akh Abu Isa Hasan Cilandak mau membuat resensi buku ini di milis). Namun sekali lagi dunia pengajaran adalah dunia praktek dan teknis, artinya tidak berhenti kepada teori di atas kertas saja. Saran lain, jika memungkinkan undang ustadz-ustadz salafy untuk memberikan dauroh di kota anda tentang pendidikan anak sekaligus sosialisasikan metode Sekolahrumah ini kepada saudara-saudara kita yang lain dan ajak mereka untuk menjalankan bersama-sama. Selain itu adakan program berbagi dengan komunitas Sekolahrumah Salafy di sekitar anda (jika anda sudah mempraktekkan Sekolahrumah) untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul sekaligus sharing tentang teknik pengajaran serta sharing bahan ajar. Hal ini akan banyak manfaatnya sehingga anak anda akan senantiasa di update dengan teknik pengajaran serta bahan ajar terkini.Wallohu a’lam. Mendidik anak memang perlu banyak persiapan dan pengorbanan namun jangan khawatir pahalanyapun besar dan akan senantiasa mengalir walaupun kita sudah meninggal dunia jika anak kita menjadi anak yang sholih. Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk mencetak anak sholih dan sholihah.

Mudah-mudahan sedikit masukan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Ana berharap antum semua dapat membangun sekolah-sekolah salafy berbasis rumah dan keluarga di daerah antum sendiri. Billahit tawfiq wal hidayah.

Sumber gambar: http://cheeqarahmat.wordpress.com






Continue reading →