Beranda
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Januari 2012

Tak Sama

0 komentar


Kala bulir peluh menjelma
Menjadi tetesan yang jatuh satu satu

Saat kening dengan bumi menyatu

Apakah sama?

Dengan hanya semilir angin menyapa

Meniup membawa teduh wajah pendosa


Juga saat pipi itu basah

Memohon ampun merintih

Terjaga di lambung malam

Saat kantuk berselimut kelam

Apakah sama?

Dengan tawa terbahak

Mengarungi malam panjang

Mainkan dawai dawai kehancuran

Berteriak berkelakar bernyanyi riang


Tentu tidak!




--------------
Bekasi, 05/01/12

Continue reading →
Sabtu, 30 Januari 2010

Bait Syair Ibnul Qoyyim

1 komentar



Katakanlah kepada mereka, perkataan seorang yang ahli menasehati

Dan hak suatu nasehat adalah didengarkan

Sejak kapan orang-orang mengetahui dalam agama kita

Bahwa nyanyian adalah sunnah yang diikuti?

Dan seseorang diperbolehkan makan seperti keledai

Dan menari-nari dalam kerumunan hingga terjatuh

Mereka mengatakan, Kami mabuk karena rasa cinta terhadap Tuhan

Padahal yang membuat mereka mabuk tiada lain adalah amarah

Begitu pula binatang, jika telah kenyang

Hilangnya rasa haus dan rasa kenyang membuat mereka menari-nari

Seruling, nyanyian dan Yasin membuatnya mabuk,

jika dibacakan kepadanya tiada akan tertunduk

Dimanakah akal, dimanakah otak?

Tiadakah dari kalian orang yang mau mengingkari bid’ah-bid’ah ini?

Masjid-masjid kita dihinakan dengan nyanyian

Dan gereja-gereja dimuliakan dengannya.[1]


Bacalah kitab, maka mereka akan menunduk, bukan karena kusyu’

Tapi itu adalah ketundukkan orang yang lupa lagi lalai

Dan datangkanlah nyanyian, maka mereka bersuara seperti keledai

Demi Alloh, mereka menari bukanlah karena Alloh

Rebana, seruling dan irama anak kijang,

Sejak kapan engkau melihat ibadah dilakukan dengan hal-hal yang melalaikan?

Kitab itu terasa berat oleh mereka, ketika mereka melihatnya

Dipenuhi dengan perintah dan larangan

Mereka mendengar gemuruh dan kilat darinya, karena kitab berisi

Larangan dan ancaman dari melakukan hal-hal yang dilarang

Mereka melihatnya sebagai pemutus terbesar bagi hawa nafsu

Dari segala keinginannya, yaitu pemotongannya yang tiada henti

Dan lagu itu datang sesuai keinginan nafsunya

Karena itulah, lagu itu menjadi sosok yang mulia di matanya

Dimanakah lengan-lengan kokoh yang memutuskan hawa nafsu

Dari penyebab-penyebabnya, yang terdapat pada orang-orang bodoh dan lalai itu?

Jika hal itu bukan khamr yang meracuni tubuh, maka sesungguhnya ia

Adalah khamr yang meracuni akal, ia semisal dan sama dengannya

Lihatlah kemabukan yang diakibatkan ketika meminumnya

Dan lihatlah kemabukan saat mereka menikmati kelalaian itu

Perhatikanlah, bagaimana ia merobek-robek pakaiannya

Setelah ia merobek-robek hatinya yang lalai

Tentukanlah, mana di antara dua khamr ini yang lebih layak

Untuk diharamkan dan dicap Sebagai dosa disisi Alloh?[2]



[1] Ibnul Qayyim menyebutkannya dalam kitab “Ighatsat Al-Lahfan” I/353, dan tidak disebutkan siapa pengarang bait ini, bisa jadi bait-bait di atas adalah hasil karyanya.

[2] Ibid, I/346

Sumber: di sini
Continue reading →
Sabtu, 12 Desember 2009

Kesaksian

0 komentar


Dibawah rintik hujan

Ku saksikan Rahmat-Mu

Bersama gemuruh air jatuh dibebatuan

Ku lihat ke Maha Perkasaan-Mu

Disa’at burung berkicau di pepohonan menyambut pagi

Daku terbuai dalam kesucian dan keagungan-Mu

Ketika kemilau pelangi menghiasi langit

Ku saksikan ke Maha Indahan dan ke Maha sempurnaan-Mu

Semilir angin menerpa wajah membawa kesejukan

Menyusup kedalam pori-pori, mengalir dalam setiap nadi

Hingga sampai ke hati menghantarkan kedamaian

Kutahu kasih-sayang-Mu meliputi segala sesuatu

Dilembah ini .. dalam kesunyian, kesejukan dan kedamaian

Aku bersaksi, aku bertasbih, aku memuja dan memuji-Mu

Robbi .. Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia

Dakulah yang telah berbuat sia-sia bergelimang dosa

Seluruh makhluk bertasbih mengagungkan-Mu

Dan aku.. ke-akuan membuatku buta tak membaca ayat-ayat-Mu,

Kesombongan membuatku tuli tak mendengar Firman-Mu, keangkuhan membuatku bisu tidak bertasbih memuja dan memuji-Mu.

Namun, Engkau Maha Mengetahui .. hatiku tetap bersaksi

Engkaulah Yang Maha Perkasa dan akulah si lemah, maka kuatkanlah aku

Engkaulah Yang Maha Mulia dan akulah si hina maka muliakanlah aku

Engkaulah Yang Maha Kaya dan akulah si miskin, maka anugerahilah aku

Akulah si pendosa dan Engkaulah Yang Maha Pengampun dosa

Maha Suci Engkau .. maka jagalah daku dari azab neraka

Robbi .. daku terlalu lemah untuk menanggung azab-Mu

Jauhkanlah daku dari orang yang engkau campakkan ke neraka dan Engkau hinakan

Robbi .. aku telah mendengar seruan-Mu

Aku bersaksi Engkaulah Sang Pencipta

Hanya untukmu semata segala bentuk ibadah

Engkaulah pemilik segala nama yang indah dan sifat yang sempurna

Ampunilah dosaku, hapuslah keselahanku, dan wafatkanlah aku bersama orang-orang yang baik

Robbi .. berikanlah yang telah Engkau janjikan melalui Rasul-Mu

Janganlah hinakan daku di yaumil qiyamah

Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji

Amin.


Abuz Zubeir Hawaary

Suatu pagi di Hutan Lembah Aek Martua




Continue reading →
Sabtu, 20 Juni 2009

Menanti

0 komentar
Oleh Ustadz Abu Zubair Al-Hawary



Setiap hari kunanti kedatanganmu

Setiap pagi kusambut senyummu

Aku mencarimu,

Berselimut embun bercampur asap

yang ada hanya kepedihan menusuk mata

napas sesak tersedak asap

kugosok mata seolah tak percaya

kian pedih, semakin sedih

oohh .. kiamatkah hari?!!

Kenapa sudah berapa pagi tidak ada matahari?!!

Akhirnya kau datang walau telah siang

Tapi kenapa, kau datang tanpa senyuman

Wajah pucat tidak bercahaya

Asa hilang dalam angkara

Karena ulah manusia

Matahari menyala

Udara dan Bumi membara

Hai manusia, kau sedang melukis bencana

Di darat dan lautan,

Dengan tangan-tangan jahiliyah

Dan kemudian

Binasa dalam siksa

Pekanbaru, Sya’ban 1425 Hijriyah.

Ditulis ketika Pekanbaru diselimuti kabut asap

Sumber: Ustadz Abu Zubair Al-Hawary



Continue reading →
Sabtu, 02 Mei 2009

Puisiku Untukmu

1 komentar
Oleh: Zain Atmawijaya

Masih ku ingat
kawan
saat dulu jemariku pernah kau genggam
sembari pundakku kau kokohkan
kau kata pada itu,
"Jalan kita masih panjang, kawan
masih banyak aral kan merintang
jangan dulu kau usap peluhmu
biarkan ia menetes jatuh
jangan dulu kau sarungkan pedangmu
biarkan ia tetap terhunus,
waktu kitapun terlalu berharga
untuk sekedar membalut luka
karena perang belum usai
bahkan genderangnya baru ditabuh
tetaplah di sini, bersamaku"
itu ucapmu.

Tapi lihatlah kini
kawan
saat sudah langkah ku tapaki
peluh tak pernah kuusap lagi
sayatan luka banyak tertoreh di tubuh ini
kau lepaskan genggamanmu
kau hapus jejak-jejak kaki
yang dulu pernah kau tapaki
sendiri,
kau meringis
dengan sedikit darah menetes,
kau balut
luka kecil yang tak seberapa
hingga akhirnya tak kutemui lagi
wujud perkasamu dijalan ini.

Aku masih di sini
kawan
di jalan ini
di perang ini
di jalan yang dulu kita pernah bertemu
di jalan yang dulu kau teguhkan langkahku
di jalan yang dulu kau mengilang dariku.

Aku masih di sini
kawan
masih menunggumu
kembali
aku ingin kita berpeluh lagi
aku ingin kita berdarah lagi
aku ingin kita berperang lagi
sekarang dan selamanya.



Cileungsi, 8 Jumadil Awwal 1429 H
Teruntuk "sebagian jiwaku" yang telah pergi, masih kunanti engkau kembali.
"Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Quluubanaa 'ala diinika"
("Wahai Dzat Yang Membolak-balik hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu")
Continue reading →
Minggu, 08 Maret 2009

Maharku Untukmu

0 komentar


Oleh: Zain Atmawijaya

Ku tahu, kilauan emas atau bahkan mutiara tak akan menyilaukan mata jelitamu. Sebagaimana ku tahu betapa berharganya engkau bagiku. Wahai 'Bidadariku…'

Tak jua kau tanya apa pekerjaanku dan berapa penghasilanku, sebagaimana para wanita dunia itu berlomba mendapatkan lelaki yang kaya raya. Kau bukan seperti itu 'Bidadariku…'

Juga kau tak peduli bahwa aku hanya lelaki tanpa sederetan gelar di belakang namaku. Aku bukanlah sarjana atau master terlebih lagi doktor. Aku hanya lelaki yang tergila-gila padamu!

Engkau tak peduli itu semua. 'Bidadariku…'

Padahal cantik parasmu tak akan bisa tergoreskan oleh barisan kata pujian para penyair yang memujamu. Mata lentikmu akan mampu menusuk dada hingga tembus ke jantung tiap lelaki yang memandangmu, bahkan ia lebih tajam daripada pedang para pejuang! Kau sempurna 'Bidadariku…'

Ku ingin melamarnu, dengan mahar yang kau inginkan;

Berupa sujud-sujud panjangku di sepertiga malam, berupa ringkihan permohonan ampunku kepada Rabbku, berupa tapak-tapak kaki yang kulangkahkan menuju taman-taman surga; masjid dan majlis ilmu, berupa sayatan luka dan tetesan darah yang tertumpah di medan-medan perjuangan.

Ku ingin melamarmu, bidadari surga!
Mahar itu akan kuserahkan. Akad itu akan kuucapkan!

Tunggu aku di dipan-dipan rumah kita di surga! Tunggu aku untuk kita memadu cinta!

Dari aku yang merindukanmu.

Bogor, Rabii'ul Awwal 1430 H/Maret 2009 M.
Continue reading →