Beranda
Jumat, 13 November 2009

Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

0 komentar

Kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah peneguhan nyata akan tauhid. Ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.


Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Seorang Teladan Yang Baik
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan hidupnya selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah meninggalkannya. Posisinya dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang selalu patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau pun tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat dan karunia ilahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ


“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tak pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan beliau sebagai teladan dalam hal ini,

sebagaimana dalam firman-Nya:


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيْمَ لِأَبِيْهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ


“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5)

Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencegah mereka dari sikap taqlid buta terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ. قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِيْنَ. قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ. قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ. قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. وَتَاللهِ لَأَكِيْدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِيْنَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang bisa memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya kepada jalan yang lurus, serta mengaruniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami karuniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang shalih.” (An-Nahl: 121-122)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:


وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً

“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

Dengan sekian keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)

Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya. Terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Beberapa Amalan Mulia di Bulan Dzulhijjah


Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya, yang sebagiannya tidak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antara amalan mulia tersebut adalah:

a) Haji ke Baitullah
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam. Kemuliaannya nan tinggi memosisikannya sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.16, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma)

Ibadah haji yang mulia ini tidaklah bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Terlebih tatkala kita menyaksikan jutaan umat manusia yang datang berbondong-bondong dari segenap penjuru yang jauh menuju Baitullah, menyambut panggilan ilahi dengan lantunan talbiyah:


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yang besar, mengandung rahasia yang tinggi serta tujuan yang mulia, dari kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)

Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yang sama. Sehingga terjalinlah suatu perkenalan, kedekatan, dan saling merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali persatuan umat Islam, serta terwujudnya kemanfaatan bagi urusan agama dan dunia mereka.” (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)

Lebih dari itu, ibadah haji mempunyai banyak hikmah dan pelajaran penting yang apabila digali rahasianya maka sangat terkait dengan agama dan sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik dalam hal keimanan, ibadah, muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara hikmah dan pelajaran penting tersebut adalah:

1. Perwujudan tauhid yang murni dari noda-noda kesyirikan dalam hati sanubari, manakala para jamaah haji bertalbiyah.

2. Pendidikan hati untuk senantiasa khusyu’, tawadhu’, dan penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah, serta amalan haji lainnya.

3. Pembersihan jiwa untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menyembelih hewan qurban di hari-hari haji.

4. Kepatuhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.

5. Tumbuhnya kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, serta menunaikan amalan yang sama pula (haji). (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah Min Al-hajj)

b) Menyembelih Hewan Qurban


Menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, 13 Dzulhijjah) merupakan amalan mulia dalam agama Islam. Di antara bukti kemuliaannya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya semenjak berada di kota Madinah hingga wafatnya. Sebagaimana yang diberitakan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma:


أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ يُضَحِّي

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun tinggal di kota Madinah senantiasa menyembelih hewan qurban.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dia -At-Tirmidzi- berkata: ‘Hadits ini hasan’)

Penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, juga tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putra beliau Nabi Ismail ‘alaihissalam. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)

Demikianlah sosok Ibrahim, yang senantiasa patuh terhadap segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepadanya walaupun berkaitan dengan diri sang anak yang amat dicintainya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam hatinya untuk menjalankan perintah tersebut. Ini tentunya menjadi teladan mulia bagi kita semua, dalam hal ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Da’i (Pegiat Dakwah)

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengandung banyak pelajaran berharga bagi para da’i. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

a) Para da’i hendaknya membangun dakwah yang diembannya di atas ilmu syar’i. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika mendakwahi ayahnya (dan juga kaumnya):


يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)

Dan demikianlah sesungguhnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku berdakwah di jalan Allah di atas ilmu, demikian pula orang-orang yang mengikuti jejakku. Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf: 108)

b) Para da’i hendaknya berupaya menyampaikan kebenaran yang diketahuinya secara utuh kepada umat, serta memperingatkan mereka dari segala bentuk kebatilan dan para pengusungnya. Kemudian bersabar dengan segala konsekuensi yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:


وَإِبْرَاهِيْمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. إِنَّمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُوْنَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut: 16-18)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun tetap bersabar dan istiqamah di atas jalan dakwah manakala umatnya melancarkan segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadapnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوا اقْتُلُوْهُ أَوْ حَرِّقُوْهُ فَأَنْجَاهُ اللهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 24)

Demikian pula Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perjalanan dakwah beliau merupakan simbol kesabaran di alam semesta ini.

Sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan teladan bagi para da’i secara khusus dan masing-masing individu secara umum dalam hal kepedulian terhadap kondisi umat dan negeri. Hal ini sebagaimana yang tergambar pada kandungan doa Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Orangtua


Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merupakan cermin bagi para orangtua dalam perkara pendidikan dan agama anak cucu mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يِا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kalimat itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan agama ini bagi kalian, maka janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’.” (Al-Baqarah: 132)

Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak segan-segan berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk keshalihan anak cucunya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ

“Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari perbuatan menyembah berhala.” (Ibrahim: 35)


رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku beserta anak cucuku orang-orang yang selalu mendirikan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Setiap orangtua mengemban amanat besar untuk menjaga anak cucu dan keluarganya dari adzab api neraka. Sehingga dia harus memerhatikan pendidikan, agama dan ibadah mereka. Sungguh keliru, ketika orangtua acuh tak acuh terhadap kondisi anak-anaknya. Yang selalu diperhatikan justru kondisi fisik dan kesehatannya, sementara perkara agama dan ibadahnya diabaikan. Ingatlah akan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala:


يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Anak

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para anak, karena beliau adalah seorang anak yang amat berbakti kepada kedua orangtuanya serta selalu menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42-45)

Ketika sang bapak menyikapinya dengan keras, seraya mengatakan (sebagaimana dalam ayat):


أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيْمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti (dari menasihatiku) niscaya kamu akan kurajam! Dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Maka dengan tabahnya Ibrahim ‘alaihissalam menjawab:


سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam: 47)

Demikianlah seyogianya seorang anak kepada orangtuanya, selalu berupaya memberikan yang terbaik di masa hidupnya serta selalu mendoakannya di masa hidup dan juga sepeninggalnya.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Suami-Istri

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para suami-istri, agar selalu membina kehidupan rumah tangganya di atas ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin dari dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan istrinya yang bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke kota Makkah (yang masih tandus dan belum berpenghuni) atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail –dalam usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/kantong air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Dia ulang kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Atas dasar itulah, seorang suami harus berupaya membina istrinya dan menjaganya dari adzab api neraka. Demikian pula sang istri, hendaknya mendukung segala amal shalih yang dilakukan suaminya, serta mengingatkannya bila terjatuh dalam kemungkaran.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikianlah mutiara hikmah dan pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyentuh beberapa elemen penting dari masyarakat kita. Semoga kilauan mutiara hikmah tersebut dapat menyinari perjalanan hidup kita semua, sehingga tampak jelas segala jalan yang mengantarkan kepada Jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

(Sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=572)




Continue reading →
Jumat, 30 Oktober 2009

Geert Wilders ternyata Yahudi Keturunan Indonesia!

0 komentar
Den Haag - Politikus Geert Wilders ternyata Yahudi berdarah Indonesia. Nenek buyutnya berasal dari keluarga Yahudi Hindia Belanda (kini Indonesia) dengan nama keluarga Meijer. Identitas ini dicoba ditutupi dengan mengecat pirang rambutnya.

Demikian hasil penelitian ginealogis Dr. Lizzy van Leeuwen, spesialis sejarah poskolonial Belanda, dalam mingguan opini De Groene Amsterdammer edisi pekan ini (3/9/2009).

Ini foto binatang bernama Geert Wilders saat dia berumur 18 tahun di Isra-Hell. Dia mengecat rambutnya untuk menyembunyikan ke-Indo-annya. Well, binatang terkutuk spt ini gak diterima di negara kita. Mukanya makin mirip....
"Kakek buyutnya adalah Johan Ording, Wakil Direktur Pengawas Keuangan di Jawa Timur dan bukan seorang militer seperti pengakuan Wilders sebelumnya," ungkap Van Leeuwen.

Van Leeuwen menemukan data tentang Johan Ording ini di Nationaal Archief (Arsip Nasional), Den Haag. Ording dipecat di 1934 karena ‘penyalahgunaan berat’ dan biaya perjalanannya kembali ke Hindia Belanda -dia saat itu sedang liburan di Negeri Belanda- tidak diganti.

Selain itu Ording juga tidak mendapat pensiun, sehingga keluarganya mengalami kesulitan keuangan berat. "Tak bisa lain, peristiwa kurang menyenangkan itu telah meninggalkan jejak mendalam dalam keluarga itu," terang Van Leeuwen.

Van Leeuwen mendeskripsikan bahwa sejarah keluarga Wilders yang berakar di Hindia Belanda itu memiliki pengaruh besar pada ideologi politiknya. "Melebihi apa pun, Wilders dapat ditempatkan sebagai pendendam poskolonial pur sang, terobsesi oleh pembalikan perubahan demografis pascaperang dan pelurusan kesalahan sejarah," paparnya.

Dalam artikelnya Van Leeuwen juga mengaitkan antara Wilders dengan Nationaal-Socialistische Beweging/NSB (Gerakan Sosialistis Nasional).

sumber:
http://www.detiknews.com
http://www.islamineurope.net



Continue reading →
Minggu, 30 Agustus 2009

DOA-DOA DI BULAN RAMADHAN

1 komentar

Dzikir Ketika Melihat Hilal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca,

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)

Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“, sebanyak dua kali atau lebih. (Al Adzkar, 183)

Do’a Ketika Berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)

Do’a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ سْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wasqi man saqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)

Do’a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo'akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a Setelah Shalat Witir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Continue reading →
Rabu, 29 Juli 2009

Serba-Serbi Bulan Sya'ban [01]

0 komentar


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, saat ini kita telah menginjak bulan Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).
Keutamaan Bulan Sya’ban

Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathoif Al Ma’arif, 235)

Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban

Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)? Asy Syaukani mengatakan, “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban? An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ” (Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Hikmah di balik puasa Sya’ban adalah:

1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkala manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban. Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.
3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 234-243)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya (terkabulnya) do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad)

Malam Nishfu Sya’ban, Malam Diturunkannya Al Qur’an (?)

Di antara kaum muslimin ada yang menganggap bahwa malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) adalah malam yang istimewa. Di antara keyakinan mereka adalah bahwa malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Sandaran mereka adalah perkataan ‘Ikrimah tatkala beliau menjelaskan maksud firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Qs. Ad Dukhan: 3-4)

Yang dimaksud dengan malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam Lailatul Qadar, menurut mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ikrimah –semoga Allah merahmati beliau- memiliki pendapat yang lain. Beliau berpendapat bahwa malam tersebut adalah malam nishfu sya’ban. (Zaadul Maysir, 5/346)

Namun pendapat yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu turun pada malam Nishfu Sya’ban adalah pendapat yang lemah karena pendapat tersebut telah menyelisihi dalil tegas Al Qur’an. Ayat di atas (surat Ad Dukhan) itu masih global dan diperjelas lagi dengan ayat,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Dan dijelaskan pula dengan firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr.” (Qs. Al Qadr: 1)

Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Klaim yang mengatakan bahwa malam yang penuh berkah (pada surat Ad Dukhan ayat 3-4) adalah malam Nishfu Sya’ban –sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan lain-lain-, tidak diragukan lagi bahwasanya itu adalah klaim yang jelas keliru yang menyelisihi dalil tegas dari Al Qur’an. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa saja yang menyelisihi al haq (kebenaran) itulah kebatilan. Sedangkan berbagai hadits yang menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban, itu jelas-jelas telah menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas dan hadits tersebut sungguh tidak berdasar. Begitu pula sanad dari hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul ‘Arobi dan para peneliti hadits lainnya. Sungguh sangat mengherankan, ada seorang muslim yang menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas, padahal dia sendiri tidak memiliki sandaran dalil, baik dari Al Qur’an atau hadits yang shahih.” (Adhwaul Bayan, 1552)

Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban dengan Shalat dan Do’a (?)

Sebagian ulama negeri Syam ada yang menganjurkan untuk menghidupkan atau memeriahkan malam tersebut dengan berkumpul ramai-ramai di masjid. Landasan mereka sebenarnya adalah dari berita Bani Isroil (berita Isroiliyat). Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya’ban –dengan shalat, berdo’a atau membaca berbagai kisah- untuk menghidupkan malam tersebut adalah sesuatu yang terlarang. Mereka berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan berkumpul di masjid rutin setiap tahunnya adalah suatu amalan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah).

Namun bagaimanakah jika menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat di rumah dan khusus untuk dirinya sendiri atau mungkin dilakukan dengan jama’ah tertentu (tanpa terang-terangan, pen)? Sebagian ulama tidak melarang hal ini. Namun, mayoritas ulama -di antaranya adalah ‘Atho, Ibnu Abi Mulaikah, para fuqoha (pakar fiqih) penduduk Madinah, dan ulama Malikiyah- mengatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah). (Lathoif Al Ma’arif, 247-248). Dan di sini pendapat mayoritas ulama itu lebih kuat dengan beberapa alasan berikut:

Pertama, tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Bahkan Ibnu Rajab sendiri mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248).

Seorang ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) yaitu Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At Tahdzir minal Bida’, 20). Begitu juga Syeikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.” (At Tahdzir minal Bida’, 20)

Kedua, ulama yang mengatakan tidak mengapa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan menyebutkan bahwa ada sebagian tabi’in yang menghidupkan malam tersebut, sebenarnya sandaran mereka adalah dari berita Isroiliyat. Lalu jika sandarannya dari berita tersebut, bagaimana mungkin bisa jadi dalil untuk beramal[?] Juga orang-orang yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, sandaran mereka adalah dari perbuatan tabi’in. Kami katakan, “Bagaimana mungkin hanya sekedar perbuatan tabi’in itu menjadi dalil untuk beramal[?]” (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 296)

Ketiga, adapun orang-orang yang berdalil dengan pendapat bahwa tidak terlarang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat sendirian sebenarnya mereka tidak memiliki satu dalil pun. Seandainya ada dalil tentang hal ini, tentu saja mereka akan menyebutkannya. Maka cukup kami mengingkari alasan semacam ini dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). Ingatlah, ibadah itu haruslah tauqifiyah yang harus dibangun di atas dalil yang shahih dan tidak boleh kita beribadah tanpa dalil dan tanpa tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 296-297)

Keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144)

Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak boleh dikhususkan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada suatu dalil yang mengkhususkannya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).

Syeikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Seandainya malam Nishfu Sya’ban, malam jum’at pertama di bulan Rajab, atau malam Isra’ Mi’raj boleh dijadikan perayaan (hari besar Islam) atau ibadah lainnya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi petunjuk kepada kita umat Islam mengenai hal ini atau beliau sendiri merayakannya. Jika memang seperti itu beliau lakukan, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan menyampaikan hal tersebut pada kita umat Islam dan tidak mungkin para sahabat menyembunyikannya. Ingatlah, para sahabat adalah sebaik-baik manusia di masa itu dan mereka paling bagus dalam penyampaian setelah para Nabi ‘alaihimus shalatu was salaam. … Dan kalian pun telah mengetahui sebelumnya, para ulama sendiri mengatakan bahwa tidak ada satu dalil yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat yang menunjukkan keutamaan malam jumat pertama dari bulan Rajab dan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Oleh karena itu, menjadikan hari tersebut sebagai perayaan termasuk amalan yang tidak ada tuntunannya sama sekali dalam Islam.” (At Tahdzir minal Bida’, 30). Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kaum muslimin yang masih ragu dengan berbagai alasan ini. [Silakan lihat penilaian kelemahan beberapa hadits mengenai malam Nishfu Sya'ban di akhir pembahasan ini]

Adapun mengenai Shalat Alfiyah, apakah shalat ini adalah suatu amalan yang dituntukan ketika malam Nishfu Sya’ban?

Perlu diketahui, orang yang pertama kali menghidupkan shalat ini pada malam Nishfu Sya’ban adalah seseorang yang dikenal dengan Babin Abul Hamroo’. Dia tinggal di Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki bacaan Qur’an yang bagus. Suatu saat di malam Nishfu Sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho. Kemudian ketika itu ikut pula di belakangnya seorang pria. Kemudian datang lagi tiga atau empat orang bermakmum di belakangnya. Lalu akhirnya jama’ah yang ikut di belakangnya bertambah banyak. Ketika datang tahun berikutnya, semakin banyak yang shalat bersamanya pada malam Nishfu Sya’ban. Kemudian amalan yang dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di rumah-rumah kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi sunnah Nabi. (Al Bida’ Al Hawliyah, 299)

Lalu kenapa shalat ini dinamakan shalat Alfiyah? Alfiyah berarti 1000. Shalat ini dinamakan demikian karena di dalam shalat tersebut dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 1000 kali. Shalat tersebut berjumlah 100 raka’at dan setiap raka’at dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 10 kali. Jadi total surat Al Ikhlas yang dibaca adalah 1000 kali. Oleh karena itu, dinamakanlah shalat alfiyah.

Adapun hadits yang membicarakan mengenai tata cara dan pahala mengerjakan shalat alfiyah ini terdapat beberapa riwayat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhu’at (Kumpulan Hadits-hadits palsu). Ibnul Jauzi mengatakan, “Hadits yang membicarakan keutamaan shalat alfiyah tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu (maudhu’). Mayoritas jalan dalam tiga jalur adalah majhul (tidak diketahui), bahkan di dalamnya banyak periwayat yang lemah. Oleh karena itu, dipastikan haditsnya sangat tidak mungkin sebagai dalil.” (Al Maudhu’at, 2/127-130)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Continue reading →
Minggu, 28 Juni 2009

Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!

0 komentar

Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.

Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul. (Sumber: Eramuslim)


Continue reading →
Rabu, 24 Juni 2009

Rajab, Bagaimana Kita Bersikap?

0 komentar



Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) di dalam Islam. Disebut dengan bulan haram karena pada bulan-bulan ini kita dilarang berperang, selain juga melakukan kedzaliman padanya lebih terlarang isbanding dengan bulan-bulan yang lainnya. Tentang hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah:36)

Dan dalam hadits Abu Bakrah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda; “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti hari ketika Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun dua belas bulan, diantaranya empat bulan haram (suci), tiga berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, (yaitu) bulan antara Jumadil (‘Ula dan Tsaniyah) dengan Sya’ban” Muttafaqun ‘alaihi.

Inilah keutamaan bulan-bulan haram dari selainnya. Dan untuk bulan Rajab, tidak diketahui satu pun dalil yang menunjukkan keutamaan lain selain dari yang disebutkan. Karena itu tidak satu pun hadits shahih yang menerangkan tentang keistimewaan bulan ini, tidak mengistimewakannya dengan melakukan puasa pada keseluruhannya atau pada sebagian hari-harinya, dan tidak pula dengan melakukan shalat malam serta ibadah-ibadah khusus lainnya. Bahkan seluruh hadits-hadits yang menerangkan keistimewaan bulan ini adalah lemah dan kebanyakannya adalah dusta dan palsu. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani Rahimahullah dalam Tabyin Al Ajab bima Warada fi Syahri Rajab, “Tidak satu pun hadits yang menerangkan tentang keutamaan bulan Rajab adalah benar (shahih), tidak tentang keutamaan berpuasa seluruhnya dan tidak pula sebagiannya, atau shalat pada malam-malam tertentu padanya. Dan Al Imam Abu Ismail Al Harawi Al Hafidz sudah pernah mengatakan hal ini sebelum saya, kami meriwayatkan hal ini darinya dengan sanad yang shahih, begitu pula dari selain beliau…”

Dan banyak lagi nukilan dari para imam yang menegaskan hal ini. Seperti Al Imam Abdullah bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah, ia berkata, “Tidak satu pun hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang keutamaan bulan Rajab dan berpuasa padanya yang shahih” Ada’u ma Wajab (hal 56) karya Al Hafidz Ibnu Dahyah Rahimahullah. Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (25/290-291) dan Asy-Syaikh Aba Buthain Rahimahullah dalam Durarus Sanniyyah (5/361).

Di sisi banyaknya nukilan dari para imam tersebut, tragisnya masih saja ada dari ummat islam yang mengistimewakan bulan ini dengan melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada asal-usulnya di dalam syari’at yang suci, seperti mengistimewakannya dengan berpuasa, apakah di awalnya atau keseluruhannya. Dan umumnya ummat islam di tanah air mengistimewakan bulan ini dengan membaca dzikir-dzikir khusus seperti “Istighfar bulan Rajab” yang dibaca setiap pagi dan petang sebanyak 70 kali, sambil mengangkat tangan membaca;

اللَّهمَّ اغْفِر لِي وارْحمَنِي وَ تُبْ عَلَيَّ

“Allahummaghfirlii warhamnii watub ‘alayya”
Artinya; “Ya Allah, ampunilah aku, dan kasihilah aku serta terimalah taubatku”.

Biasanya dzikir ini dibaca setelah imam salam dari shalat wajib dan diikuti oleh pada jamaah dengan serempak. Dan masih banyak lagi amalan-amalan serupa di bulan Rajab yang tidak ada asal usulnya di dalam syari’at ini. Dan semua ini merupakan ajaran baru yang tidak dikenal oleh generasi shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, padahal mereka lah generasi terbaik ummat ini, seperti yang terdapat dalam hadits,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya” Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu.
Maka masih adakah kedzaliman yang lebih besar dari mencampakkan hukum Allah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengambil hukum manusia?!

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (QS. Asy-Syuura: 21)

Apalagi ada riwayat dari salaf bahwa dahulu mereka mengingkari perbuatan orang-orang yang mengistimewakan bulan ini dengan berpuasa, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Kharsyah bin Al Hurr, ia berkata; “Saya menyaksikan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu memukuli tangan orang-orang di bulan Rajab, sampai mereka meletakkan tangan-tangan mereka di piring-piring makannya (melarang mereka berpuasa –penerj), dan Umar Radhiallahu’anhu berkata; “Makanlah kalian, bulan ini adalah bulan yang dahulu dimuliakan orang-orang jahiliyah”. Ada’u ma Wajab (hal 57 dan 63)

Juga ketika Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu menemui keluarganya dan melihat mereka membeli cangkir-cangkir minum, dan bersiap-siap untuk puasa, ia berkata, “Apa ini!” Mereka menjawab, “Rajab”. Abu Bakr Radhiyallahu ’anhu berkata, “Apa kalian ingin menyerupakannya dengan Ramadhan? Lalu ia memecahkan cangkir-cangkir tersebut” Majmu’ Fatawa (25/290-291)

Maka wajib bagi kita untuk kembali kepada syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’aala dalam segala hal, dan meninggalkan syari’at-syari’at buatan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala sebelum yang lainnya. Wallahu A’lam bis Shawaab.

Sumber: Di Sini


Continue reading →
Sabtu, 20 Juni 2009

Menanti

0 komentar
Oleh Ustadz Abu Zubair Al-Hawary



Setiap hari kunanti kedatanganmu

Setiap pagi kusambut senyummu

Aku mencarimu,

Berselimut embun bercampur asap

yang ada hanya kepedihan menusuk mata

napas sesak tersedak asap

kugosok mata seolah tak percaya

kian pedih, semakin sedih

oohh .. kiamatkah hari?!!

Kenapa sudah berapa pagi tidak ada matahari?!!

Akhirnya kau datang walau telah siang

Tapi kenapa, kau datang tanpa senyuman

Wajah pucat tidak bercahaya

Asa hilang dalam angkara

Karena ulah manusia

Matahari menyala

Udara dan Bumi membara

Hai manusia, kau sedang melukis bencana

Di darat dan lautan,

Dengan tangan-tangan jahiliyah

Dan kemudian

Binasa dalam siksa

Pekanbaru, Sya’ban 1425 Hijriyah.

Ditulis ketika Pekanbaru diselimuti kabut asap

Sumber: Ustadz Abu Zubair Al-Hawary



Continue reading →
Sabtu, 23 Mei 2009

Pertobatan Mantan Musisi Banjo

1 komentar


Oleh: Abu Ayaz Novy Rostiyan
Betapa tidak, sejak kecil saya merasa sudah dikaruniai sense of musical yang tinggi. Sejak SD kelas 2 saya sudah main gitar, kemudian sejak SD kelas 4 kursus gitar di YAMAHA Jakarta sampai SMP kelas 3 di Medan hingga mencapai grade 4, kala itu saya sangat mahir memainkan reportoir “Recuerdos dela Alhambra”, “Sonata in C”, “Asturias” dan "Capricio Arabe". Ketika masih SD pula,saya sudah mencoba bermain electone organ, kemudian ketika SMP saya mencoba memainkan alat musik 5-string Banjo. Ketika SMA di Bandung, saya begitu aktif main Band dengan warna musik Jazz, posisi saya pada Keyboard/synthesizer. Saya memiliki telinga musikal yang sangat tajam (Perfect Relative Pitch). Di waktu yang bersamaan, saya juga bermain Banjo dengan intensif, ini terus berlanjut sampai saya mahasiswa di Arsitektur Trisakti. Saya juga sempat menjadi pelatih Band di SMA Tarakanita Puloraya Jakarta Selatan dan SMA Al Azhar Pusat Jakarta Selatan. Saya juga pernah menjadi pelatih Vocal Group SMA Al Azhar Jakarta Selatan, SMA 4 dan SMA 7 Jakarta Pusat.Kepiawaian saya memainkan 5 string Banjo membuat saya banyak punya koneksi dengan para pemain Banjo di Amerika dan asosiasi musik bluegrass di Amerika, dan beberapa diantara mereka secara informal menggelari saya sebagai Master Banjo Of Indonesia. Sayapun memiliki banyak murid Banjo. Murid saya tersebar di Jakarta, Bandung dan surabaya. Disaat yang sama pula, saya banyak mengerjakan karya2 musik (program sequencing) untuk acara2 televisi dan radio, seperti jingle iklan, ilustrasi musik sinetron, minus one for stage performance dll.

Akhirnya, Alhamdulillah, Allah azza wa jall berkehendak untuk memberi saya hidayah. Bertemulah saya dengan teman2 ahlus sunnah waljama’ah. Kami sering diskusi yang akhirnya saya dipinjami beberapa kitab bermanhaj salaf. Betapa terkejutnya saya ketika membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai tafsir surat Luqman ayat 6, dimana dalam tafsir itu diriwayatkan bahwa sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam yang bernama Ibnu Mas’ud r.a berkata : ”yang dimaksud dengan itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah yang tiada sesembahan kecuali dia (3 kali)”. Saya juga membaca sebuah hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda: ”Benar-benar akan ada sebagian umatku yang mereka menghalalkan zina, sutra (bagi lelaki), khomr (minuman keras) dan alat-alat musik…..”, juga beberapa hadits lainnya yang senada dengan itu. Kemudian terdapat banyak pendapat dari para ulama yang membenarkan tentang keharaman nyanyian dan musik, mulai dari jaman sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam seperti Ibnu Mas’ud r.a, Ibnu Umar r.a, Ibnu Abbas r.a, lalu juga ulama2 di bawah jaman sahabat seperti Sa’id bin Musayyib, Al Qasim bin Muhammad, Umar bin Abdul Aziz, Fudahil bin ‘Iyadh, Adh Dhahhak, Yazid bin Al Walid, Asy Sya’bi, kemudian juga imam mazhab yang 4 seperti Imam Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik bin Anas (Maliki), Imam Asy Syafi’i (Syafi’i) dan Imam Ahmad bin Hanbal (Hambali), lalu ada juga ulama2 ahlus sunnah dijaman pertengahan seperti Abuth Thoyyib At Thobari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Ahmad bin Yahya An Najmi.

Saya juga membaca fatwa2 ulama terkemuka masa kini seperti, Syaikh Albani, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baaz dll.

Saya juga mengikuti beberapa kajian ilmiah islam dan kajian hadits, yang akhirnya saya dapat menyimpulkan dan meyakini bahwa musik dan nyanyian dalam Islam ternyata memang dilarang/diharamkan. Setelah melakukan pendalaman dan perenungan selama berbulan-bulan, maka akhirnya sayapun memutuskan untuk berhenti main musik, dan sedapat mungkin saya berusaha keras untuk tidak menyentuh alat-alat musik yang sudah terlanjur banyak saya miliki. Maka sayapun bertaubat kepada Allah azza wa jall atas kebodohan saya terhadap syari’at Islam selama ini.

Yang sulit bagi saya adalah menghilangkan sense of musikal yang sudah sangat baik yang sudah terlanjur mengendap dalam jiwa, pikiran dan telinga saya. Coba bayangkan, dimanapun saya mendengar musik tanpa sengaja, otomatis telinga dan otak saya tanpa disadari bekerja mendeteksi secara instan solfegio/solmisasi dan harmony/chord dari nyanyian/lagu tersebut secara tepat dan akurat sampai2 ke chord extensinya segala, dan itu berlangsung sampai saat ini. Astaghfirullah.

Jadi saudara2ku sesama muslim, jika anda masih meyakini bahwa dalam islam, musik /nyanyian itu dibolehkan/dihalalkan, maka mari kita tanyakan, islam yang anda anut itu Islam pemahaman-nya siapa? Islam sekuler-kah? Islam liberal-kah? Islam lingkungan-kah? Islam tradisi-kah? Atau Islam sesuai dengan pemahaman nenek moyang? Mari dalam memahami Islam ini, kita harus berpegang teguh pada Al Qur-an dan Hadits Shahih/minimal Hasan berdasarkan pemahaman salafus shalih (orang2 shalih dijaman Sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in) dan juga pemahaman para ulama2 ahlus sunnah dijaman setelahnya yang sejalan dengan mereka.

Memang saya akui, sudah sejak lama sampai sekarang masih ada pemikiran dan pemahaman Islam yang membolehkan secara mutlak nyanyian dan musik, dan pemikiran ini di validasi oleh ulama2 mereka di Mesir. Akan tetapi Ahlus sunnah wal jama’ah berlepas diri dari pemikiran dan pemahaman seperti itu. Wallaahu musta’an.
Sumber: Blog Al-Akh Novy.
Continue reading →
Jumat, 22 Mei 2009

Oleh-Oleh Dari "Madrasah Kecil Syaikh Muqbil"

2 komentar

Oleh: Abu Maryam Al-Bantani

Bismillah. Walhamdulillah. Wa la Hawla wa la quwwata illa billah.

Di sini ana ingin sekedar berbagi kepada kaum muslimin dalam rangka peduli pendidikan bagi anak-anak kita, sehingga anak kita tetap diupayakan mendapatkan pelajaran dinul Islam yang jauh dari syirik dan bid'ah. Salah satu upaya tersebut adalah dengan diselenggarakannya Homeschooling, atauHomeducating, atau saya menyebutnya Homeschool sweet Homeschool. Yang demikianitu karena nama tidaklah mengubah hakikat/keadaan sesuatu. Homeschooling merebak beberapa waktu belakangan ini dan hal tersebut merupakan anugerah bagi kita yang di daerahnya belum memilki lembaga pendidikan Salafy. Istilah Homeschooling sekarang ini sedang populer dan sering juga jadi bahan pembicaraan. Ala kulli hal hakikat Homeschooling sebenarnya merupakan tanggungjawab orangtua sebagai pendidik walaupun dia tidak "melembagakan" atau bahkan tidak tahu apa itu "Homeschooling" . Kewajiban mendidik anak memang pertama kali dibebankan kepada ortu anak masing-masing, dan tanggung jawab ini akan ditanya oleh Alloh karena setiap kita adalah pemimpin.

Para Homeschoolers memiliki prinsip-prinsip unik salah satunya bahwa belajar itu tidak mesti tersekat oleh ruang dan waktu (dalam hal ini Kelas dan waktu jadwal pelajaran), sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur. Mungkin ada yang mengatakan Too good to be true. Akan tetapi cobalah lihat sejarah Murobbi paling berhasil dan paling sukses yaitu teladan kita Nabiyulloh Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam ketika beliau mengajari anak pamannya yaitu Abdulloh bin Abbas, sambil membonceng sepupunya beliau mengajarkan satu kalimat agung yaitu kalimat Tawhid yaitu sabdabeliau "Ihfadzillah Yahfadzka... .dst". Ini hanya sekedar satu contoh dari beberapa tarbiyyah Rosululloh Shollollohu alaihi wa sallam betapa ruang dan waktu tidak membatasi proses belajar mengajar anak. Hal ini dikembangkan oleh para Homeschoolers tentu saja ada yang dari mereka mencontoh Nabi dan ada juga yang hanya bereksperimen dalam rangka memberikanpendidikan yang layak bagi anaknya.


Alhamdulillah kami para Ikhwah Salafiyyin di Cilegon telah merasakan betapa manisnya Homeschooling (makanya saya menyebutnya Homeschool sweet homeschool). Setelah kurang lebih 7 bulan menyelenggarakan Homeschooling dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami ingin berbagi dengan para pembaca sekalian tentang Homeschool sweet Homeschool yang kami selenggarakan. Biinayatillah.


Santri kami 7 orang. tempat belajar kami banyak: kadang di rumah Abu Zulfa, kadang di rumah Abu Maryam, kadang di rumah Abu Tholhah, kadang di rumah Abu Abdillah, kadang di rumah Abu Rufaida, kadang di tempat pembakaran bata, kolamrenang, di bawah pohon (atau bahkan anak-anak senang menghafal qur'an di ataspohon mangga!), kadang di masjid Asy Syuhada, pernah juga di pesantren Ibadurrohman Pandeglang. Subhanalloh kami merasakan ni'mat yang tida tara ketika kami belum diberikan gedung sekolah maka Alloh memberikan kami tempat yangbanyak bagi santri-santri kami untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar.


Di hari-hari pertama Homeschooling, ana sering membawa Umar, Fatih, dan Royyan naik motor menuju Masjid untuk belajar hadits dan hafalan Qur-an. Sambil membonceng mereka ana ajak berdialog atau bertanya: "Ma Yajibu alayka an ta'mala qoblas Sholah?" (pelajaran fikih) mereka menjawab ("yajibu alaya an atawadho'a liaqifa amama robbi thohiron wa nadhifan") Setelah sampai masjid ana ajak mereka untuk berwudhu kemudian sholat sunnah duarokaat. Di Masjid Mereka mengulang ulang hafalan qur-an yang telah mereka hafal. Untuk banat (anak2 perempuan) mereka di rumah Abu Zulfa dengan dibimbing Ustadzah Zubaidah, Ummu Maryam dan Ummu Zulfa. Kadang kadang banat pun ingin berjalan-jalan ke Masdjid sambil lisan mereka mengulang ulang hafalan al Qur-an. Walhamdulillah

Walhamdulillah Apa yang kami ajarkan? Hafalan Al qur-an adalah prioritas kami sehingga sebagian besar KBM adalah Hifzul Qur-an. Selain itu Aqidah terutama tentang Tawhid rububiyyah yaitu pengenalan bahwa Alloh yang menciptakan semua makhluq dan konsekwesinya, kita tidak boleh beribadah kepada sesuatu yang tidak menghidupkan dan mematikan. Adajuga hafalan do'a, Hafalan Hadits arbai'n, bahasa Arob, khot dan pelajaran umum lain. Kami mengadopsi kurikulum diniyyah dari beberapa ma'had bermanhaj salafy yang ada di Indonesia .Hari sabtu malam ahad santri kami full belajar di "Pondok Pesantren" dengan menginap. Awal-awal berjalan Homeschooling, santri putra tidur di tenda (di TENDA!) karena rumah Abu abdillah tidak mamadai untuk menampung putra dan putri.


Santri kami berjumlah 9 orang. Adapun santri program intensif mencapai 19an. Santri program intensif hanya belajar hari Sabtu dan Ahad (PETUAH) Jadi Setiap PETUAH santri kami kurang lebih 28.


Kegiatan PETUAH (Pesantren Sabtu Ahad) di adakan pada hari sabtu dan ahad, santri-santri kami "mondok" untuk lebih memantapkan hafalan serta pembiasaan amaliah Sunnah. Amalan-amalan yang kami ajarkan untuk mereka praktekkan seperti adab makan dan makan berjamaah, sholat malam disamping tentu saja pelajaran diniyyah lainnya seperti aqidah hadits dan bahasa Arab. Pada awalnya Petuah ini hanya diikuti beberapa anak saja (kurang lebih 15) namun seiring berjalannya waktu peminatnya banyak sehingga santri putra tidur di tenda biru. Di samping rumah (kontrakan) pak Zawawi, suami dari Ustadzah Zubaidah, ada tanah kosong yang cukup luas dan kami putuskan untuk santri putra tidur di tenda. Walhamdulillah. Namanya anak-anak mereka tidak mengeluh bahkan terlihat enjoy sekali menikmati tidur malamnya: di TENDA. Kegiatan PETUAH ini dimulai pukul 08 pagi bagi santri reguler. bagi santri yang hanya ikut sabtu ahad saja mereka biasanya datang pukul 13.00 sepulang dari sekolah masing-masing. Acara PETUAH ini banyak menitikberatkan pada pengulangan hafalan al qur-an dan pelajaran tentang hadits. Mereka disuruh menulis hadits pendek atau penggalan hadits dari arbain An nawawiyah kemudian kami mengulas berdasarkan pemahaman para ulama salaful ummah. materi lainnya adalah khot dan muhadatsah Bahasa Arob.


Suatu siang hari Sabtu kami kedatangan tamu dua orang pelajar LIPIA Jakarta, teman dari pak Zawawi (pak Zawawi pernah mondok di Al Furqon gresik begitu pula istrinya). Setelah ngobrol ngobrol dengan mereka berdua termasuk menjawab pertanyaan mereka tentang legalitas Hmeschooling pak Zawawi meminta dua pelajar tersebut mengajarkan Muhadatsah atau mengajari mufrodat bahasa ummat Islam yaitu Bahasa Arob. Hadza qolamun, hadza kitabun, ... dan seterusnya, begitu kata mereka sambil memperlihatkan bendanya (dalam ilmu pendidikan disebut realita). setelah itu santri kami ditanya Ma Hadza. Jika mereka menjawab dengan benar pelajar LIPIA tersebut memberi nilai satu juta untuk satu pertanyaan. Walhamdulillah kami ingin mereka kaya pengalaman dengan bertemu dengan banyak orang dari berbagai disiplin ilmu yang dapat memberikan maslahat bagi din dan dunia mereka. Impian homeschoolers adalah siapapun dapat menjadi guru bagi anak didiknya. Jika mereka ingin tahu tentang adonan semen dan tukang bangunan menjelaskan tentang adonan semen maka tukang bangunan tersebut adalah guru mereka. Demikian idealisme Homeschoolers. Namun bagi kita salafiyyin tentu memilki qoidah yang Insya Alloh antum semua sudah faham.


Malam hari kami bangunkan mereka untuk sholat malam dan merekapun sholat malam (witir biasanya mereka laksanakan 3 roka'at). Setelah sholat malam kami upayakan untuk mengulang hafalan. Setelah itu sambil menunggu shubuh mereka kembali ke dunia mereka: BERCANDA dan ketawa-ketawa sesama temannya. (Dalam hal ini kami tidak terlalu keras menyikapi kebiasaan mereka karena dunia mereka adalah dunia bermain dan bercanda. Namun kami tetap memantaunya supaya diantara mereka tidak saling menyakiti karena kadang kadang mereka senang sekali saling bergumul. Sekali waktu mereka menangis karena ulah mereka sendiri. Yah... namanya juga anak-anak. Wallohu a'lam). Di suatu malam ana tidur dengan sangat lelap sekali (di tenda) kemudian seorang santri membangunkan saya: "Ami (Pamanku) bangun sholat malam!" Walhamdulillah Homeschooling benar-benar ni'mat bagi saya karena para santri sekali waktu dapat menjadi ustadz bagi diriku. Mereka telah mendidik saya dalam banyak dan hal lain yang dapat memperkaya kehidupan ana.

Walhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushsholihat. Setelah Sholat shubuh mereka kembali mengulang serta menambah hafalan al qur-an. Kadang-kadang setelah hafalan mereka mengkaji satu hadits pendek. Setelah muroja'ah atau belajar hadits, kami ajak mereka untuk gerak badan. Terkadang kami jalan-jalan di sekitar Pondok. Di belakang komplek ada banyak gubuk yang dihuni tukang bata. Anak tukang bata tersebut bernama Agus dan Ahmad kadang nginap di tenda kami.. Di satu Ahad pagi setelah rutinitas Tholabul ilmu, kami bawa anak-anak "Syeikh Muqbil" untuk mengunjungi pembakaran bata. Pada waktu tersebut agus tidak nginap di tenda. Kami datang dan Agus sudah menunggu kami. Setelah itu dengan gaya "serbatahu tentang pembakaran bata" bocah berusia 8 tahun tadi menjelaskan tentang proses pembakaran bata. Alhamdulillah Agus dapat menjadi "guru" bagi santri-santri kami.


Kami juga mengisi kegiatan PETUAH dengan bermain sambil belajar bagi anak-anak. Contohnya pesan berantai. Ustadz membisikkan nashihat dalam bahasa Arob atau Indonesia ke telinga anak kemudian si anak melanjutkan ke temannya. Memanah juga kami ajarkan atau lebih tepatnya kami jadikan permainan bagi santri. Berbekal panah yang kami beli di PUNCAK Bogor kami biarkan mereka menarik busur di Tanah lapang. Di samping kami ada bukit kecil kami ceritakan juga sedikit tentang pasukan memanah Rosululloh ketika perang Uhud. Biasanya mereka sangat (teramat) antusias sekali jika mendengarkan Siroh. Ini pula yang dikembangkan para Homeschoolers bahwanya belajar itu diupayakan bersifat integralistik dan kontekstual. Para Homeschoolers sering mengajarkan fisika sederhana dengan kejadian yang biasa ditemukan sehari-hari. Peristiwa menarik busur dan melesatnya anak panah bagi para fisikawan adalah peristiwa fisika. (Hanya saja Abu Maryam tidak begitu faham fisika sehingga hal tadi tidak kami integralkan dalam kegiatan memanah. Mungkin teman-teman di milis dapat mengoreksi ana jika statemen tadi keliru. wallohu a'lam. Jadi kami integralkan pelajaran Siroh dengan kegiatan bermain panah. Mereka tidak merasa sedang belajar siroh. Inilah konsep belajar sambil bermain). Ala kulli hal inilah pendekatan integralistik yang jadi obsesi para Homeschoolers.


Terkadang kami perintahkan mereka untuk balap lari sambil menjelaskan bahwa Rosululloh pernah balap lari dengan Istrinya. Dan yang mena'jubkan mayoritas dari mereka ini "Mau aja" apa kata ustadz dan ustadzahnya. Hal ini menambah keyakinan kami bahwa mereka ini benar-benar "Gelas Kosong" yang siap diisi apa saja. Maka berhati-hatilah wahai para orangtua dalam memberikan pendidikan bagi anak anak anda. Mereka siap meniru dan patuh terhadap apa yang anda perintahkan dan anda contohkan! Fattaqulloh. ...


Tamu lain, atau kami sengaja mengundangnya, adalah Ismail berusia 16 tahun kurang lebih, siswa setingkat SMA di Al Irsyad Tengaran yang sedang mudik. Dia mengajarkan hadits tentang keutamaan jujur dan bahaya dusta. Sebelumnya ana perkenalkan Ismail kepada santri bahwa dia juga mondok seperti kalian hanya saja dia mondok di tempat yang jauh. Kemudian saya beritahu juga bahwa kakaknya Ismail ini bahkan mondok di luar negeri yaitu di Yaman, belajar dengan ulama negeri Yaman yaitu syeikh yahya. Sambil memancing-mancing mereka untuk termotivasi untuk belajar dengan ulama kelak jika mereka sudah dewasa. Umar langsung menjawab "Umar mau belajar di Arab!" (maksudnya Arab Saudi karena ibunya selalu mendorong dia untuk belajar di Saudi kelak). Setelah selesai ngajar mereka langsung ngakrab dengan Kak Ismail. Demikian mereka memanggilnya. Mulailah mereka bertanya dengan pertanyaan macam macam "beli dimana nih jam tangannya" tanya seorang santri sambil menarik tangan kak Ismail untuk melihat jam tangannya. Yah .....demikianlah anak-anak.


Setelah beberapa minggu mondok di tenda, maka kami beranggapan santri tidak bisa terus menerus tidur di tenda setiap malam ahad. Setelah mencari rumah kontrakan di sekitar komplek Bumi Rakata Asri, tempat kami biasa mondok, dan ternyata tidak ada yang dikontrakkan maka kami memutuskan untuk membuat gubuk/atau rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu. Tentu saja ini lebih nyaman ketimbang di tenda yang sumpek. Subhanalloh, anak-anak merasa sangat senang dengan keberadaan gubuk ini sehingga santri putripun "ngotot" ingin merasakan tidur di gubuk. Untuk tidak mengecewakan santri putri, mereka diberi kesempatan untuk menginap sekali di gubuk. Selanjutnya santri putra menjadi penghuni tetap gubuk setiap sabtu dan ahad. Di gubuk inilah para santri program intensif dan reguler muroja'ah, mengkaji hadits, mendengarkan siroh dan nonton VCD Islami dengan menggunakan Laptop yayasan Al Hanif Cilegon (seperti adab anak sholih, wisuda tahfizh al quran di Madinah), untuk memberi semangat kepada mereka agar senantiasa menghafal qur-an. Sekarang ini santri putra memiliki teman sekaligus "ustadz cilik" yang menemani mereka untuk muroja'ah dan menambah hafalan. Dia adalah Adit, berusia 12 tahun dan hafal 7 juz, yang pernah mondok di Syeikh Bin Baz Yogyakarta . Kami meminta Adit untuk menemani adik-adiknya ketika mondok. Pada waktu senggang Mas Adit, atau kadang ami Adit, demikian para santri biasa memanggilnya, memberikan permainan cerdas cermat, dan para santri sangat antusias sekali dalam permainan ini. Walhamdulillah. Jika mengacu kepada opini pengamat-pengamat Homeschooling di Indonesia ini maka kata mereka tidak ada salahnya bagi anak yang bersekolah formal menjalani program Homeschooling.

Maka PETUAH SYEIKH MUQBIL ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada manak-anak salafiyyun Cilegon yang bersekolah formal untuk merasakan suasana pondok pesantren dan merasakan Homeschooling. Karena "Apa yang tidak bisa diambil seluruhnya, jangan dibuang semuanya" Ma Laa yudarriku kulluh la yutroku Jalluh, demikian kata pepatah. Demikian sedikit tambahan untuk acara PETUAH SYEIKH MUQBIL, Pesantren Sabtu Ahad Syeikh Muqbil) Kunjungan ke Pesantren Ibadurrohman Pandeglang Kami memang memprogramkan bagi santri-santri kami untuk dapat berwisata minimal 3 bulan sekali (semoga Alloh memudahkan). Pesantren Ibadurrohman dipimpin oleh seorang ustadz muda yang baru lulus dari jamiah Islamiyyah Madinah saudi arabia . Kami meminta izin kepada beliau agar santri-santri cilik kami dapat menginap di pondoknya. Ustadz Fakhruddin pimpinan pondok tersebut, tidak berkeberatan sama sekali dan menyambut dengan sambutan yang hangat. Kamipun berangkat dengan menyewa satu mobil, 2 mobil tumpangan dari Abu Zulfa dan Ummu zulfa, satu mobil bak terbuka dari Abu Burhan yang anaknya mondok dengan kami, dua mobil sedan milik Pak Ridjal (ketua yayasan Al Hanif) dan Pak dwi. Total enam mobil yang berangkat ke pandeglang. Anak-anak sangat ceria sekali dalam perjalanan ini. Subhanalloh. Dalam mobil anak-anak muroja'ah hafalan qur-an.


Di Pesantren para santri kami langsung ngakrab dengan para santri Tsanawiyyah Ibadurrohman. Mereka bermain bola dan ngobrol-ngobrol di dalam kamar santri. Ba'da sholat fardhu (Dzuhur, ashar, maghrib dan shubuh) santri-santri cilik kami berbaur ngaji hadits dari bulughul marom dan nashihat nashihat dari kitab ulama yang diuraikan oleh Ustadz Fakhruddin. penyampaian materi sering diselingi dengan metode ustadz bertanya santri menjawab. Di waktu luang ana bertanya kepada Ustadz fakhruddin tentang metode penyampaian materi diniyyah bagi anak-anak maka beliau menjelaskan bahwa syeikh utsaimin sering bertanya kepada para santrinya sehingga materi yang disampaikan lebih mengena. Sewaktu kami survey ke Ma'had Al Bayyinah Karawang bulan mei 2006, ustadz Ade dan Pak fatkhurrohman menjelaskan bahwa mereka memiliki 'bank soal'. wallohu a'lam seperti apa konkritnya, namun dengan metode tanya jawab seperti ini santri cilik lebih dapat memahami materi.


Berenang di Cikoromoy letak Pondok Pesantren Ibadurrohman adalah di kaki gunung. Di dekat pondok ada obyek wisata kolam renang yang airnya dari mata air pegunungan. airnya jernih dan tentu saja tidak membuat mata pedih seperti kolam renang yang menggunakan kaporit. ba'da Ashar kami berangkat ke Cikoromoy, 3 kilometer dari pondok. Di kolam renang akh zawawi melatih renang beberapa santri. Ana dan akh zawawi pun tidak melewatkan kesempatan untuk balapan renang di kolam tersebut. Tentu saja kami jelaskan bahwa Rosulullos Shollollohu alaihi wa sallam mengnjurkan kegiatan berenang ini. Ahad pagi pukul 8 kami bertolak ke Cilegon dengan mengambil rute arah Labuan dan kami mampir di pantai Carita Pandeglang dan membiarkan para santri menikmati keindahan laut dan... lagi-lagi... mereka minta berenang. jadilah mereka berenang di Pantai Carita.


Program Guru Tamu

1. Memasak (bikin kue) Ummu umar -umar santri kami- pernah mengajarkan cara bikin kue untuk santri-santri program reguler yang berjumlah 9 orang. Kami berkunjung ke rumah Umar, sekitar 5 km dari BBS 3 Cilegon. Di rumah umar santri membuat adonan kue dan memasak kue tersebut.

2. Berkebun Pertama kali pelajaran berkebun diajarkan oleh Ummu Khodijah. Pelajaran disampaikan dengan cara langsung mempraktekkan tanaman.

3. Berkebun dan manfaat tanaman oleh Ummu fathimah yang pernah kuliah Di IPB Bogor . pada pelajaran ini santri dijelaskan tentang struktur dan fungsi tanaman secara umum. Setelah muroja'ah para santri langsung mengadakan 'tour' di sekitar rumah ummu fathimah untuk mengenal tumbuh-tumbuhan. setelah kuliah singkat para santri diberikan pertanyaan oleh Ummu Fathimah dan yang dapat menjawab mendapatkan hadiah. Setelah selesai memberikan pertanyaan ummu fathimah membagikan snack kepada para santri.... dan ustadzatnya. (Insya Alloh kami akan meminta Ummu Burhan, Penjahit terkenal di BBS 3 untuk mengajarkan dasar-dasar, menjahit bagi anak-anak Homeschoolers. Insya Allohu Ta'ala).

Demikian sedikit sharing dari saya. Semoga menjadi Inspirasi bagi antum semua.
Sumber: Milis As-Sunnah (dengan sedikit perubahan).
Continue reading →
Sabtu, 02 Mei 2009

Puisiku Untukmu

1 komentar
Oleh: Zain Atmawijaya

Masih ku ingat
kawan
saat dulu jemariku pernah kau genggam
sembari pundakku kau kokohkan
kau kata pada itu,
"Jalan kita masih panjang, kawan
masih banyak aral kan merintang
jangan dulu kau usap peluhmu
biarkan ia menetes jatuh
jangan dulu kau sarungkan pedangmu
biarkan ia tetap terhunus,
waktu kitapun terlalu berharga
untuk sekedar membalut luka
karena perang belum usai
bahkan genderangnya baru ditabuh
tetaplah di sini, bersamaku"
itu ucapmu.

Tapi lihatlah kini
kawan
saat sudah langkah ku tapaki
peluh tak pernah kuusap lagi
sayatan luka banyak tertoreh di tubuh ini
kau lepaskan genggamanmu
kau hapus jejak-jejak kaki
yang dulu pernah kau tapaki
sendiri,
kau meringis
dengan sedikit darah menetes,
kau balut
luka kecil yang tak seberapa
hingga akhirnya tak kutemui lagi
wujud perkasamu dijalan ini.

Aku masih di sini
kawan
di jalan ini
di perang ini
di jalan yang dulu kita pernah bertemu
di jalan yang dulu kau teguhkan langkahku
di jalan yang dulu kau mengilang dariku.

Aku masih di sini
kawan
masih menunggumu
kembali
aku ingin kita berpeluh lagi
aku ingin kita berdarah lagi
aku ingin kita berperang lagi
sekarang dan selamanya.



Cileungsi, 8 Jumadil Awwal 1429 H
Teruntuk "sebagian jiwaku" yang telah pergi, masih kunanti engkau kembali.
"Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Quluubanaa 'ala diinika"
("Wahai Dzat Yang Membolak-balik hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu")
Continue reading →
Rabu, 22 April 2009

Hadiah Untuk Peminat Sekolahrumah

0 komentar

Oleh: Abu Maryam Al Bantani

Alhamdulillah kami ucapkan jika anda merasa mantap untuk membekali pendidikan Islam anak-anak anda dengan metode Sekolahrumah (Homeschooling. ) Langkah selanjutnya adalah membekali diri anda untuk dapat menjadi guru, staf administrasi, dan teman baik anak anda selain peran sebagai orangtua yang menginginkan tercetaknya generasi penerus bangsa yang cinta al Qur-an dan as Sunnah dan meniti jalan salaful ummah. Yang demikian itu disebabkan pola pendidikan Sekolahrumah banyak melibatkan peran orangtua sebagai penyelenggara pendidikan bagi anaknya.

Sekolahrumah dianggap sebagai suatu bentuk pendidikan “murah meriah” (dan Alhamdulillah direstui pemerintah) dan yang tidak kalah penting adalah para orangtua dapat menanamkan ilmu kepada anak sesuai manhaj ahlussunnah wal jama’ah. Seorang petinggi DIKNAS RI mengatakan bahwa Sekolahrumah dapat membantu program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah Indonesia . Namun kata beliau untuk dapat melaksanakan sekolahrumah dengan baik, seseorang memerlukan wawasan dan pengetahuan tentang berbagai pendekatan dan cara melaksanakan sekolahrumah yang benar. Oleh karena itu kemampuan orangtua untuk menjadi pengajar bagi anaknya adalah syarat mutlak untuk menyelenggarakan Sekolahrumah. Hal ini tentu saja bukan dalam rangka menyurutkan langkah ikhwah sekalian untuk memberikan pendidikan metode Sekolahrumah untuk anak anda. Namun semua itu untuk meyakinkan kita semua agar kesinambungan pendidikan anak-anak kita tetap terjaga.
Ada satu model Sekolahrumah yang dijelaskan DIKNAS yaitu Sekolahrumah Majemuk. Jika mengacu kepada penjelasan DIKNAS tersebut maka bentuk Sekolahrumah yang kami jalankan adalah Sekolahrumah Majemuk yaitu beberapa keluarga sepakat menjalankan Sekolahrumah. Bentuk Sekolahrumah ini lebih mudah bagi para orangtua yang belum memiliki pengalaman mengajar, terutama mengajar anak-anak yang memiliki karakteristik unik. Tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan mengajar sama pentingnya dengan ilmu yang diberikan bagi orangtua yang ingin menerapkan metode Sekolahrumah. Adapun orangtua yang menyelenggarakan sendiri disebut dengan “Sekolahrumah Tunggal.”

Dalam penyelenggaraannya, Sekolahrumah yang kami jalankan dibantu oleh lulusan Pondok Pesantren bermanhaj salaf, diantaranya lulusan pondok pesantren Al Furqon Gresik, Minhajussunnah Bogor, syaikh Jamilurrohman Yogyakarta. Dengan dibantu oleh ikhwah yang pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren memudahkan kami untuk menyusun kurikulum diniyah sekaligus metode mengajarkannya.

Sebagai tambahan tulisan di Al Mawaddah beberapa edisi lalu tentang kunjungan ke Pondok pesantren Al Furqon Gresik, setelah berkunjung ke Pondok Al Furqon, kami melanjutkan kunjungan ke Pondok Thoifah Kediri, Imam Bukhari Solo dan Jamilurrohman Yogyakarta. Tujuannya adalah mempelajari dan membandingkan kurikulum yang diterapkan di pondok-pondok tersebut. Salah satu pola pendidikan yang diterapkan di pondok-pondok tersebut adalah menitikberatkan kepada hafalan al Qur-an. Alhamdulillah hal itu kami terapkan pula pada anak-anak kami sehingga mereka memprioritaskan hafalan al Qur-an, hafalan Hadits (Arbain An Nawawiyah dan hadits hadits pendek lain) dan materi Diniyyah seperti Fiqh, Aqidah, Akhlaq dan Siroh. Kami bersyukur kepada Alloh karena anak-anak kami disibukkan dengan menghafal al Qur-an. Nasehat kami janganlah terpengaruh syubhat yang mengatakan kebiasaan menghafal menjadikan bangsa ini terbelakang. Kita harus yakin bahwa seiring dengan bertambahnya ilmu dan berkembangnya intelektual dan emosional anak-anak dengan mempelajari al Qur-an dan as Sunnah maka pada gilirannya akan dengan mudah mengatasi permasalahan hidup bahkan permasalahan yang dihadapi bangsa ini dengan al Qur-an dan as Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah sebagai referensi pertama dan utama mereka.

Adapun kurikulum pendidikan umum lebih mudah untuk kami susun karena buku-buku pelajaran umum dapat diperoleh dengan mudah. Namun perlu adanya tashfiyah dari buku buku pelajaran umum yang akan diberikan ke anak-anak kita. Untuk lebih aman, orangtua dapat mengajarkan pendidikan umum dengan pendekatan tematis. Misalnya kita ingin mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia kepada anak-anak kita maka pilihlah tema-tema Islam dalam pengajaran bidang studi tersebut. Atau pengajaran matematika dengan memberikan soal cerita: Ahmad kemarin bershodaqoh sebanyak 500 rupiah. Hari ini dia bershodaqoh lagi sebesar 2000. Berapa banyak uang yang dishodaqohkan Ahmad? Hal ini tentu saja menuntut kreativitas orangtua dalam mengajarkan anak-anaknya. Saya sarankan juga untuk mempelajari buku-buku pelajaran SD yang diterbitkan Yayasan Al Sofwa Jakarta Insya Alloh karena semua materi pelajaran umum sudah dikemas sedemikian rupa agar sejalan dengan manhaj Salaf. Selain itu Yayasan Al Sofwa juga menyediakan buku-buku diniyah yang Insya Alloh dapat digunakan untuk bahan ajar sekolahrumah kita.Wallohu a'lam. Tak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mereka merasa betah di sekolah sekaligus rumahnya. Tidak jarang anak-anak tidak termotivasi belajar karena faktor suasana belajar yang membuat mereka malas. Berdasarkan pengalaman, mayoritas anak-anak usia 7-9 belum memiliki intrinsic motivation (motivasi yang berasal dari dalam dirinya.) Salah satu teknik menanamkan motivasi kepada anak adalah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, cara belajar siswa aktif selain tentu saja do’a orangtua agar anaknya senantiasa mencintai belajar.Dan salah satu teknik pengajaran yang paling efektif adalah dengan keteladanan. Maka mulailah benahi diri kita sebelum membenahi anak-anak kita. Ingat!Rosululloh shollollohu alaihi wa sallam berhasil mencetak manusia -manusia sekaliber shohabat ridhwanulloh alaihim ajmain salah satunya adalah dengan keteladanan.

Aspek lain yang harus diperhatikan adalah mengetahui bahwa anak-anak kita memiliki karakteristik unik. Dalam satu keluarga boleh jadi antara anak yang satu dengan yang lainnya berbeda karakternya. Namun satu hal yang pasti adalah anak-anak kita berada diatas fithrohnya dan tugas para orangtua menjaga anak-anak agar senantiasa berada diatas fithrohnya. Mereka ini ibarat gelas kosong yang siap diisi apa saja dan para orangtualah yang mengisi gelas kosong tersebut. Maka nasehat kami perhatikanlah karakter dasar anak-anak kita dan bekali serta isi anak-anak kita dengan tarbiyyah yang memungkinkan mereka untuk senantiasa berada diatas fithrohnya. Al Qur-an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah akan membuat anak-anak kita senantiasa berada di atas fithrohnya.

Adapun karakteristik anak-anak secara umum yang kami temui berdasarkan pengalaman adalah:

1. Mereka enerjik, seringkali tidak mau diam dan sering bergerak kesana kemari terutama anak laki-laki. Nasehat kami sabarlah dalam menghadapi karakter yang satu ini namun bukan berarti senantiasa membiarkan mereka bergerak semau mereka.

2. Mereka antusias, serba ingin tahu dan tertarik dengan apa saja. Manfaatkan karakter ini dengan memperlihatkan dan menceritakan sesuatu. Misalnya: bawalah gambar-gambar pemandangan seperti gunung, sungai, sawah. Biarlah mereka menikmati gambar tersebut sambil bertanya: siapakah yang menciptakan semua ini?..dst. Atau tanyalah apa bahasa arabnya gunung… bahasa arabnya awan… dst? Selain itu anak-anak sangat antusias sekali jika diceritakan kisah kisah kepahlawanan yang kami ambil dari buku-buku Siroh. Manfaatkan karakter ini untuk menanamkan kisah-kisah yang sarat keteladanan dan kepahlawanan dari tokoh-tokoh Shohabat, sehingga mereka terbiasa meng-idolakan Abu Bakar, Umar, Hamzah dan para shohabat lainnya- semoga Alloh meridhoi mereka.

3. Mereka cepat. Anak-anak cepat sekali menghafal dan cepat merekam apa yang mereka dengar dan lihat. Manfaatkan karakter ini untuk menghafal al Qur-an dan al Hadits. Lihatlah bagaimana salah seorang Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sangat dihormati dan populer di Indonesia yaitu Imam Syafi’i, beliau hafal al Qur-an di usia dini. Namun jangan lupa mereka belum memiliki motivasi dari dalam dirinya sehingga orangtua harus senantiasa membimbing anaknya untuk mengulang ulang hafalan al Qur-an agar hafalan tersebut tidak hilang .Putarkan kaset murottal al Qur-an. Yang tidak kalah pentingnya jauhkan anak-anak dari media televisi karena tidak mungkin “ma’had” yang anda bangun di rumah untuk anak anda tersedia media perusak paling wahid di rumah anda yakni televisi yang dapat membunuh karakter anak sekaligus mangacaukan hafalan Al Qur-an anak anda! Ingat… anak akan cepat merekam pengaruh buruk televisi!

4. Mereka ribut. Janganlah terpancing emosi dalam menghadapi karakter yang satu ini dan jangan terburu-buru memvonis anak anda dengan vonis “nakal dan tidak mau diatur.” Jangan membayangkan anak-anak seperti anda yang duduk tenang ketika pengajian berlangsung. Namun sekali lagi bukan berarti anak-anak dibiarkan ribut dan tidak memiliki adab. Anda harus sabar dan dapat mengendalikan emosi dalam menghadapai keributan anak dan pandai menyusun kata-kata yang baik dan pas bagi anak-anak ketika menasehati anak anda. Jangan lupa do’akan anak ketika mereka berbuat kesalahan seperti ashlahakumulloh dan berikan pujian berupa do’a jika mereka berbuat kebaikan dengan do’a Barokallohu fiik.

5. Mereka anak-anak. Anak-anak adalah anak-anak. Maka bersikaplah realistis dan tidak menuntut tuntutan yang melampaui kemampuan mereka. Anak-anak walaupun sudah diberi pemahaman tentang Ilmu Dienul Islam namun mereka tetap membutuhkan bimbingan dan pengawasan. Misalnya biarpun mereka telah diajarkan beberapa adab Islami seperti tidak boleh makan dengan berdiri namun seringkali mereka makan sambil berdiri bahkan sambil berjalan. Oleh karena itu jangan membayangkan bahwa dengan sekali atau dua kali pengajaran tentang adab-adab Islami kemudian secara otomatis mereka akan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah pentingnya peran orangtua sebagi murobbi yakni senantiasa mengawasi dan membimbing anaknya serta senantiasa mendoakan mereka.

6. Mereka menyenangkan. Pertama kali yang harus ditanamkan adalah anak-anak dapat menyenangkan anda, oleh karena itu bersikaplah positif terhadap anak-anak. Wallohu a'lam.

Karakter anak tersebut hanya contoh kecil yang kami temui ketika menjalankan Sekolahrumah Majemuk. Saran kami perbanyaklah membaca buku-buku pendidikan anak diantaranya buku Nida Ilal Murobbiyyin Wal Murobbiyyat Lit Tawjihil Banin Wal Banat (Petunjuk Praktis Bagi Para Pendidik Muslim) oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, yang diterjemahkan oleh Ustadz Ahmas Faiz terbitan Pustaka Istiqomah, tahun 1997. Atau buku yang belum lama ini terbit berjudul "Begini seharusnya menjadi Guru" karya syaikh Fuad terbitan Darul Haq Jakarta (Mudah-mudahan Al Akh Abu Isa Hasan Cilandak mau membuat resensi buku ini di milis). Namun sekali lagi dunia pengajaran adalah dunia praktek dan teknis, artinya tidak berhenti kepada teori di atas kertas saja. Saran lain, jika memungkinkan undang ustadz-ustadz salafy untuk memberikan dauroh di kota anda tentang pendidikan anak sekaligus sosialisasikan metode Sekolahrumah ini kepada saudara-saudara kita yang lain dan ajak mereka untuk menjalankan bersama-sama. Selain itu adakan program berbagi dengan komunitas Sekolahrumah Salafy di sekitar anda (jika anda sudah mempraktekkan Sekolahrumah) untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul sekaligus sharing tentang teknik pengajaran serta sharing bahan ajar. Hal ini akan banyak manfaatnya sehingga anak anda akan senantiasa di update dengan teknik pengajaran serta bahan ajar terkini.Wallohu a’lam. Mendidik anak memang perlu banyak persiapan dan pengorbanan namun jangan khawatir pahalanyapun besar dan akan senantiasa mengalir walaupun kita sudah meninggal dunia jika anak kita menjadi anak yang sholih. Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk mencetak anak sholih dan sholihah.

Mudah-mudahan sedikit masukan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Ana berharap antum semua dapat membangun sekolah-sekolah salafy berbasis rumah dan keluarga di daerah antum sendiri. Billahit tawfiq wal hidayah.

Sumber gambar: http://cheeqarahmat.wordpress.com






Continue reading →